PENUH KALIGRAFI: Interior Museum Hagia Sophia yang megah dengan mimbar tinggi yang diperuntukkan bagi imam salat. Bangunan tersebut menjadi salah satu destinasi yang wajib dikunjungi di Istanbul. (Ricky Fitriyanto/Jawa Pos Radar Semarang)
PENUH KALIGRAFI: Interior Museum Hagia Sophia yang megah dengan mimbar tinggi yang diperuntukkan bagi imam salat. Bangunan tersebut menjadi salah satu destinasi yang wajib dikunjungi di Istanbul. (Ricky Fitriyanto/Jawa Pos Radar Semarang)

Istanbul menjadi saksi berdirinya sejumlah peradaban dunia. Sejarah mencatat ada empat kekaisaran yang pernah berkuasa di sini. Yakni, Kekaisaran Romawi (330-395), Kekaisaran Romawi Timur (395-1204 dan 1261-1453), Kekaisaran Latin (1204-1261), serta Kekaisaran Ottoman (1453-1922). 

RICKY FITRIYANTO

MESKI masih capek, pagi itu kami sudah siap menjelajahi Istanbul di hari kedua. Saat breakfast, Ibrahim alias Baim, tour guide lokal berbahasa Indonesia sudah siap menjemput di lobi Clarion Golden Horn Hotel di kawasan Golden Horn. Yang saya sukai dari hotel ini adalah pemandangan dari jendela kamar ke Selat Golden Horn, selat yang terkenal setelah Selat Bosphorus.

Hari itu cuaca agak hangat, 17 derajat celcius karena matahari menampakkan diri. Tanpa menunggu lama, kami, rombongan jamaah umrah Ar-Bani Tour and Travel berangkat naik minibus Mercy Sprinter yang nyaman. Tujuan pertama kami ke tempat produksi jaket kulit, Best Leather and Fur. Banyak produsen fashion kulit seperti ini di Istanbul. Produknya kualitas ekspor dengan pasar utama negara-negara di Eropa.

Yang berbeda dari di tempat lainnya. Setiap tamu yang berkunjung akan disuguhi fashion show dadakan sebelum melihat display produk. Di ruangan kecil, kami berdelapan duduk manis sembari menikmati apple tea yang menjadi welcome drink. Setelah manajer toko menyapa, musik rancak yang berdentum dari sound system diputar.

Dari balik panggung, muncul para model yang tak lain karyawan dan karyawati toko. Semuanya cantik dan ganteng. Khas wajah Eurasia dengan hidung mancung, mata lebar, dan sebagian berambut pirang. Persis seperti aktris dan aktor di sinetron Turki yang sedang booming di Indonesia. Puas menonton para model dadakan beraksi di catwalk, tentu kami diarahkan untuk melihat produk dan bila cocok, membeli.

Komisaris PT Ar-Bani Madinah Wisata, Sari Prayogo, yang ikut dalam rombongan kami berbisik, harga yang dipatok memang cukup mahal, namun semua bisa ditawar. ”Ditawar saja, kalau beruntung mereka bisa memberi diskon hingga 70 persen,” kata Sari yang sudah berkali-kali melancong ke negeri yang dipimpin Recep Tayyib Erdogan ini.

Puas berbelanja, kami bergeser ke Emirgan Garden. Di sinilah tempat melihat bunga tulip dan bunga-bunga lain yang tumbuh dan mekar di musim semi. Taman seluas 473 ribu m2 ini berada di Puncak Distrik Sariyer. Taman dibangun pada 1960 untuk menghidupkan tradisi menanam tulip. ”Setiap bulan April, taman ini menjadi salah satu tempat digelarnya Festival Tulip,” ujar Sari Prayogo.

Menurut dia, April merupakan masuk peak season. Banyak orang berwisata ke Istanbul di musim semi untuk melihat tulip. ”Tapi banyak juga wisatawan Indonesia yang datang di bulan Desember atau Januari. Mereka pengin lihat salju,” tutur wanita fashionable ini.

Banyak yang menyangka bunga tulip berasal dari Belanda. Padahal sebenarnya tulip asalnya dari Turki. Pada abad ke-16, bibit bunga ini dibawa ke Belanda dan cepat populer. Namun faktanya, berbagai jenis tulip dibudayakan di Turki sebelum terkenal di Eropa.

Highlight kami hari itu adalah Hagia Sophia. Bangunan mengagumkan ini awalnya merupakan Basilika Ortodoks. Saat Istanbul dikuasai Kekaisaran Latin, Hagia Sophia atau Aya Sofya diubah fungsi menjadi Katedral Katolik.

Ketika Konstantinopel jatuh ke kekuasaan Ottoman, bangunan merah bata ini diubah menjadi masjid. Setelah Republik Turki berdiri pada 1923, Hagia Sophia difungsikan sebagai museum.

Hagia Sophia dengan satu kubah besar, delapan kubah kecil, dan sejumlah menara lancip menjadi inspirasi arsitektur Dinasti Ottoman, termasuk Blue Mosque. Jika dilihat, seluruh bangunan masjid di Istanbul bentuknya seperti Hagia Sophia dengan skala kecil.

Bangunan yang berkali-kali diubah fungsinya ini cukup unik. Arsitekturnya menunjukkan pada masa lalu, para arsitek mampu membuat bangunan dengan apik. Batu-batu pembentuk disusun sedemikian rupa. Baim bercerita mereka menempelkan batu-batu menggunakan telur burung unta sebagai perekat. Sebab saat itu belum ada semen.

Kaligrafi ukuran besar terpasang di puncak-puncak pilarnya yang tinggi. Delapan kaligrafi yang mencolok bertuliskan Allah SWT, Muhammad SAW, empat sahabat Rasul, dan dua cucu Rasul.

Di antara kaligrafi bertuliskan Allah dan Muhammad, ada lukisan Bunda Maria menggendong Isa. Di masa Ottoman berkuasa, lukisan ini ditutup menggunakan cat putih. Begitu juga lukisan sejumlah malaikat yang ditutup emas pada bagian wajahnya. Setelah Hagia Sophia menjadi museum, lukisan tersebut dimunculkan kembali.

Baim lantas menunjukkan mimbar tempat imam saat salat. Juga tempat salat khusus Sultan yang berada di atas. ”Usai menaklukkan Istanbul, Sultan saat itu ingin menunaikan salat Jumat pertama kali di Hagia Sophia,” kata dia.

Tak jauh dari Aya Sofya, kami mendatangi Basilica Cistern. Bangunan yang juga bernama Yerebatan Sarnici ini merupakan tempat penampungan air untuk kebutuhan Grand Palace dan bangunan sekitarnya. Penampungan air bawah tanah ini dibangun di masa Kaisar Bizantium, Justinian I.

Saat masuk ke dalam, kesan mistis tercipta dari bayangan 336 pilarnya yang menimbulkan refleksi di air. Dua pilarnya berfondasikan kepala Medusa. Saya takjub dengan strukturnya. Ruang bawah tanah ini tidak roboh meskipun di atasnya berdiri banyak bangunan di kawasan turisme yang padat.

Eksotisme Basilica Cistern membuat tempat ini menjadi lokasi syuting sejumlah film produksi Hollywood. Di antaranya 007: From Russia with Love. Yang terbaru, tempat eksotis ini muncul di bagian akhir film Inferno. Yakni, saat Prof Robert Langdon (Tom Hanks) terjun ke air mencari virus mematikan yang disembunyikan di salah satu pilarnya.

Petualangan kami berlanjut dengan menikmati Bosphorus Cruise. Ini adalah pengalaman yang wajib dicoba saat berwisata ke Istanbul. Sangat direkomendasikan! Apalagi Ar-Bani Tour and Travel menyewa satu kapal besar hanya untuk kami berdelapan.

Cruise membawa kami menyusuri Selat Bosphorus di antara Turki bagian Eropa dan Asia. Dari atas kapal, landscape Istanbul bisa dinikmati dengan leluasa. Saat berangkat, kapal merapat di sisi Eropa, lalu saat putar haluan ke pelabuhan, gantian mendekat ke sisi Asia.

Di antara desir angin dingin dan burung-burung yang terbang berseliweran, landmark yang terlihat di antaranya Galata Tower, Dolmabahce Palace (istana bergaya Eropa zaman Ottoman), Bukit Camlica yang tertinggi di Istanbul, serta Maiden Tower. Menara yang berdiri di atas pulau di tengah Bosphorus ini merupakan salah satu ikon Istanbul. Menara indah tersebut muncul di salah satu installment James Bond 007, The World is Not Enough.

Setelah salat Asar di New Mosque (Yeni Camii), kami diajak berbelanja di Spice Bazaar yang berada di sebelahnya. Pasar rempah-rempah kuno ini berisi toko-toko yang menjual bermacam teh, kacang, kurma, dan lokum (manisan) yang juga dikenal dengan nama Turkish Delight. Tur diakhiri dengan makan malam dengan menu seafood di bawah Galata Bridge. (*/aro/bersambung/ce1)