MENDUNIA: Anggota Komunitas Bawika Semarang Art Enthusiast saat tampil di International Youth Dance Festival Macau 2016 lalu. (DOKUMEN PRIBADI)
MENDUNIA: Anggota Komunitas Bawika Semarang Art Enthusiast saat tampil di International Youth Dance Festival Macau 2016 lalu. (DOKUMEN PRIBADI)

Sekumpulan pencinta tari tergabung dalam Komunitas Bawika Semarang Art Enthusiast Semarang. Mereka telah mengukir prestasi baik di tingkat nasional maupun internasional. Komunitas ini memiliki misi memopulerkan tari tradisional di kalangan generasi muda. Seperti apa?

ADENNYAR WYCAKSONO

TARIAN tradisional bukan sesuatu yang asing bagi anggota Komunitas Bawika Semarang Art Enthusiast. Menempati ruang kreatif di Jalan Karonsih Ngaliyan, dan Jalan Tembalang Selatan IV, para anggota komunitas ini mencoba mengolah daya kreativitasnya di bidang seni tari tradisional.

”Kami punya visi  menjadi organisasi yang berkomitmen mendorong pelestarian kesenian tradisional dan mempromosikan budaya nusantara,” kata Director of Bawika (Semarang Art Enthusiast) Mukhlis Reza Sukmana kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dijelaskan, Bawika memiliki arti lebih baik atau menjadi baik. Harapannya, lewat komunitas ini, perkembangan tari tradisional akan semakin baik.

Hingga kini, berbagai ajang festival tari internasional pernah diikuti. Di antaranya, tampil di acara Shanghai Bhaosan Folk Arts Festival 2013 dan meraih Best Performance. Selain itu, juga mengikuti Folk Faro Portugal 2014 dan meraih Most Favorite Performance. Dan, yang terbaru, mereka diundang tampil di International Youth Dance Festival Macau 2016.

”Misi yang coba kami angkat adalah  mempromosikan keragaman budaya nusantara di tingkat regional, nasional, dan internasional. Kami juga  mendorong partisipasi dan apresiasi masyarakat kepada budaya nusantara,” paparnya.

Ia menjelaskan, jika berpartisipasi pada  ajang tari tingkat internasional merupakan program kerja yang dibuat. Selain itu, pihaknya juga  mengadakan acara dengan tema budaya nusantara sebagai edukasi kepada masyarakat, kunjungan budaya, dan festival tari dengan taraf internasional.

Mukhlis menceritakan, pembentukan komunitas ini tidak bisa lepas dari Tim Misi Budaya Studio 8 Universitas Diponegoro (Undip). Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang dibentuk pada 2013 itu telah berkembang hingga para anggota membuat wadah kreatif seni tari.

”Dulu awalnya kami hanya beranggotakan mahasiswa Undip yang mendalami seni tari tradisional, namun saat ini anggotnya semakin luas. Ada dari  kalangan umum, mahasiswa, pelajar SMA, dan yang lainnya. Kami memang terbuka agar visi dan misi kami bisa berjalan dengan baik,” ujarnya.

Di komunitas ini, diajarkan berbagai tarian nusantara. Misalnya, tarian daerah Aceh, Minang, serta beberapa daerah lainnya. Sejak tahun lalu, komunitas ini juga menciptakan tarian sendiri, yakni Tari Ngilo dan Tari Abhitah. Kedua tarian ini memiliki cerita tersendiri. ”Untuk Tari Ngilo menceritakan aktivitas gadis belia yang mencari jati diri, sedangkan Tari Abhitah bercerita laskar prajurit perempuan yang ikut berperang melawan penjajah,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, jika tarian tradisional yang mereka ciptakan adalah tari tradisional klasik dan kreasi dengan musik iringan yang juga dimainkan oleh para anggota komunitas ini. Saat ini, anggota Komunitas Bawika berjumlah 40 orang. Rencananya, dalam waktu dekat, tepatnya 2-7 Mei, mereka akan menggelar festival tari tingkat internasional dengan nama Semarang International Folk Arts Festival (SIFAF) 2017.  ”Kami akan  mendatangkan penari dari beberapa negara, di antaranya Korea Selatan, Taiwan, Thailand, dan negara lainnya. Ada juga pernari dari  Aceh, Papua, Bali, Minang, dan Jawa,” katanya.

Mukhlis berpesan kepada generasi muda agar  jangan ragu mendalami tari tradisional. Selain itu, ia ingin menghilangkan kesan jika menari tradisional itu kuno dan tidak keren. ”Dengan masuk ke komunitas ini kami ingin memberi kesan sebaliknya ke teman-teman generasi muda,” ujarnya. (*/aro/ce1)