MUNGKID—Sidang kasus pembunuhan terhadap Kresna Wahyu Nurahmad, 15, oleh terdakwa AMR, 16, sesama pelajar SMA Taruna Nusantara, telah divonis oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Magelang, kemarin. Hakim menjatuhkan hukuman sembilan tahun penjara.

Putusan itu lebih ringan satu tahun dibandingkan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Pada sidang sebelumnya, JPU meminta majelis hakim untuk menjatuhkan hukuman 10 tahun penjara.

Namun, Ketua Majelis Hakim Aris Gunawan berpikir berbeda. Meski sama-sama menerapkan pasal pembunuhan berencana 340 KUHP, sesuai dakwaan primer kedua, pihaknya memilih menjatuhkan hukuman lebih ringan.

”Menjatuhkan terdakwa dengan hukuman penjara sembilan tahun, dikurangi masa tahanan,” kata Aris dalam sidang yang digelar terbuka terbatas itu. Terdakwa tidak dihadirkan dalam sidang kali ini.

Hakim memberikan pertimbangan yang meringankan. Antara lain, pelaku kooperatif selama sidang, belum pernah dihukum, dan masih berstatus anak. Pertimbangan yang memberatkan, terdakwa melakukan pembunuhan dengan sadis.

Menanggapi putusan hakim, penasihat hukum terdakwa, Sofyan Kasim, mengatakan masih akan melakukan kajian. Pihaknya belum memutuskan akan melakukan banding atau tidak. ”Kami tentu akan pikir pikir dulu atas putusan ini dan akan musyawarah dengan pihak keluarga AMR.”

Hanya saja, dia mengaku tidak setuju dengan vonis pembunuhan berencana. “Kami kurang setuju dengan pernyataan hakim soal kasus pembunuhan ini berencana. Karena kami anggap ini murni pembunuhan, bukan direncanakan dan motifnya karena kesal terhadap korban.”

Ketua Tim JPU, Eko Hening Wardono, menegaskan, pihaknya akan pikir-pikir soal putusan hakim. “Nanti akan kami pikir-pikir dalam tim, apakah menerima putusan hakim dan nanti menunggu juga dari penasihat hukum.”

Ibu Korban Belum Mau Bertemu Keluarga Pelaku

Terpisah, keluarga korban belum memenuhi permintaan pertemuan dengan pihak keluarga terdakwa AMR, 16. Khususnya, ibu korban.

Iskandar, paman pelaku meminta tolong kepada awak media untuk membantu menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga korban, pihak sekolah, dan seluruh elemen yang ikut merasakan dampak kasus ini.

“Kami belum bisa bertemu ibu korban, karena memang ibu korban belum mau bertemu. Namun sudah bertemu kakek nenek korban, di mana merekalah yang merawat korban sejak kecil. Tetapi, kita terus berupaya meminta maaf kepada keluarga korban akan kejadian ini,” kata Iskandar, seusai sidang.

Sebenarnya, keluarga korban dan pelaku bersahabat sejak lama. Ayah korban dan terdakwa, satu angkatan di Akmil tahun 1983. Sampai ayah mereka bertugas pun, mereka masih bersahabat.

“Semoga atas nama persahabatan ini, permohonan maaf kami bisa diterima. Keponakan saya juga sempat berbicara, seandainya harus masuk ke kuburan pun mau, asal dimaafkan ibu korban. Namun ibu korban masih shock akibat kejadian ini.” (vie/isk)