May Day, Ribuan Buruh Tutup Jalan Nasional

717
RAMAI: Ribuan buruh di Kabupaten Semarang turun ke jalan dan membuat barikade di depan kantor Bupati Semarang, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RAMAI: Ribuan buruh di Kabupaten Semarang turun ke jalan dan membuat barikade di depan kantor Bupati Semarang, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

UNGARAN – Dalam momentum May Day, ribuan buruh dari berbagai perusahaan di Kabupaten Semarang turun ke jalan, memperjuangkan hak-hak mereka, Senin (1/5) kemarin. Dalam aksinya mereka menduduki akses jalan nasional di depan Kantor Bupati Semarang.

Ribuan buruh tersebut menggelar aksinya dengan menutup akses jalan utama, lantarn tidak diperbolehkan masuk ke area kantor Bupati Semarang. Mereka yang bergabung dalam berbagai serikat buruh memadati jalan nasional di Ungaran yang menjadi jalur utama penghubung Semarang-Solo/Jogjakarta.

”Masih banyak buruh Kabupaten Semarang yang menerima upah Rp 500 ribu tiap bulannya, banyak yang masih berstatus outsourcing dan banyak perusahaan yang melanggar aturan tidak memberikan hak-hak buruh,” ujar Rima, salah satu orator dari LSM Yasanti.

Awalnya ribuan buruh berkumpul dan berangkat dari Stadion Pandanaran, Kelurahan Wujil menuju Kantor DPRD Kabupaten Semarang dan Kantor Bupati Semarang sekitar pukul 11.30. Mereka menyusuri Jalan Soekarno Hatta dengan konvoi menggunakan beragam jenis kendaraan bermotor. Banyaknya kendaraan roda dua yang ikut membuat ekor konvoi memanjang hingga sekitar 1 kilometer.

Praktis, terjadi antrean kendaraan bermotor yang cukup panjang di belakang konvoi buruh. Di sepanjang perjalanan menuju gedung wakil rakyat dan kantor Bupati Semarang, konvoi buruh sempat berhenti di pabrik Nissin yang kebetulan berlokasi di pinggir jalur Semarang-Solo.

Sejumlah buruh mencoba masuk ke lokasi pabrik dan berupaya mengajak buruh lain yang sedang bekerja. Namun niat tersebut berhasil dicegah aparat kepolisian sehingga gesekan antarburuh berhasil dicegah.

Juga ketika melintasi Hotel C3 di pinggir Jalan Diponegoro. Di hotel tersebut tengah berlangsung seminar ketenagakerjaan dalam rangka May Day yang digelar SPSI Kabupaten Semarang.

Belasan buruh yang hendak mengajak peserta diskusi turun ke jalan berhasil diredam masing-masing korlap. Tiba di gedung DPRD Kabupaten Semarang ribuan buruh tertahan pintu gerbang masuk yang tertutup.

Tidak ada perwakilan anggota Dewan yang menemui buruh. Orasi jalanan tak berlangsung lama dan konvoi berlanjut ke tujuan utama, yaitu Kantor Bupati Semarang di Jalan Diponegoro No 14 Ungaran.

Di tempat tersebut, perwakilan serikat buruh menggelar orasi terbuka di atas kendaraan bak terbuka. Ribuan buruh mendengarkan dengan tertib materi yang disampaikan. Mereka duduk di badan jalan dan menutup dua lajur arah Solo-Semarang.

Kondisi tersebut membuat arus lalu lintas dari dua arah menjadi terganggu. Bahkan kemacetan kendaraan yang mengekor hingga 3 kilometer juga terlihat. Para petugas dari kepolisian, yang melakukan pengamanan akhirnya melakukan rekayasa lalu lintas sistem contra flow.

Dua lajur jalan dari arah selatan ke utara atau Solo menuju Semarang dibagi untuk konvoi buruh dan kendaraan lain. Upaya ini membuat arus lalu lintas bisa mengalir meski terpantau padat merayap lantaran kendaraan berjalan pelan.

Adapun serikat buruh yang berdemo tergabung dalam Aliansi Gempur (Gerakan Masyarakat Pekerja Ungaran) Kabupaten Semarang. Aliansi Gempur di antaranya dari Konfederasi Serikat Pekerja Nasional (KSPN), gabungan dari buruh PT Kamaltex, PT Ara Corn, PT Imco Jaya, PT Bina Guna Kimia, PT Sarana Tirta Ungaran, PT Orios, PT SPMJ, PT Apac Inti Corpora, PT Ungaran Sari Garment, PT Pertiwi Indo Mas dan PT Golden Flower.

Ada pula Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPMI) yang menaungi pekerja PT Sami BBF dan PT Muara Krakatau. Juga Serikat Pekerja Farmasi dan Kesehatan (SPFARKES) membawahi pekerja Sido Muncul dan Bapak Jenggot serta perwakilan LSM Yasanti, penampung buruh korban PHK. (ewb/ida/ce1)