Punya 700 Pelanggan, Ada Layanan Ojek Menemani

Mahasiswa UPGRIS Sukses Kelola Ko-Jek (Ekonomis Ojek)

874
KREATIF: Para pengelola Ko-Jek Semarang bersama pelanggan. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KREATIF: Para pengelola Ko-Jek Semarang bersama pelanggan. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Taji Arifma, mahasiswa Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) sukses mengeluti bisnis jasa ojek online bernama Ko-Jek atau Ekonomis Ojek. Jasa ojek online ini beroperasi di lingkungan kampus UPGRIS dan Kota Semarang. Seperti apa?

JOKO SUSANTO

KO-JEK didirikan Taji Arifma dibantu 3 sahabatnya, Kukuh Dwi Utomo, Dodi Yuwono, dan Fajar Adi Nugroho pada 1 November 2016 lalu. Meski baru sekitar 7 bulan beroperasi, Ko-Jek telah memiliki sedikitnya 700 pelanggan dari berbagai usia, serta 21 rider ojek motor dan driver Ko-Jek Trip (sewa mobil). Tak hanya mahasiswa UPGRIS, ada pula driver mahasiswa Universitas Semarang (USM), dan dua guru SMK Walisongo Semarang. Selain itu, ada dua rider wanita.

”Kami memang fokus seputar kampus dan Kota Semarang. Tapi kami juga pernah antar pelanggan dari Semarang ke Pati, tarifnya Rp 270 ribu. Kami juga pernah dipercaya mengantar dokumen ke Kementerian Perairan di Solo,” ujar Taji Arifma kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Taji menjelaskan, ide pendirian Ko-Jek berawal dari bisnis aksesori handphone yang dijalani kurang berkembang. Akhirnya, Taji mencari pelanggan melalui pesan antar yang dilakukannya mandiri. Selain itu,  banyak teman-temannya di kampus curhat mengenai mahalnya tarif taksi maupun ojek konvensional saat akan pulang kampung dari kos ke stasiun maupun ke terminal.

Nah, saat itulah muncul ide membuka jasa ojek dengan biaya murah. Hingga muncullah nama Ko-Jek atau Ekonomis Ojek. ”Pelanggan nggak usah khawatir, bayarnya tetap atau flat Rp 2 ribu per km, jadi bisa dicek dari Google Map untuk menghitung jarak tempuh yang dilalui,” jelas mahasiswa semester 8, program studi ekonomi UPGRIS ini.

Taji menjelaskan, tarif yang dibebankan kepada setiap konsumen sebesar Rp 2 ribu per km untuk ojek motor, dan Rp 4 ribu per km untuk Ko-Jek Trip. Adapun layanan yang ditawarkan, mulai mengantar penumpang, delivery makanan, kurir, sewa mobil atau minibus untuk wisata, hingga jasa antar jemput laundry. Ko-Jek juga memiliki layanan spesial, yakni, Ojek Mate atau ojek menemani.

Driver bisa bisa nemenin belanja, sekaligus membawakan belanjaan. Kita konsepnya juga fleksibel, tergantung request atau order pelanggan. Kalau Ojek Mate, pemesannya kebanyakan karyawan, tapi kadang kita seperti dianggap cowok sewaan sama teman-teman kampus. Tapi, ya nggak masalah, karena itu bagian dari pelayanan untuk pelanggan, toh kita nggak berbuat macem-macem,” ucapnya sambil tersenyum.

Sedangkan konsep pembagian pendapatan untuk rider maupun driver, lanjut Taji, 90 persen untuk mereka, dan hanya 10 persen yang diperuntukkan untuk kas. Uang kas ditarik setiap habis mendapatkan penumpang.  Uang kas ini untuk biaya promosi dan kebutuhan lainnya.

Taji mengaku, sempat akan memakai aplikasi layaknya Go-Jek. Namun batal dilakukan, lantaran banyak pelanggan saat disosialisasi tutorialnya keberatan. Padahal aplikasi tersebut sudah dipesan langsung dengan programmer di Jakarta dengan harga sekitar Rp 3 juta. ”Karena pelanggan keberatan, akhirnya konsep aplikasi dibatalkan,” katanya.

Saat ini, pemesanan Ko-Jek lewat pesan BlackBerry Messenger (BBM) di D23E410D atau SMS dan telepon 083842423854 dan WhatsApp 085777722633. Untuk kantornya sendiri berada di Jalan Banteng Utara Raya No 5 RT 3 RW 5, Pandean Lamper, Gayamsari.

”Konsep pengelolaan Ko-Jek masih pakai admin, yakni sekretaris dan operator. Tugasnya menangani keuangan kas, termasuk jadwal pelanggan yang langsung didistribusikan ke rider,” ungkapnya.

Diakui, awal menjalankan bisnis Ko-Jek modal awalnya hanya biaya pembuatan jaket. Setiap calon anggota yang ingin bergabung, diminta untuk membayar biaya administrasi Rp 150 ribu sebagai pengganti biaya pembuatan jaket.

Taji menjelaskan, Ko-Jek memberlakukan sistem blacklist bagi anggota apabila ketahuan curang. Seperti menarik tarif berlebihan, ataupun tidak melapor saat mendapat order. ”Sudah ada 1 rider yang kita blacklist. Kalau kinerja ndak bagus, juga kita keluarkan, termasuk jika lama ndak ada konfirmasi. Aturan itu sudah jadi kesepakatan bersama, wong paling sehari kerja minimal sekitar 2 jam saja,” katanya.

Bagian Operator Ko-Jek Semarang, Kukuh Dwi Utomo, menambahkan, bagi yang ingin bergabung menjadi rider, bisa langsung menghubungi admin, kemudian datang ke kantor untuk cek kelengkapan sepeda motor. Setelah itu, menjalani masa training selama 2 minggu. Kalau lolos, akan resmi menjadi rider dan diberikan jaket.

”Diutamakan yang masih sekolah SMA ataupun kuliah, serta guru muda. Punya HP yang memiliki aplikasi WhatsApp ataupun BBM. Punya SIM dan STNK, serta sepeda motor layak pakai. Juga melampirkan fotokopi KTP dan KTM. Kalau sudah resmi jadi rider, nanti dikasih jaket,” bebernya.

Kukuh mengaku, 7 bulan menekuni Ko-Jek, pernah ditipu oleh pelanggan baru. Ketika diminta mengantar kiriman ataupun makanan, ternyata setelah dicek alamatnya tidak ada. Ia mengaku sudah 3 kali dibohongi pelanggan baru dengan modus demikian. Karena itu, pihaknya memaksimalkan data pelanggan secara benar dan bisa dipercaya.

Selain Ko-Jek motor, lanjut Kukuh, pihaknya juga melayani  Ko-Jek Trip, atau layanan sewa mobil berikut drivernya. Untuk tarif driver Rp 150 ribu per 24 jam. Sedangkan biaya mobilnya berbeda, tergantung destinasi wisata yang akan dituju. ”Misalnya, liburan ke Jogja selama 2 hari, biayanya Rp 950 ribu. Itu sudah termasuk biaya bensin dan driver plus bonus dokumentasi foto-foto ataupun video,” jelasnya.

Taji menambahkan, dalam sebulan rata-rata pendapatan setiap rider bisa sampai Rp 2,5 juta. Sedangkan untuk manajemen Ko-Jek, hasil uang kas minimal Rp 800 ribu dan maksimal‎ Rp 2,7 juta per bulan.

Menurutnya, banyak keunggulan dari Ko-Jek. Di antaranya, order bisa lebih fleksibel, rider maupun driver masih muda-muda, karena masih kuliah dan guru muda. Diakui dari 700-an pelanggan tersebut, paling banyak berdomisili di kawasan Tugu Muda, Pedurungan dan Semarang Timur.

”Untuk rider maupun driver memang belum ada reward, tapi ada ranking. Kita beri penghargaan dalam bentuk piagam online. Tujuannya memotivasi yang lain, agar bisa menggaet banyak pelanggan, toh uangnya untuk mereka,” ujarnya. (*/aro/ce1)