Incar Anak-Anak SMA untuk Diajak Kencan

Menelisik Maraknya Komunitas Gay di Kota Semarang

7976

Fenomena sosial terselubung, Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT), ternyata tumbuh subur di negeri religius seperti Indonesia, termasuk di Kota Semarang. Mereka menyebut ini hak orientasi seks sesama jenis (bukan kelainan), meski berbeda dengan orientasi seks masyarakat pada umumnya.

PERGERAKAN kelompok minoritas LGBT ini untuk mendapatkan hak hidup di tengah masyarakat, masih terus diperjuangkan. Alasan mendasar atas Hak Asasi Manusia (HAM), membuat sebagian kelompok masyarakat membela hak orientasi seks kaum LGBT ini. Meski demikian, gelombang penolakan dari kelompok mayoritas pun tak kalah kencang. Sebab keberadaan kaum LGBT itu dinilai bertentangan dengan ajaran agama mayoritas dan norma budaya ketimuran.

Kalau pembela HAM memperjuangkan bahwa kaum LGBT memiliki hak untuk hidup, tanpa membedakan soal orientasi seksualnya di tengah masyarakat, maka kelompok mayoritas pun menilai memiliki Hak Asasi Manusia untuk menolak. Hingga kini, perdebatan sengit atas fenomena LGBT ini tak pernah menemukan titik temu.

Sedangkan pertumbuhan kaum LGBT di setiap perkotaan kian tumbuh subur secara terselubung. Bahkan perkembangannya sekarang, sebagian anggota komunitas LGBT sudah tak malu lagi memberikan pengakuan secara tersebuka atas orientasi seks LGBT tersebut. Terutama melalui akun maupun grup jejaring sosial, seperti Facebook maupun WhatsApp (WA). Bahkan, mereka tak malu lagi memasang foto mesra sesama jenis.

Ironisnya, arus pertumbuhan komunitas LGBT ini terindikasi telah merangsek masuk ke kampus-kampus di Kota Semarang. Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Semarang, kelompok LGBT ini memiliki jejaring sosial berbentuk grup basis kampus. Beberapa kampus yang namanya disebut oleh komunitas ini di antaranya Grup Gay Unnes (1.267 anggota), Gay Undip Tembalang (840 anggota), Gay Unissula (352 anggota), Gay UIN Semarang (88 anggota).

Grup-grup tersebut disetting secara tertutup dan memiliki aturan atau Standar Operasional Prosedur (SOP) secara ketat. Sedangkan untuk grup kategori umum yakni Brondong Semarang (7.046 anggota), Gay Semarang Setia (744 anggota), dan Rumah Pelangi Indonesia (RPI) yang diketuai oleh mahasiswa Universitas Semarang (USM).

Menurut sumber yang enggan disebut namanya, RPI ini berdiri sejak 17 Mei 2009, mereka merupakan kelompok aktivis grup pendukung dan berperan melakukan pendampingan, penyedia informasi, dan shelter bagi komunitas LGBT yang beranggota kurang lebih 7.000 orang di akun media sosial.

Secara khusus, RPI menampung anggota anak muda dengan kisaran usia 15-25 tahun. Mereka memiliki agenda rutin dengan menggelar kegiatan charity secara positif di tengah-tengah masyarakat. Misalnya di acara Car Free Day (CFD) di kawasan Simpang Lima Semarang.

Mereka memang bukan komunitas kampus, tetapi memiliki jaringan mahasiswa lintas kampus. Bahkan RPI juga kerap diundang untuk menjadi narasumber diskusi ilmiah bertema LGBT. Bahkan hampir semua kampus besar di Kota Semarang seperti Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Semarang (USM), Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata, hingga Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, pernah menggelar diskusi LGBT.

Sebab hampir di setiap kampus besar memiliki kelompok Support Group and Research Center (SGRC) untuk LGBT ini, meski tidak mencantumkan nama perguruan tinggi tersebut. Namun demikian, beberapa agenda diskusi yang mereka lakukan tak jarang mendapatkan penolakan. Isu LGBT ini sebenarnya telah menggeliat sejak lama. Bahkan komunitas mahasiswa di UIN Walisongo (dulu IAIN Walisongo) pernah menerbitkan buku yang memancing kontroversial berjudul Indahnya Kawin Sesama Jenis: Demokratisasi dan Perlindungan Hak-hak Kaum Homoseksual,diterbitkan eLSA, 2005.

Komunitas LGBT ini terstruktur, baik lintas kampus maupun lintas kota, bahkan memiliki jaringan dengan komunitas LGBT lintas negara. Salah satu komunitas besar kategori umum di Kota Semarang adalah Semarang Gaya Community (SGC). Ini komunitas independen yang resmi didirikan pada 16 Juni 2009 silam. Telah memiliki akte notaris, bernomor akte 37/2009/IV bertanggal 23  Juni 2009.“Sedikitnya ada 2.000 populasi Gay dan Lelaki Suka Lelaki (LSL) terlibat dalam komunitas ini. Kami selalu melakukan kegiatan positif, mengenai pencegahan, penanggulangan dan pendampingan penderita HIV dan AIDS,” kata salah satu pengurus SGC, Bang JS.

Organisasi ini juga bekerjasama dengan lembaga donor Global Found (GF) sebagai implementing unit bersama SSRYayasan Graha Mitra Semarang dalam penanggulangan HIV dan AIDS di kelompok Gay dan LSL di wilayah di Jateng.

“Di dalam komunitas ini anggotanya berasal dari bagai macam latar belakang profesi. Dosen, pengacara, anggota polisi, anggota TNI, pejabat pemerintah, dokter, hingga pengusaha ternama. Ada semua, tetapi untuk mengakui bahwa dirinya gay itu masih terbilang sangat sedikit,” katanya.

Dari jumlah populasi 2.500, kata Bang JS, rata-rata masuk kategori biseksual. Biseksual artinya, mereka juga memiliki istri perempuan di rumah, tetapi di luar rumah memiliki pacar lelaki. “Sedangkan seperempatnya adalah murni gay. Orang yang murni gay, biasanya berani terang-terangan mengakui kalau dirinya gay. Saya sendiri sudah memberi pengakuan kepada keluarga, dan keluarga saya mendukung,” katanya.

Menurut Bang JS, LGBT itu bukan kelainan seks, juga bukan gangguan kejiwaan. Tetapi LGBT merupakan orientasi seks yang berbeda dengan orientasi seks masyarakat pada umumnya. “Gay itu prinsip hidup. Gay itu pilihan. Pilihan hidup untuk memutuskan tidak menikah dengan perempuan. Gay tidak berbuat jahat, gay tidak merugikan orang lain dan gay tetap menghargai perbedaan pendapat. Gay termasuk warga negara Indonesia yang memiliki hak hidup. Lantas kenapa kami sering disalahkan?” katanya.

Lebih lanjut, kata dia, gay juga bukan sekadar gaya hidup untuk hura-hura dan bersenang-senang. Jika memang ada yang kebetulan dari kelompok gay dan melakukan tindakan kejahatan, maka itu merupakan perilaku pribadi seseorang tersebut. “Sama halnya si Fulan, agamanya Islam, lalu dia ditangkap karena mencuri. Maka ya jangan menyalahkan agamanya dong. Itu perilaku pribadi dan harus dipertanggungjawabkan oleh si Fulan,” terangnya.

Sama halnya, kejadian belakangan ini, soal pesta seks sekelompok orang dari kaum LGBT di Surabaya yang digerebek polisi. Menurutnya, itu merupakan perilaku beberapa orang yang terlibat dalam kejadian tersebut. “Justru komunitas kami melakukan kegiatan-kegiatan positif, termasuk melakukan pendampingan, konseling, kepada kaum LGBT agar memahami persoalan-persoalan maupun pemahaman hidup. Kami jelas tidak setuju dengan pesta seks. Umpama pesta seks itu bukan dari kalangan LGBT atau kaum mayoritas, ya sama saja tidak sesuai norma dan budaya timur,” katanya.

Dijelaskan Bang JS, klasifikasi seksualitas terbagi menjadi tiga kategori. Pertama, heteroseksualitas, yakni merupakan ketertarikan seksual orang yang berbeda jenis kelamin. Kedua, biseksual, yakni ketertarikan kepada kedua jenis kelamin baik kepada laki-laki maupun perempuan. Ketiga, homoseksual, yakni ketertarikan terhadap orang dari jenis kelamin yang sama. Homoseksual sendiri terbagi tiga, yakni gay, lesbian dan transgender.

Terpisah, arus LGBT di luar komunitas-komunitas tersebut tumbuh liar melalui akun jejaring sosial. Kebanyakan para pelaku LGBT ini menggunakan akun pribadi, seperti facebook, untuk membangun jejaring komunikasi sesama LGBT. Bahkan mereka mengincar anak lelaki setingkat SMA untuk diajak kencan dengan iming-iming uang booking. “Di daerah Gayamsari emang ada kos-kosan yang dihuni banyak kaum LGBT. Biasanya, kos tersebut dibuat kencan dengan pacar (lelaki),” kata salah satu pria gay, AR, saat ditemui oleh Jawa Pos Radar Semarang.

Dikatakan AR, selain di Gayamsari, salah satu tempat nongkrong yang sering digunakan untuk kopi darat adalah di kafe-kafe 24 jam. Termasuk di KFC Coffee 24 jam di Jalan Pandanaran Semarang. “Biasanya kami bertemu dini hari, ya ngobrol aja, cerita-cerita soal hidup. Teman-teman gay memang memiliki persaudaraan yang sangat kental,” katanya. (amu/ida)