Wisata Kuliner Harus Jelas Halal-Haram

2585
BERAGAM KULINER: Pengunjung tengah menikmati makanan di festival kuliner Brotherfood Festival 2017 di halaman Sri Ratu, Pemuda, kemarin. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERAGAM KULINER: Pengunjung tengah menikmati makanan di festival kuliner Brotherfood Festival 2017 di halaman Sri Ratu, Pemuda, kemarin. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEJUMLAH stakeholder coba membantu pemerintah dalam menghidupkan Kota Lama Semarang. Tidak terkecuali Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Semarang. Rencananya, Kadin bakal menyulap Jalan Branjangan yang selama ini menjadi arena sabung ayam, menjadi sentra kuliner layaknya Pasar Semawis di Kampung Pecinan.

Ketua Kadin Kota Semarang, Arnaz Agung Andrasmara, mengaku pihaknya telah menyusun konsep agar Kota Lama bisa lebih hidup. Dia sengaja memilih area kumuh, antara Jalan Branjangan atau Jalan Sendowo untuk dirombak menjadi arena yang mampu menarik minat wisatawan.

Dia mengaku prihatin dengan adanya area kumuh di wilayah Kota Lama. “Jadi kami sepakat untuk menghidupkan daerah yang belum hidup. Di tempat itu masih kumuh, gelap, dan belum tertata. Kami jadi tertantang untuk menggarapnya,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Tentunya  ada banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum menggelar deretan warung kuliner di sana. Seperti memberikan penerangan jalan yang cukup agar wisatawan tidak merasa waswas ketika berada di sekitar lokasi, memperbaiki jalan paving agar lebih layak serta sedap dipandang mata, serta membenahi drainase. Selain itu juga melakukan penananam pohon agar tampak indah dan sejuk.

Dia mengaku tidak akan mengusir karaoke yang sudah menjamur di sekitar Jalan Sendowo. Menurutnya, jika jalan tersebut sudah ramai, keberadaan karaoke tersebut akan menyingkir dengan sendirinya. “Ini juga menjadi PR kami untuk tidak tanggung-tanggung meramaikan jalan tersebut,” terangnya.

Jika sentra kuliner bisa dibilang sukses, pihaknya punya rencana untuk invasi di jalan lain yang masih berada di kawasan Kota Lama. Bahkan jika memungkinkan, sentra kuliner yang digagas Kadin Semarang bakal menjadi terusan bagi wisatawan yang berburu kuliner di Pasar Semawis.

Mendengar gagasan tersebut, anggota Tim Percepatan Belanja dan Kuliner Kementerian Pariwisata, Tendi Naim, coba memberi masukan. Dia meminta agar warung-warung kuliner di kawasan Kota Lama yang tidak menjual makanan haram, bisa diberi label halal. Label tersebut juga harus jelas dan mudah dilihat pengunjung.

“Hanya untuk memantapkan pengunjung ketika memilih tempat makan saja. Pengalaman saat di Pasar Semawis, saya bingung mau makan apa, karena tidak ada warung yang memasang label halal. Padahal saya pengin jajan di sana,” terangnya.

Dijelaskan, warung berstempel halal bukan hanya dicari kalangan muslim saja. Dewasa ini, banyak warga nonmuslim di negara lain yang juga menghindari makanan haram. “Seperti di Jepang, makanan halal sudah menjadi lifestyle. Jadi, ketika wisatawan asing mulai melirik Kota Lama, mereka tidak kesulitan soal mengisi perut,” katanya.

Tendi juga berpesan agar Kadin bisa menjaga kerbersihan sentra kuliner tersebut. Sebab, pusat kuliner sangat rawan kumuh. Terutama soal air. “Jangan ada lagi ember buat mencuci piring. Semua harus sudah higienis, dengan instalasi air bersih yang baik,” ucapnya.

Setali tiga uang, Kepala Kantor Pertanahan Kota Semarang, Sriyono, juga punya semangat meramaikan Kota Lama. Dia mengusulkan agar ada pengembangan sejumlah klaster di setiap gang. Ada klaster kuliner, kerajinan, baju-baju distro, dan lain sebagainya. “Seperti di Cihampelas Bandung. Target pasarnya lebih baik disasarkan kalangan anak muda,” ujarnya.

Agar klaster-klaster itu makin ramai, sebaiknya digelar event yang mampu menjadi daya tarik pengunjung. Misalnya, pentas musik kroncong untuk memperkuat kesan heritage Kota Lama. Dengan begitu, para pengunjung yang sedang berbelanja, juga bisa mendapat hiburan.

Mantan Kepala Kantor Pertanahan Kota Solo ini juga meminta Pemkot Semarang menyediakan kantong parkir yang memadai. Letaknya tidak jauh dari lokasi bebas kendaraan. Selain itu, Kota Lama juga harus didesain sedemikian rupa agar lebih ramah terhadap pejalan kaki. (amh/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here