DEMO: Peserta aksi melakukan orasi di depan Fakultas Tarbiyah Unsiq, Selasa (2/5). (AHMAD ZAINUDIN/RADAR KEDU)
DEMO: Peserta aksi melakukan orasi di depan Fakultas Tarbiyah Unsiq, Selasa (2/5). (AHMAD ZAINUDIN/RADAR KEDU)

WONOSOBO—Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Al-Imam Fakultas Tarbiyah Universitas Sains Al Quran (Unsiq) kemarin menggelar aksi damai di dalam kampus.

Unjuk rasa digelar untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei kemarin. Dalam aksinya, mereka menyampaikan beberapa aspirasi.

Yakni, menolak segala bentuk liberalisasi dan komersialisasi pendidikan, menuntut kepada segenap pemangku kepentingan untuk mengembalikan khitah pendidikan. Lebih tepatnya, pendidikan harus bersifat mencerdaskan dan tanpa diskriminasi.

“Kami masih melihat, banyak saudara kita yang tidak bisa melanjutkan. Bukan karena kesadaran masih rendah, tapi karena pendidikan masih dianggap mahal oleh sebagian masyarakat.”

Menurut mereka, di Wonosobo, banyak problem di pendidikan yang semestinya cepat dicarikan solusi. Di antaranya, masih banyak masyarakat yang belum melek huruf, belum meratanya pendidikan, dan maraknya anak usia sekolah justru pekerja di bawah umur.

Korlap aksi, Kamto juga menyebut, besarnya gelontoran dana di sektor pendidikan, sangat memungkinkan terjadinya korupsi jika tidak terus diawasi. “Yang paling menyesakkan, adanya praktik praktik korupsi di tubuh pendidikan, seharusnya tak ada toleransi kepada pelaku. Ini harus diusut tuntas.” (cr2/isk)