SEMARANG – Akibat kedapatan membawa narkoba jenis sabu-sabu seberat 0,55 gram, oknum polisi yang bertugas di Polsek Semarang Timur, Bripda Teguh Armaeyanto harus duduk di kursi pesakitan. Atas kasus tersebut, majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Semarang menjatuhkan pidana denda sebesar Rp 1 miliar, hanya saja subsider dendanya cuma selama satu bulan kurungan.

Selain pidana denda, anggota polisi yang sedang menjalani sidang disersi tersebut, juga dijatuhi hukuman 4 tahun penjara. ”Terdakwa Teguh Armaeyanto dijatuhi pidana selama empat tahun penjara, dikurangi masa penahanan yang telah dijalani terdakwa,” kata hakim Pujdo Hunggul, Rabu (3/4).

Vonis tersebut lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU), yang menuntut terdakwa dengan hukuman enam tahun penjara. Dalam perkara itu, Bripda Teguh ditangkap petugas Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Jawa Tengah karena membawa sabu.

Mantan anggota Unit Samapta Bhayangkara (Sabhara) Polsek Gayamsari Semarang itu ditangkap pada Selasa (10/1) lalu di Jalan Veteran, Kota Semarang. Saat ditangkap, Bripda Teguh sedang membawa sabu-sabu seberat 0,55 gram.

Atas vonis tersebut, terdakwa langsung menyatakan menerima. Hal itu disampaikan penasihat hukum terdakwa, Andi Dwi Oktavian. ”Kami menerima putusan dan tidak akan mengajukan banding,” kata Andi singkat.

Menanggapi vonis tersebut, anggota DPP Gerakan Nasional Anti Narkotika (GRANAT), Lidia Siska Rini menganggap pidana denda yang dijatuhkan majelis hakim kurang tegas. Menurutnya dalam kasus tersebut terdakwa Bripda Teguh Armaeyanto merupakan penegak hukum, sehingga seharusnya pidana dendanya untuk subsider penggantinya tidak 1 bulan kurungan, melainkan 1 tahun kurungan. Melihat vonis tersebut, ia menganggap hakim tidak memberikan efek jera, khususnya di kalangan penegak hukum dan pengedar.

”Untuk memberantas narkoba perlu peran semua pihak, tapi kalau vonisnya kurang tegas bagi penegak hukum, bisa-bisa pelaku dan pengedar semakin merajalela. Kalau namanya penegak hukum bisa bermain, patut diduga jaringannya juga kuat, kami minta Polda telusuri dengan maksimal jaringan itu,” kata Lidia. (jks/zal/ce1)