SEMARANG – Sepuluh terdakwa aktivis Laskar Umat Islam (LUIS) Solo divonis bebas oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Rabu (31/5). Mereka tidak terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Jateng. Kesepuluh terdakwa adalah Edi Lukito, Sri Asmoro Eko Nugroho, Kombang Saputro, Supramono, Suparno, Purnama Indra, Joko Sutarto, Ranu Muda, Mujiono dan Mulyadi. Padahal dalam perkara itu, kesepuluh terdakwa dituntut 6 bulan penjara oleh JPU. Mereka diduga terlibat dalam permufakatan jahat atas kasus sweeping Kafe Social Kitchen Solo pada Desember 2016 lalu.

Sidang pembacaan vonis kemarin digelar dalam 3 sesi. Majelis hakim yang dipimpin Pudji Widodo menyebutkan dalam pertimbangannya, terdakwa Sri Asmoro untuk unsur turut serta sudah terpenuhi. Berbeda dengan terdakwa Kombang Saputro yang tidak terpenuhi. Majelis juga menyampaikan kesepuluh terdakwa tidak terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana dakwaan jaksa.

Majelis mengatakan, kedatangan Sri Asmoro dan Kombang Saputro ke Kafe Social Kitchen Solo hanya memberi peringatan, tanpa maksud untuk melakukan perusakan. Untuk itu, majelis memerintahkan kesepuluh terdakwa dibebaskan dari hukuman penjara.

Dalam pertimbangannya, majelis juga menyampaikan tidak ada saksi-saksi yang melihat para terdakwa melakukan kekerasan. Sehingga unsur melakukan kekerasan tidak terpenuhi, maka seluruh dakwaan jaksa pasal 1, 2, 3, 4 dan 5 tidak terbukti secara sah melakukan tindak pidana.

”Memerintahkan para terdakwa untuk dibebaskan, dan biaya perkara ditanggung oleh negara,” kata majelis hakim Pudji Widodo dalam amar putusannya.

Mendengar vonis tersebut, para terdakwa langsung sujud syukur di dalam ruang sidang. Mereka juga memekikkan takbir sembari mengepalkan tangan. Para terdakwa menyatakan menerima putusan tersebut. Sebaliknya, JPU menyatakan pikir-pikir.

Sementara itu, vonis berbeda justru diberikan terhadap dua terdakwa lain dalam kasus yang sama, yakni Yudhi Wibowo dan Mardianto. Kedua terdakwa divonis majelis hakim yang dipimpin Pudjo Hunggul selama 6 bulan penjara, dan memerintahkan tetap ditahan dan membebankan biaya perkara Rp 2.500 kepada para terdakwa. Keduanya dianggap melanggar pasal 170 KUHP tentang penganiayaan dan pasal 363 KUHP tentang pencurian. Sebelumnya, keduanya dituntut JPU selama 7 bulan penjara. Atas vonis itu, keduanya menerima. Pun dengan JPU juga menerima.

Usai sidang, terdakwa Ranu Huda mengatakan, pihaknya mengaku telah mendapat berkah Ramadan, sehingga keadilan bisa diperoleh. Pihaknya mengaku selama ini sudah menjalani pidana penjara selama 5 bulan. ”Saya hanya bertugas meliput. Saya berharap hanya menjadi jurnalis yang terakhir yang mendapat permasalahan seperti ini, padahal dalam acara itu saya nggak ada tindakan merusak,” kata Ranu Huda, yang juga jurnalis Panjimas ini.

Kuasa hukum para terdakwa, Anis Proyo Ansori, menyatakan, vonis tersebut sudah sesuai pledoi (pembelaan) yang diajukannya. Ia menyatakan, karena vonis majelis hakim bebas, maka konsekuensinya JPU harus segera membebaskan seluruh kliennya. Sebab, semua perbuatan yang dituduhkan kepada kliennya tidak terbukti. ”Kami memang sudah menyatakan banding atas putusan sela sebelumnya, makanya akan kami cabut banding dari putusan sela itu,” tandasnya.

JPU Kejati Jateng, Slamet Margono, mengatakan pihaknya menyatakan pikir-pikir, karena harus berkoordinasi dengan pimpinannya terlebih dahulu. Ia mengaku, vonis majelis hakim tersebut memang dianggap tidak terbukti. ”Sebenarnya biasa saja, adanya beda pendapat di dalam persidangan. Tapi memang karena bebas, para terdakwa langsung dikeluarkan dari tahanan sekarang juga (Rabu kemarin, Red),” ungkapnya.

Seperti diketahui, sebanyak 12 anggota Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) mulai disidang dalam kasus dugaan perusakan dan penganiayaan di Kafe Social Kitchen Solo, akhir Desember 2016 lalu. Aksi sweeping itu dilakukan karena para terdakwa menilai Kafe Social Kitchen melanggar sejumla peraturan, seperti jam operasional, menjual minuman keras, dan menggelar pertunjukan tari telanjang. (jks/aro/ce1)