Identifikasi Jalur Rempah Nusantara

688

SEMARANG – Saat ini, tercatat 12 situs aktivitas perdagangan masa lampau secara global di Indonesia yang diperkirakan memiliki keterkaitan sejarah. Kebijakan dari tren pengusulan warisan dunia UNESCO mengarahkan negara untuk melakukan identifikasi lintas kawasan tersebut. Salah satunya jalur rempah nusantara di Kota Lama Semarang.

Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) saat ini berinisiatif untuk melakukan upaya identifikasi potensi jalur rempah di nusantara untuk pengusulan warisan dunia UNESCO.

”Kota Lama Semarang menjadi bagian dari jalur rempah masa lalu yang akan diusulkan menjadi salah satu warisan dunia UNESCO,” kata Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid, dalam seminar Kota Pusaka dalam Jalur Rempah di Balai Kota Semarang, kemarin.

Dikatakannya, pihaknya masih melakukan identifikasi potensi jalur rempah di nusantara untuk pengusulan warisan dunia. Saat ini, daftar sementara warisan dunia di Indonesia masih terbatas pada pengusulan terhadap monumen dan situs dalam satu lingkup tempat.

”Sedangkan kebijakan dari tren pengusulan warisan dunia UNESCO adalah mengarahkan negara untuk melakukan identifikasi yang sifatnya lintas kawasan,” ungkapnya.

Dasarnya, kata dia, budaya masa lalu tidak terikat pada suatu batas administrasi mengingkat pada konteks masa kini. Pengusulan berbasis serial ini, lanjutnya, memiliki kekuatan yang memperkuat pemahaman identitas kawasan dalam satu benang merah di masa lalu. ”Dalam konteks pengusulan jalur rempah, kategori lintas kawasan disebut sebagai rute budaya,” terangnya.

Sebab, kata dia, saat ini di Indonesia memiliki 12 situs yang masuk dalam daftar sementara warisan dunia UNESCO. Sebagian besar situs tersebut diwakili oleh kawasan pelabuhan.

”Kesemuanya memiliki kaitan erat dengan aktivitas perdagangan skala global. Misalnya, Kota Tua Jakarta (Bekas Batavia), Kota Lama Semarang, lainnya di Ternate hingga Aceh. Itu semua memiliki keterikatan sejarah,” katanya.

Menurutnya, tantangan saat ini atas pengusulan jalur rempah adalah berkaitan dengan data. Namun demikian, sebenarnya data jalur rempah tersebut sudah ada di masing-masing daerah. Tetapi sejauh ini memang belum bisa mempertemukan setiap daerah untuk membicarakan hal ini. ”Setiap daerah juga belum menyamakan tujuan yang sama. Tapi, hal itu akan bisa diatasi jika setiap daerah yang masuk dalam daftar jalur rempah itu telah bersama-sama. Kalau menandai kawasan tidak sulit, tapi menandai komitmen dari daerah juga menjadi tantangan,” bebernya.

Dia menyampaikan terima kasih kepada Kota Semarang, karena bersedia menjadi pusat kegiatan ini. Nantinya, pertemuan-pertemuan dilakukan di Semarang. ”Mudah-mudahan akhir tahun ini sudah selesai dan ada gambaran seperti apa,” katanya.

Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, mengatakan, adanya historikal jalur rempah akan menguatkan keberadaan kota-kota tua di Indonesia. Khususnya Kota Lama Semarang di mata dunia. ”Memang harus membuat story telling, itu yang paling penting. Kalau hanya sebuah bangunan tanpa ada historisnya seperti apa, maka orang tidak akan datang ke Kota Lama,” ujarnya.

Dikatakannya, Kota Lama merupakan salah satu kota pelabuhan dan kota perdagangan. Hal itu dibuktikan dengan adanya gedung-gedung bangunan sebagai gudang perdagangan, seperti Gedung Oudetrap, yang sebelumnya merupakan gudang rempah, termasuk Gambir dan Indogo. ”Di Kota Semarang ada pelabuhan, kemudian gudang-gudang pedagangan dan lainnya,” imbuh dia.

Upaya identifikasi jalur rempah akan sangat mendukung upaya dari Pemerintah Kota Semarang untuk mengusulkan Kota Lama Semarang menjadi warisan dunia UNESCO. ”Ini agar bisa berjalan paralel. Tahun 2018 ditargetkan dossier (catatan/dokumen) harus bisa selesai. Sehingga jalur rempah bisa menjadi salah satu center point-nya,” katanya. (amu/aro/ce1)