Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Bapak DR KH Ahmad Izzuddin, M Ag di Jawa Pos Radar Semarang yang saya hormati dan dimuliakan oleh Allah SWT. Saya ingin bertanya mengenai hukum Islam terkait dengan bab bersuci. Jika ada seseorang yang meninggal dalam keadaan junub atau haid bagaimana yang harus dilakukan oleh perawat jenazah? Dan apakah meninggal dalam keadaan junub atau haid merupakan pertanda yang kurang baik?

Demikian pertanyaan saya, terima kasih atas penjelasan dan jawaban bapak. Wassalamu’alaikum Warahmatullah.

Fiqhussunnah, di Ungaran 0895382974xxx

Jawaban

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Bapak M. Fiqhussunnah di Ungaran yang saya hormati dan juga dirahmati Allah SWT. Berbicara mengenai jasad orang yang telah meninggal dunia atau mayat, memang terdapat hak yang harus dipenuhi selain persoalan-persoalan yang menyangkut hak adamy. Yakni mengafani, menyalati dan menguburkan mayat. Orang yang ditinggalkan wajib hukumnya melaksanakan hak-hak mayit sebagaimana disebut di atas.

Dalam memandikan mayat yang meninggal dalam kondisi junub atau haid, cukup dilakukan sekali sebagaimana memandikan jenazah pada umumnya. Status mandi jenazah sudah dianggap menutupi kewajiban mandi karena sebab junub atau haid.

Menurut pendapat mazhab Syafiiyah, orang yang junub atau wanita haid yang meninggal cukup dimandikan sekali. Ini merupakan pendapat seluruh ulama, kecuali Hasan al-Bashri, yang berpendapat: ’Dia dimandikan dua kali’. Ibnul Mundzir mengomentari pendapat ini: ’Tidak ada yang berpendapat demikian, selain Hasan al-Bashri (An-Nawawi, Majmu 5:123)

Seperti halnya orang yang masih hidup, ketika melakukan 2 sebab mandi, misalnya mandi junub dan jumuah, maka cukup dilakukan mandi besar sekali saja. Kemudian perlu diketahui, orang yang meninggal dalam kondisi haid tidaklah menunjukkan bahwa ia adalah orang yang buruk atau meninggal dalam keadaan suul khotimah. Demikian pula orang yang meninggal karena junub, selama junub yang dia alami terjadi karena sebab yang mubah, seperti hubungan badan dengan istri atau mimpi basah.

Pada masa Rasulullah SAW, ada sahabat yang digelari ’ghasilul malaika‘ atau orang yang jasadnya dimandikan malaikat. Beliau adalah sahabat Handzalah bin Rahib RA. Dalam kisahnya, sebagaimana diriwayatkan Ibnu Ishaq dan lainnya, Handzalah berangkat berjihad, mengikuti perang Uhud dalam kondisi junub, karena berhubungan dengan istrinya. Ketika jenazahnya dicari para sahabat di medan Uhud, mereka tidak menjumpainya. Kemudian Nabi SAW memberi tahu, jenazahnya dimandikan malaikat.

Hal yang sama juga dialami oleh Hamzah bin Abdul Muthalib RA, paman Rasulullah SAW yang syahid di Medan Uhud. Diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibnu Abbas RA ”Bahwa Hamzah radhiyallahu ’anhu mati syahid dalam kondisi junub”

Demikian jawaban yang dapat saya sampaikan semoga ada manfaatnya dan barokah. Amin. Wallahu a’lam bishshowab. (*/ric/ce1)