Tempat Usaha Pemotongan Ayam Resahkan Warga

2521
RESAH : Warga menunjukkan salah satu rumah yang dijadikan tempat pemotongan hewan di RT 12 RW 01 Kelurahan Ungaran, Kecamatan Ungaran Barat, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RESAH : Warga menunjukkan salah satu rumah yang dijadikan tempat pemotongan hewan di RT 12 RW 01 Kelurahan Ungaran, Kecamatan Ungaran Barat, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

UNGARAN–Keberadaan tempat pemotongan ayam UD Wijaya di lingkungan Kuncen Kelurahan Ungaran Kecamatan Ungaran Barat dipersoalkan warga setempat. Pasalnya limbah dari pemotongan tersebut menimbulkan bau yang menyengat.

Warga setempat, Yosi Abiyoso, 43, menuturkan jika keberadaan tempat pemotongan ayam tersebut sudah empat tahun lamanya. Sebelumnya, tempat yang juga dihuni oleh sang pemilik bernama Subiyanto tersebut merupakan penampungan ayam potong. “Warga di sini cuma mempersoalkan dampak lingkungan dari aktivitas pemotongan di tempat itu saja, bukan pemiliknya, namun usahanya,” ujar Yosi saat ditemui, Selasa (2/5) kemarin.

Yosi merupakan salah satu warga yang terdampak langsung dari aktivitas tersebut. Pasalnya, kediaman Yosi bersebalahan persis dengan lokasi pemotongan yaitu di RT 12 RW 01 yang setiap hari harus disuguhi bau limbah pemotongan ayam. “Dari pihak RT dan kelurahan juga sudah memberikan warning, namun yang punya masih bandel,” katanya.

Selain pengurus kelurahan setempat, warga sudah mengadukan persoalan tersebut ke pihak Satpol PP Kabupaten Semarang. “Apalagi tidak ada izin HO, jadi kami laporkan,” ujarnya.

Pelaporan warga ke pihak Satpol PP tersebut juga dilakukan melalui surat resmi. Tertanda tangan pihak kelurahan. “Bahkan pihak Satpol PP sudah memberikan SP (Surat Peringatan) 2,” katanya.

Dikatakan Yosi, saat diberikan SP 2 oleh Satpol PP pihak pemilik tempat pemotongan juga berjanji akan memindahkan aktivitasnya tersebut. “Namun sampai bertahun-tahun tidak ada kejelasan soal pindahnya kapan. Nah ini akan kami tanyakan kembali ke Satpol PP terkait kelanjutan SP 3 tersebut,” tuturnya.

Pihak warga mengaku resah dengan keberadaan tempat pemotongan ayam tersebut. “Baunya sangat menyengat, padahal kanan kiri merupakan rumah warga dan belakang pemotongan itu merupakan TPQ dan Musala,” ujarnya.

Dijelaskan Yosi, aktivitas pemotongan ayam biasanya dilakukan pada waktu jam istirahat warga. Yaitu pada tengah malam, tepatnya di atas pukul 00.00. Limbahnya sendiri dibuang langsung ke selokan yang bermuara ke selokan warga. “Dari Satpol PP juga sudah datang kesitu, dari Dinas Lingkungan Hidup sekitar 1 tahun lalu juga sudah mewarning. Karena untuk pemotong ayam tidak bisa disini, Pemkab Semarang sudah menyediakan tempat pemotongan sendiri,” katanya.

Sampai saat ini, warga masih menuntut kepada pemilik tempat pemotongan ayam tersebut untuk segera memindahkan aktivitas usahanya, karena sangat menganggu. “Dari keterangan pemilik usaha, saat diminta pindah ke tempat pemotongan yang sudah disediakan Pemkab Semarang, alasannya lokasinya tidak representatif,” ujarnya.

Saat pemilik usaha hendak dikonfirmasi, awak media hanya ditemui oleh istri pemilik tempat pemotongan tersebut yaitu Agustina, 60. Terkait perizinan, ia mengakui jika tempat usahanya tidak memiliki. “Tidak ada izin, karena izin harus dimulai dengan kanan dan kiri. Tetapi wong samping ini tanah kosong, kalau warga enggan tanda tangan HO lalu saya harus bagaimana,” ujar Agustina.

Ia juga mengakui jika selama ini memang tidak ada kompensasi apapun ke warga. “Kalau terus terang minta kompensasi, saya pasti akan berikan. Karena ini risiko dari usaha saya,” ujarnya.

Terkait dengan persoalan bau yang menyengat, ia menjelaskan jika tempat usahanya sudah dilengkapi dengan septictank/pembuangan akhir. Satpol PP Kabupaten Semarang saat dikonfirmasi menjelaskan jika pihaknya sudah memberikan surat perintah pemindahan tempat usaha tersebut. Surat bernomor 733/814 tersebut langsung ditujukan kepada pemilik usaha yaitu Subiyanto.

“Karena tidak menggubris 4 perda Kabupaten Semarang, 2 surat dari warga, dan 2 surat warning dari Satpol PP maka segera harus dipindah,” ujar Plt Kepala Satpol PP dan Pemadam Kebakaran Kabupaten Semarang, M Risun.

Ke empat perda yang dimaksud yaitu Perda Kab Semarang no 9/2014 tentang izin gangguan, Perda Kab Semarang no 10/2014 tentang ketertiban umum dan ketentraman masyarakat, Perda Kab Semarang no 2/2015 tentang bangunan gedung, Perda Kab Semarang no 2/2016 tentang peternakan dan kesehatan hewan. “Terhitung mulai Senin 15 Mei 2017 kami minta kepada pemilik untuk menghentikan kegiatan usaha pemotongan ayam tersebut atau memindahkan ke tempat pemotongan ayam yang sudah disediakan Pemkab Semarang,” ujarnya. (ewb/ida)