Rekonstruksi Taruna Akpol Tertutup

14 Tersangka Lakukan 46 Adegan

360

SEMARANG Rekonstruksi penganiayaan yang menewaskan Taruna Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang, Brigadir Dua Taruna Muhammad Adam, dinilai tak biasa. Sebab, reka ulang digelar secara tertutup dan terkesan dirahasiakan. Padahal rekonstruksi kasus serupa biasanya digelar terbuka dan diliput banyak media. Ada apa ini?

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Semarang menyebutkan, reka ulang itu digelar di tempat kejadian perkara di gudang flat A Graha Taruna Detasemen Tingkat III Kompleks Akpol. Dalam rekonstruksi yang dilakukan Direktorat Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Jateng itu, 14 tersangka memperagakan 46 adegan penganiayaan terhadap korban.

Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Djarod Padakova membenarkan adanya reka ulang kasus tersebut. Menurut Djarod, ke-14 taruna Akpol tingkat III hadir mengikuti reka ulang adegan.

Ya, benar rekonstruksi di TKP (Tempat Kejadian Perkara), tersangka semuanya ikut,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (31/5) kemarin.

Djarod mengatakan, reka ulang digelar mulai pagi sampai siang hari. Para tersangka didampingi oleh tim kuasa hukum masing-masing. ”Rekonstruksi juga dihadiri tim jaksa penuntut umum (JPU) dan para pengacara. Tadi, mulai pagi sampai siang, ada 46 adegan,” terangnya.

Namun demikian, Djarod enggan membeberkan secara detail terkait gelar reka ulang kasus yang menghebohkan dunia kepolisian tersebut. Termasuk proses penyidikan terhadap 14 tersangka yang telah ditahan di Mapolda Jateng. Hanya saja, pihaknya menyampaikan reka ulang adegan berjalan lancar. ”Berjalan lancar, selanjutnya masih dievaluasi,” katanya.

Sebelumnya, taruna Akpol Muhammad Adam dilaporkan tewas di kompleks Akpol Semarang, Kamis (18/5) lalu. Taruna tingkat II tersebut diduga tewas akibat penganiayaan dan pemukulan oleh seniornya. Dari hasil autopsi, dipastikan korban tewas akibat gagal napas menyusul luka di paru-paru. Adapun tersangka penganiayaan berinisial CAS, RLW, GCN, EA, JED, MB, CAE, HA, AKU, GJN, RAP, RK, IZ, dan PDS. CAS sebagai pelaku utama penganiayaan. Hasil pemeriksaan menyebutkan CAS memukul hingga menyebabkan korban jatuh pingsan. Sedangkan tersangka lain berbagi peran berbeda-beda, seperti memukul dan memberikan arahan. Ada juga yang mengawasi jangan sampai perbuatannya diketahui pembina.

Semua tersangka dikenakan pasal 170 subsider pasal 351 ayat 3 jo pasal 55 dan 56 KUHP. Sedangkan barang bukti yang disita mencapai 18 buah benda, di antaranya aluminium warna silver ukuran 56 sentimeter diameter 2 sentimeter, kunci sepeda, sarung tangan, kopel rem, raket badminton, dan tongkat kayu bulat warna cokelat. Terdapat pula barang bukti berupa minyak kayu putih, kipas angin, dan obat gosok yang juga disita polisi. Barang-barang itu digunakan para tersangka menyadarkan korban saat jatuh lemas. (mha/aro/ce1)