TEKODEKO memiliki andalan kopi yang dinamai Kopi Akulturasi Semarang. Ada alasan dibalik penamaan tersebut. Dikatakan Rony, dirinya ingin menghadirkan ragam etnis dan budaya yang ada di Kota Semarang. Kopi Akulturasi Semarang ini terbagi menjadi 5 jenis yakni, Kopi Gendhis, Kopi Londho, Kopi Arab, Kopi Cheng Li, dan Kopi Kota Lama. Nah, pada kesempatan ini Jawa Pos Radar Semarang berkesempatan mencicipi 3 kopi terpopuler dari kelima kopi Akulturasi Semarang ini.

Rony mengaku, pengunjung yang datang ke Kafe Tekodeko umumnya memesan Kopi Arab, Kopi Gendhis dan Kopi Kota Lama. Lantas apa bedanya masing-masing kopi tersebut? Kata Rony, dasarnya tetap pada kopi pada umumnya seperti Caffe Latte atau lainnya. Tapi ada perbedaan di beberapa bahannya. “Munculnya jenis kopi-kopi ini, melalui proses trial and error, dengan tujuan smula ingin menghadirkan ragam budaya Kota Semarang melalui kopi,” ujarnya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (4/5) lalu.

Barista Tekodeko Koffiehuis, Lina, 19, menjelaskan kopi-kopi yang dibuatnya memiliki ciri khas masing-masing. Seperti Kopi Arab, ia menuturkan, perbedaannya terletak pada paduan rempah dengan kopi yang direbus bersamaan. Biji kopi yang digunakan adalah Java Mocha, namun pelanggan juga diperkenankan untuk mengganti jenis biji kopi lain yang disukai.

“Karena kopinya digiling, jadi gak masalah kalau ingin ganti biji kopinya. Rempah yang dipakai ada kapulaga, cengkeh, jahe, dan kayu manis sebagai pemanis di cangkirnya,” tambah gadis warga Citarum ini.

Lina mengatakan, waktu yang pas untuk menikmati Kopi Arab saat malam hari. Sebab, campuran jahe dan kapulaga memberikan sensasi hangat bagi penikmatnya. Dalam penyajiannya, Kopi Arab ini dilengkapi dengan camilan kecil berupa kue kurma sehingga menambah kesan Arab pada kopi tersebut.

Usai menyajikan kopi Arab, Lina melanjutkan dengan menggiling biji kopi untuk dibuat menjadi Kopi Gendhis. Meskipun secara umum pembuatannya mirip dengan Caffe Latte, namun tetap ada perbedaan besar. Yakni, dengan memadukan sirup gula Jawa serta topping burnt caramel di atasnya.

“Secara umum Kopi Gendhis itu ya Espresso dan susu yang sudah di-steam dulu. Tapi kami tambahkan sirup gula Jawa dan di atasnya dikasih gula Jawa trus dibakar. Jadi lebih manis tapi lembut,” bebernya.

Lina mengatakan, kopi ini cocok bagi mereka yang ingin minum kopi, namun tidak terlalu pahit. Sebab, selain telah tercampur dengan susu, kopi ini masih ditambahkan gula Jawa sehingga rasa kopinya tidak terlalu kuat, namun manisnya lembut. “Biasanya sih yang pesen (Kopi Gendhis) lebih banyak dingin, soalnya lebih seger. Kebanyakan yang pesan anak muda,” imbuhnya.

Sedangkan Kopi Kota Lama, kopi ini lebih mirip dengan kopi tubruk. Terlihat dari penyajiannya. Hanya saja, rasanya sedikit berbeda. Hal itu karena ada penambahan susu dan tergantung pada biji kopinya. “Kenapa dinamai Kopi Kota Lama? Karena yang 4 jenis kopi sudah menggunakan nama etnis yang ada di Semarang. Nah ini tuh semacam mengingatkan lagi, orang zaman dulu kalau minum kopi ya kopi tubruk. Makanya disebut Kopi Kota Lama,” katanya sambil tertawa. (tsa/ida)