Rayakan Kelulusan, Pentas Wayang Mbeling Shinta Ilang

630
CINTAI BUDAYA LELUHUR : Para pemeran wayang orang dalam perayaan kelulusan SMKN 1 Sayung kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
CINTAI BUDAYA LELUHUR : Para pemeran wayang orang dalam perayaan kelulusan SMKN 1 Sayung kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

DEMAK-Ada yang menarik dalam perayaan kelulusan siswa di SMKN 1 Sayung, kemarin. Bila sekolah lain, para siswanya melakukan aksi corat-coret baju seragam, di sekolah ini justru diramaikan dengan pentas wayang orang dengan mengusung tema Wayang Mbeling Shinta Ilang.

Personel yang terlibat ada 17 orang terdiri atas guru dan siswa. Di antaranya, Ari Widodo yang memerankan tokoh pewayangan Indrajid. Alumnus IKIP PGRI yang menekuni keahlian seni teater ini berdandan mirip pertunjukan ketoprak. Ada beberapa adegan yang ditampilkan dalam drama wayang orang ini. Adegan pertama mengisahkan Rahwana terbayang Shinta dalam lamunan. Sedangakn, adegan kedua menunjukkan pisowanan dimana Rahwana telah sadar dari lamunannya dan terus berteriak memanggil Indrajid. “Jid Indrajid..,”ungkap Rahwana memanggil Indrajid. Rahwana mengingatkan Indrajid karena diam saja ketika Rama (orang tuanya) ada persoalan hingga membuatnya melamun.

Dalam adegan ketiga, datang adik Rahwana yang bernama Sarpakenaka yang sedang melapor terkait keberadaan Dewi Shinta. Melihat Rahwana yang mengharapkan kehadiran Dewi Shinta, Indrajid pun langsung berkomentar.

Tuwo pungkrek roba rabi. Emange ora ragat. Nembe duwe gaji provinsi wae kemaki. Ngono kuwi anake dibageni ndes. Ora mbuk untal kabeh. (Sudah tua mau kawin terus. Apa tidak biaya. Baru punya gaji provinsi aja sudah sombong. Kalau seperti itu, anaknya diberi kesempatan juga,” kata Indrajid yang diperankan guru matematika tersebut.

Kisah pewayangan ini pun mengundang gelak tawa para siswa yang menonton wayang mbeling tersebut. Sebab, Indrajid juga mengungkapkan kekesalannya lantaran Rahwana sudah beristri empat. Yaitu, Serly, Melly, Nelky, dan Pleki. “Kok jeh serakah. Pak Sutoko (kepala sekolah) mbok yo dibagehi,” katanya membuat penonton terbahak-bahak.

Rahwana pun akhirnya memberikan secara cuma-suma salah satu istrinya yang bernama Serly kepada siapapun yang mau memperistri. Sutradara pentas, Maryoko mengatakan, secara umum cerita itu menggambarkan siswa yang bertahan dengan ujian serta proses yang rumit. “Yaitu, pengorbanan selama tiga tahun di sekolah dibayar dengan kelulusan yang sepadan. Karena itu, saat mereka sudah lulus, tentu sekolah merasa kehilangan,” kata anggota Ngesti Pandowo Semarang tersebut.

Kepala SMKN 1 Sayung, Sutoko mengatakan bahwa ada 136 siswa yang lulus. Terdiri atas, jurusan teknik sepeda motor 37 siswa, teknik las 32 siswa, jasa boga 13 siswa, tata busana 18 siswa dan rekayasa perangkat lunak 36 siswa.

Sementara itu, meski sudah ada imbuan dari berbagai pihak tentang larangan konvoi dan aksi corat-coret seragam, namun tak digubris sejumlah siswa setingkat SMA di Kecamatan Mranggen. Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (2/5) kemarin, tampak puluhan siswa merayakan kelulusan yang resmi diumumkan dengan aksi corat-coret seragam sambil menggeber-geber knalpot motor di Jalan Semarang-Purwodadi. Tak sebatas itu, aksi ugal-ugalan juga dilakukan di Pom Bensin di Jalan Raya Bandungrejo. Untung aksi tersebut tak berlangsung lama setelah pihak Polsek Mranggen menerjunkan anggotanya untuk melakukan penertiban.

Kapolsek Mranggen, AKP Son Haji, mengimbau agar pihak sekolah membuat peraturan tegas agar aksi konvoi dan corat-coret seragam oleh para pelajar tak terus-terusan berlangsung, karena dapat memicu kecelakaan lalu lintas. “Kami imbau agar para siswa tidak mencoba-coba berpesta miras. Sebab jika terindikasi, akan kami tindak tegas,” ungkapnya. (hib/mg28/ida)