SENAM: Anggota Tim Penggerak PKK Dusun Kauman Desa Menggoro Kecamatan Tembarak unjuk kebolehan senam KB dalam pencanangan Kampung KB Goro Kencono di Gedung Graha Sakti Prja Desa Menggoro, Rabu (3/5). (AHSAN FAUZI/JAWA POS RADAR Kedu)
SENAM: Anggota Tim Penggerak PKK Dusun Kauman Desa Menggoro Kecamatan Tembarak unjuk kebolehan senam KB dalam pencanangan Kampung KB Goro Kencono di Gedung Graha Sakti Prja Desa Menggoro, Rabu (3/5). (AHSAN FAUZI/JAWA POS RADAR Kedu)

WONOSOBO–Komoditas kopi saat ini banyak diburu. Terutama kopi-kopi berkualitas tinggi, salah satunya yang berasal dari Wonosobo. Tapi geliat bisnis kopi ternyata belum mampu menyejahterakan petani kopi.

Pemilik Kedai Poetik di Selomerto, Edi Riyanto mengungkap, rata-rata petani kopi belum sejahtera. Kalaupun di desa ada orang kaya karena kopi, itu bukan petani. Melainkan pengolah maupun tengkulak kopi. “Masa depan kopi bagus. Sangat menjanjikan. Cuma kalau ditanya, petani kopi sejahtera atau tidak, saya pikir belum. Masih butuh advokasi lintas sektor,” katanya belum lama ini.

Wonosobo, kata dia, memiliki kopi dengan kualitas sangat baik. Tidak kalah dengan kopi-kopi negara maju seperti Brazil, Vietnam maupun Kolombia. Hanya saja kalau berbicara komitmen untuk memajukan kopi lokal, Wonosobo masih sangat jauh tertinggal. Di negara tersebut, pemerintah terlibat sangat serius memajukan kopi di negaranya. Seperti menyubsidi petani saat masa tanam dan pemeliharaan. Petani diberi alat pengering sehingga tidak tergantung dengan matahari dan sebagainya.

“Beda kalau di sini. Pemberdayaan yang dilakukan masih sebatas seremonial administratif,” ucap laki-laki yang sudah malang melintang di birokrasi pemerintah daerah itu.

Selain itu, hadirnya produk kopi harus menyejahterakan semua unsur yang terlibat. Mulai dari petani, pengolah, pemilik kafe hingga pemerintahannya. Jika tidak terjadi pemerataan kesejahteraan di bisnis kopi akan sulit berkembang.

Dicontohkan, jika petani tidak merasa diuntungkan, dipastikan pemeliharaan kopi akan asal-asalan. Pola petik yang tidak menunggu sampai matang hinga pola pemupukan yang asal-asalan.

“Padahal enak atau tidaknya kopi, 60 persen disumbang petani sebagai penghasil. Kalau asal, pasti kualitasnya turun,” jelasnya. (cr2/ton)