Jejak Industri Gula di Kota Lama

2920

Perkebunan tebu atau pabrik pengolahan gula tidak ada di Kota Semarang. Tapi manisnya bisnis gula pernah mengalir di Semarang, khususnya kawasan Kota Lama. Gula pula yang membuat salah satu warga Semarang tercatat sebagai orang terkaya di Asia Tenggara.

PEMERINTAH Kota Semarang telah mendaftarkan kawasan Kota Lama (Old Town) sebagai Warisan Budaya Dunia (World Heritage) ke United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Hingga saat Kota Lama Semarang masih masuk dalam daftar tentatif. Tahun depan, Pemkot mendapat undangan untuk mempresentasikan proposal Kota Lama sebagai Kota Warisan Budaya Dunia ke UNESCO.

Salah satu syarat untuk mendapatkan predikat Kota Warisan Budaya Dunia, harus memiliki tema khusus. “Tema yang dibuat untuk Kota Lama Semarang adalah perdagangan gula. Banyak bangunan terkait industri gula yang ada di Kota Lama,” tutur Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu saat berdiskusi dengan jajaran redaksi Jawa Pos Radar Semarang di acara Radar Semarang Dialog : #Kota Lama Menuju Warisan Dunia, 26 April 2017 lalu.

Tema perdagangan gula dipilih karena bisnis di sektor ini pernah menggerakkan roda ekonomi Semarang sebagai kota industri, perdagangan dan jasa. Perdagangan gula tak bisa dilepaskan dari sosok Oei Tiong Ham, warga Semarang yang dijuluki sebagai Raja Gula.

Anggota Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) Tjahjono Rahardjo menjelaskan, sejarah perdagangan gula di Semarang tak bisa dilepaskan dari kongsi dagang Kian Gwan yang didirikan Oei Tjie Sian (1835-1900) pada 1 Maret 1863. Perusahaan ini bergerak di bidang jual beli berbagai barang dan hasil bumi, salah satunya gula. Kantor pusat Kian Gwan berada di Hoogendorpstraat yang sekarang menjadi Jalan Kepodang No 36 Semarang. “Gedung ini baru saja selesai direnovasi,” jelas Tjahjono.

Pengelolaan Kian Gwan kemudian diwariskan Oei Tjie Sian kepada salah satu anaknya, Oei Tiong Ham (1866-1924). Di tangan Oei Tiong Ham, Kian Gwan semakin menunjukkan keperkasaannya sebagai kerajaan bisnis. Kian Gwan yang dalam perjalanannya berubah nama menjadi Oei Tiong Ham Concern berhasil membuka cabang di berbagai kota. Seperti di Batavia (Jakarta), Surabaya, Cirebon, Jogja, Solo, Palembang, Makassar, Manado, Bandung, Medan dan Pontianak. Bahkan kantor cabang di luar negeri juga bertebaran, seperti di London, Singapura, Kalkuta, Bombay, Karachi, Shanghai, Hongkong, Amoy (Xiamen), Bangkok dan New York. Semua cabang tersebut dikendalikan dari kantor pusat yang ada di Kota Lama Semarang.

Jalan Oei Tiong Ham menjadi Raja Gula tak bisa dilepaskan dari penghapusan tanam paksa pada 1870. Kian Gwan yang semula hanya menjadi pedagang gula –dan komoditas lainnya- mulai melirik menjadi pengusaha gula. Pada 1894, Oei Tiong Ham membeli pabrik gula Pakis di Pati. Tak lama kemudian ia juga membeli pabrik gula Rejoagung (Madiun), Tanggulangin (Sidoarjo), Ponen (Jombang) dan Krebet (Malang). Pabrik gula Rejoagung merupakan pabrik gula pertama di Hindia Belanda yang dijalankan dengan tenaga listrik. Oei Tiong Ham juga membuka pusat penelitian gula di Semarang.

Kuatnya bisnis gula Kian Gwan rupanya mendorong perkembangan sektor perdagangan dan jasa Semarang. Mulai dari perbankan (Koloniale Bank, De Javasche Bank, Spaar Bank, Nederlandsche Indische Escompto Maatschappij), transportasi (stasiun Tawang, Koninklijke Paketvaart Maatschappij, Stoomvart Maatschappij), ekspor-impor (Nederlandsche Handel Maatschappij, Geo Wehry & Co, Van Jacobson Van Den Berg & Co, Monod & Co, Firma Erdman & Sielcken, Cultuur Maatschappij der Vorstenlanden, Borneo-Sumatera Handel Maatschappij), hingga perdagangan mesin industri (Machine en Werkinghandel Maatschappij ‘De Vleight’, McNeil & Co).  Kantor-kantor perusahaan di bidang tersebut berada di kawasan Kota Lama, tak jauh dari kantor pusat Kian Gwan atau Oei Tiong Ham Concern.

Sebagian besar gedung yang berkaitan dengan perdagangan gula di Kota Lama Semarang selama bertahun-tahun mangkrak dan dibiarkan rusak. Tapi saat ini, beberapa gedung sudah direnovasi dan difungsikan kembali. Meski masih ada beberapa yang masih rusak dan tidak dipergunakan untuk aktivitas apapun.

Semua ini tak lepas dari peran BPK2L yang aktif mendatangi pemilik bangunan dan mengajak untuk memfungsikan kembali. Agus S Winarto, pemilik gedung Monod Diephuis yang berada di Jalan Kepodang 11-13 termasuk yang antusias untuk memfungsikan kembali gedung eks perusahaan bidang broker gula, kopi, kopra untuk diekspor ke Eropa ini. “Rencananya saya akan membuka galeri batik di sini,” ujar Agus.

Anggota Tim Percepatan Belanja dan Kuliner Kementerian Pariwisata, Tendi Naim menilai tema perdagangan gula yang akan diangkat Kota Lama Semarang ini sangat menarik. Tema ini bisa beriringan dengan Wisata Tematik Jalur Rempah yang sedang dipopulerkan Kementerian Pariwisata. Yang ia tekankan, pengelola Kota Lama Semarang harus menyiapkan cerita-cerita sejarah (story telling) dari bangunan yang akan menjadi tujuan wisatawan.

Hevearita yang juga Ketua BPK2L menyatakan, pihaknya saat ini sedang mencari dokumen-dokumen yang menceritakan sejarah gedung-gedung di Kota Lama. Nantinya, setiap gedung cagar budaya akan memiliki data dan cerita yang bisa diakses pengunjung. Targetnya, pada 2020, kawasan Kota Lama Semarang sudah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia.

Budayawan Semarang, Jongkie Tio, mengakui Kota Lama Semarang memiliki sejarah panjang sebagai pusat perdagangan hingga memiliki peran penting di dunia.  Salah satunya jejak pengusaha Oei Tiong Ham. Selain, pengusaha yang mengekspor bahan pokok, Oei Tiong Ham menguasai perkebunan tebu, pabrik gula, perbankan hingga asuransi. “Sedikitnya ada lima pabrik gula dibangun yang tersebar di Pula Jawa.  Atas dasar itulah, Oei Tiong Ham dijuluki sebagai Raja Gula,” katanya. (ton/amu/aro)