Tuntut Pabrik Pakan Ayam Ditutup

Ratusan Warga Geruduk DPRD Brebes

1978
UNJUK RASA : Ratusan warga dari Desa Bangsri, Bulakamba, Brebes melakukan demonstrasi menuntut pabrik pakan ayam ditutup, Selasa (2/5) kemarin. (DEDI SULASTRO/RADAR BREBES)
UNJUK RASA : Ratusan warga dari Desa Bangsri, Bulakamba, Brebes melakukan demonstrasi menuntut pabrik pakan ayam ditutup, Selasa (2/5) kemarin. (DEDI SULASTRO/RADAR BREBES)

BREBES–Ratusan warga Desa Bangsri, Kecamatan Bulakamba, mendatangi gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Brebes, Selasa (2/5) kemarin. Mereka menuntut penutupan pabrik pakan dan bibit ayam di desanya. Lantaran, keberadaan pabrik dianggap telah menyebabkan pencemaran lingkungan permukiman warga.

Dari pantuan waratwan koran ini, ratusan warga tersebut mendatangi gedung wakil rakyat sekitar pukul 10.00. Mereka datang dengan mengendarai sejumlah mobil bak terbuka dan puluhan sepeda motor. Sebelumnya, warga sempat melakukan orasi di depan pabrik pakan ayam di Jalan Pantura Desa Bangsri, Kecamatan Bulakamba. Kemudian, mereka bergerak ke Kantor Bupati di Jalan Pangeran Diponogoro dan dilanjut ke DPRD setempat. Di gedung DPRD, mereka berorasi menuntut pabrik pakan ayam yang berdiri sekitar 2012 itu untuk ditutup.

Usai berorasi, perwakilan warga ditemui Komisi III DPRD dan sejumlah pejabat terkait di Pemkab Brebes. Di antaranya, Asisten II Sekda Pemkab Brebes Moh Iqbal dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Sampah Pemkab Brebes Edi Kusmartono.

Kuasa hukum pendemo, Bahrain mengatakan bahwa tuntutan warga hanya satu, yakni tutup pabrik pakan ayam tersebut. Sebab, limbahnya telah berdampak kepada warga. Akibat limbah yang dibuang ke sungai, hasil panen padi warga dan debit air sungai turun. Kemudian, jika hujan sering terjadi banjir. ”Akibat pabrik itu, hak masyarakat dalam mendapatkan hidup sehat menjadi kurang. Jadi kami minta pabrik itu ditutup,” tandasnya.

Dia menambahkan, warga sebelumnya juga sempat mengajukan surat pengaduan ke pusat. Dari surat pengaduan itu, Kementerian Lingkungan Hidup memberikan surat rekomendasi agar masalah di pabrik pakan diminta memperbaiki sistem pengolahan limbahnya. Selain itu, pabrik juga diminta merevisi dokumen lingkungan, mengajukan izin terkait pembuangan air limbah ke badan sungai serta perbaikan penanganan ayam mati. ”Kami harap pemkab segera mencari solusi atas kejadian ini. Sudah jelas pembuangan limbah ke sungai tidak ada izinnya,” ujarnya.

Dia menambahkan, jika tuntutan penutupan pabrik tidak dipenuhi, warga menyatakan siap mengambil langkah hukum. Warga akan siap menggugat atas persoalan tersebut, baik gugatan ke Pemkab Brebes dan pabrik bersangkutan.

Sementara itu, Wempi S Pane, perwakilan dari PT Charoen Pokpan, selaku pemilik pabrik pakan ayam menjelaskan bahwa perusahaannya tidak masalah dengan tuntutan warga. Meski demikian, pihaknya juga akan mengajukan regulasi kepada pemerintah. Artinya, jika harus dilakukan perbaikan terhadap sistem pengolahan limbah, pihaknya akan melakukan perbaikan tersebut. Sebab, pabriknya tidak pernah tertutup. ”Kita akan terbuka. Nantikan ada perwakilan dari pemerintah dan DPRD serta warga untuk datang ke pabrik. Jadi silakan, kita terbuka,” ujarnya.

Setelah ada keluhan adanya dampak lingkungan yang dirasakan warga akibat limbah pabrik pakan ayam di wiyalah tersebut, Pemkab dan DPRD Kabupaten Brebes segera mengecek ke lapangan. Selain itu, pemkab juga akan memperingatkan pabrik pakan ayam untuk segera melakukan perbaikan terhadap sistem pengolahan limbah sesuai rekomendasi yang dikeluarkan Kementerian Lingkungan Hidup. ”Kita akan turun ke lapangan. Jadi setelah adanya usul ini diharapkan semuanya bisa sesuai dengan aturan yang ada,” jelas Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Sampah Pemkab Brebes Edi Kusmartono.

Dia mengatakan, mengacu terhadap uji laboratorium yang telah dilaksanakan, apa yang dikeluhkan warga Bangsri terhadap pembuangan limbah pabrik pakan ayam itu masih dalam batas yang diperbolehkan undang-undang. Namun persoalannya, pemkab juga perlu segera memperingatkan pabrik pakan ayam itu untuk segera melakukan perbaikan pengelolaan limbahnya. Terutama, pada pengelolaan bangkai ayam yang mati. “Usul dari masyarakat nanti kita akan cek ke lapangan bersama anggota dewan. Terkait limbah yang dibuang ke sungai kita akan lakukan pemeriksaan di labolatorium,” pungkasnya. (ded/fat/jpg)