ASAH BAKAT: Anak-anak Teater DOM’S SMP Domenico Savio Semarang saat bermain pantomim di Kota Lama baru-baru ini. (Zaenuri/Jawa Pos Radar Semarang)
ASAH BAKAT: Anak-anak Teater DOM’S SMP Domenico Savio Semarang saat bermain pantomim di Kota Lama baru-baru ini. (Zaenuri/Jawa Pos Radar Semarang)

SEMARANG – Kritik sosial tak melulu diekspresikan melalui bahasa verbal, namun juga bisa dilakukan dengan cara berbeda yakni dengan menggunakan bahasa tubuh, melalui mimik dan isyarat sebagai cara berinteraksi. Hal Itu yang dilakukan anak-anak teater DOM’S SMP Domenico Savio Semarang saat menyuarakan kepedulian terhadap fenomena kehidupan  di jalanan masa kini, melalui pertunjukan Pantomim di sekitar Taman Srigunting kawasan Kota Lama Semarang, baru-baru ini.

Pertunjukan dibagi dalam beberapa kelompok,  di mana tiap-tiap kelompok menyampaikan cerita yang mengandung pesan-pesan berbeda. Seperti salah satu adegan menampilkan cerita tentang fenomena ketidakdispilinan berlalu lintas dengan mengendarai kendaraan bermotor secara ugal-ugalan. Ada pula  cerita yang tentang kepedulian terhadap sesama  dengan menolong orang yang sedang membutuhkan di jalanan.

Kepala SMP Domenico Savio Semarang, Albertus Suwarto FIC mengatakan, melalui seni pantomim ini  bisa membuka afeksi dan kepekaan anak-anak terhadap sesama di lingkungan sekitarnya, selain itu juga belajar mengekspresikan diri serta mengembangkan bakat dan minat yang dimiliki.

”Yang tak kalah penting adalah pengalaman mengekspresikan ide gagasan harapan dan cita-cita,” katanya.

Salah satu pembina Teater DOM’S SMP Domencio Savio Semarang, Antonius Wiranto Adi menambahkan, keseriusan dan antusiasme anak-anak DOM’S dalam bermain pantomim menjadi modal untuk semakin  menggairahkan  dan menghidupkan  seni  pantomim  di Kota Semarang yang dirasa masih kurang semarak apabila dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya, seperti Jogjakarta. (zen/sct/zal/ce1)