HIKMAH : KH Mustofa Bisri atau biasa disapa Gus Mus saat memberikan ceramah di acara Haul Kiai Wildan, Rabu malam (3/5) kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
HIKMAH : KH Mustofa Bisri atau biasa disapa Gus Mus saat memberikan ceramah di acara Haul Kiai Wildan, Rabu malam (3/5) kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KENDAL—Dakwah sekarang ini, sudah mulai kehilangan ruh sebagai media untuk mengajak kebaikan. Sebaliknya, dakwah sekarang ini lebih banyak mencaci, menghina, mencap kafir dan sebagainya. Jadi, wajar jika sekarang ini banyak terjadi perpecahan umat Islam karena tidak memahami semangat dakwah.

Demikian dikatakan KH Mustofa Bisri saat memberikan ceramah pada acara haul KH M Wildan Abdulchamid, KH Abdulchamid, dan KH Ahmad Abdulchamid serta Khataman Kitab Bulughul Maram. Ulama yang akrab disapa Gus Mus itu mengakui, tren umat Islam di Indonesia cenderung menurun. Karena umat Islam kebanyakan mendakwahkan Islam dengan cara paksaan.

“Artinya jika tidak sependapat, kemudian dicap sebagai kafir, bid’ah. Padahal Nabi Muhammad SAW ketika berdakwah selalu mencontohkan menggunakan kasih sayang dan kedamaian,” tuturnya, Rabu malam (3/5) kemarin.

Selain itu, sekarang ini banyak orang yang tidak tahu ilmu agama, tapi mengaku-aku sebagai seorang ulama, kiai, bahkan ustadz. Padahal gelar ustadz di negeri Arab sana adalah julukan seorang profesor yang sudah bisa menciptakan kitab atau temuan baru.

“Tapi di Indonesia, guru ngaji biasa, baru khatam Quran sudah disebut ustadz. Pun sebutan kiai, sangat banyak. Karena kiai ini paling mudah ditiru lantaran tidak perlu ijazah atau sertifikat untuk menjadi kiai,” katanya.

Alhasil, karena di Indonesia ini banyak orang Islam yang awam sehingga banyak yang bisa dibodohi. “Memberikan atau menafsirkan quran dan hadits ya seenaknya. Inilah dakwah yang berbahaya yakni sesat dan menyesatkan,” tuturnya.

Makanya, menurut hemat Gus Mus, jika ada orang yang mengaku-aku kiai, telisiklah lebih dulu. Mulai dari track record-nya ilmu yang didapat.  Mulai mengaji di pesantren mana, kiai atau gurunya siapa. “Jadi jangan mudah percaya begitu saja,” tambahnya.

Acara haul tersebut dihadiri ribuan warga Kendal dan sekitarnya. Mohammad Farid Fath, putra bungus Kiai Wildan alm mengatakan terima kasih atas kehadiran warga yang telah ikut mendoakan ayahnya.

Gus Farid menambahkan, sang ayah meninggal pada Kamis 9 Juni 2016 dalam usia 83 tahun. Kiai Wildan lahir dari pasangan KH Abdulchamid dan Nyai Rochmah di Desa Pegulon, Kendal pada 17 November 1934. Dia merupakan putra bungsu dari delapan bersaudara, yaitu KH Achmad Abdulchamid, Muchammad, Makmun, Umamah, Mariyam, Muchammad Anas, Aminah, dan KH M Wildan Abdulchamid.

Pada saat Wildan lahir, ayahnya sudah meninggal dunia, sehingga Wildan kecil tinggal bersama sang umi. Dua belas tahun kemudian giliran sang umi yang meninggal dunia. Setelah Wildan menginjak usia remaja, ia diantar oleh kakak kandungnya (KH Achmad Abdulchamid) nyantri di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri yang diasuh oleh KH Machrus Ali.

Karena tidak kerasan, Wildan pindah ke Demak. Di Pondok Pesantren al- Fattah Demak, asuhan Kiai Abdullah Zaini bin Uzair, Wildan juga tidak kerasan, akhirnya ia diantar oleh kakaknya mondok di Pesantren Raudlatul Tholibin di Desa Leteh Rembang yang diasuh oleh KH Bisri Musthofa (ayah kandung KH Mustofa Bisri yang sering disapa Gus Mus). Wildan merupakan santri kesayangan KH Bisri Musthofa, sekaligus ia diamanati sebagai lurah pondok. Sepulang dari pondok, Wildan dinikahkan dengan perempuan asal Semarang bernama Faizah (putri dari pasangan Abdul Qodir dan Choiriyah) pada 21 November 1966 dan dikaruniai delapan orang anak yang bernama Wachidah Ghodif Wildan, Rochmah Wildan, Fauziyah Wildan, Robiatul Adawiyah Wildan, Nur Azizah Wildan, Atikah Wildan, Nihayah Wildan, dan Mohammad Farid Fad Wildan. (bud/ida)