33 C
Semarang
Kamis, 2 Juli 2020

10 Divonis Bebas, 2 Diganjar 6 Bulan

Dugaan Perusakan Kafe Social Kitchen

Another

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru...

SEMARANG – Sepuluh terdakwa aktivis Laskar Umat Islam (LUIS) Solo divonis bebas oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Rabu (31/5). Mereka tidak terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Jateng. Kesepuluh terdakwa adalah Edi Lukito, Sri Asmoro Eko Nugroho, Kombang Saputro, Supramono, Suparno, Purnama Indra, Joko Sutarto, Ranu Muda, Mujiono dan Mulyadi. Padahal dalam perkara itu, kesepuluh terdakwa dituntut 6 bulan penjara oleh JPU. Mereka diduga terlibat dalam permufakatan jahat atas kasus sweeping Kafe Social Kitchen Solo pada Desember 2016 lalu.

Sidang pembacaan vonis kemarin digelar dalam 3 sesi. Majelis hakim yang dipimpin Pudji Widodo menyebutkan dalam pertimbangannya, terdakwa Sri Asmoro untuk unsur turut serta sudah terpenuhi. Berbeda dengan terdakwa Kombang Saputro yang tidak terpenuhi. Majelis juga menyampaikan kesepuluh terdakwa tidak terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana dakwaan jaksa.

Majelis mengatakan, kedatangan Sri Asmoro dan Kombang Saputro ke Kafe Social Kitchen Solo hanya memberi peringatan, tanpa maksud untuk melakukan perusakan. Untuk itu, majelis memerintahkan kesepuluh terdakwa dibebaskan dari hukuman penjara.

Dalam pertimbangannya, majelis juga menyampaikan tidak ada saksi-saksi yang melihat para terdakwa melakukan kekerasan. Sehingga unsur melakukan kekerasan tidak terpenuhi, maka seluruh dakwaan jaksa pasal 1, 2, 3, 4 dan 5 tidak terbukti secara sah melakukan tindak pidana.

”Memerintahkan para terdakwa untuk dibebaskan, dan biaya perkara ditanggung oleh negara,” kata majelis hakim Pudji Widodo dalam amar putusannya.

Mendengar vonis tersebut, para terdakwa langsung sujud syukur di dalam ruang sidang. Mereka juga memekikkan takbir sembari mengepalkan tangan. Para terdakwa menyatakan menerima putusan tersebut. Sebaliknya, JPU menyatakan pikir-pikir.

Sementara itu, vonis berbeda justru diberikan terhadap dua terdakwa lain dalam kasus yang sama, yakni Yudhi Wibowo dan Mardianto. Kedua terdakwa divonis majelis hakim yang dipimpin Pudjo Hunggul selama 6 bulan penjara, dan memerintahkan tetap ditahan dan membebankan biaya perkara Rp 2.500 kepada para terdakwa. Keduanya dianggap melanggar pasal 170 KUHP tentang penganiayaan dan pasal 363 KUHP tentang pencurian. Sebelumnya, keduanya dituntut JPU selama 7 bulan penjara. Atas vonis itu, keduanya menerima. Pun dengan JPU juga menerima.

Usai sidang, terdakwa Ranu Huda mengatakan, pihaknya mengaku telah mendapat berkah Ramadan, sehingga keadilan bisa diperoleh. Pihaknya mengaku selama ini sudah menjalani pidana penjara selama 5 bulan. ”Saya hanya bertugas meliput. Saya berharap hanya menjadi jurnalis yang terakhir yang mendapat permasalahan seperti ini, padahal dalam acara itu saya nggak ada tindakan merusak,” kata Ranu Huda, yang juga jurnalis Panjimas ini.

Kuasa hukum para terdakwa, Anis Proyo Ansori, menyatakan, vonis tersebut sudah sesuai pledoi (pembelaan) yang diajukannya. Ia menyatakan, karena vonis majelis hakim bebas, maka konsekuensinya JPU harus segera membebaskan seluruh kliennya. Sebab, semua perbuatan yang dituduhkan kepada kliennya tidak terbukti. ”Kami memang sudah menyatakan banding atas putusan sela sebelumnya, makanya akan kami cabut banding dari putusan sela itu,” tandasnya.

JPU Kejati Jateng, Slamet Margono, mengatakan pihaknya menyatakan pikir-pikir, karena harus berkoordinasi dengan pimpinannya terlebih dahulu. Ia mengaku, vonis majelis hakim tersebut memang dianggap tidak terbukti. ”Sebenarnya biasa saja, adanya beda pendapat di dalam persidangan. Tapi memang karena bebas, para terdakwa langsung dikeluarkan dari tahanan sekarang juga (Rabu kemarin, Red),” ungkapnya.

Seperti diketahui, sebanyak 12 anggota Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) mulai disidang dalam kasus dugaan perusakan dan penganiayaan di Kafe Social Kitchen Solo, akhir Desember 2016 lalu. Aksi sweeping itu dilakukan karena para terdakwa menilai Kafe Social Kitchen melanggar sejumla peraturan, seperti jam operasional, menjual minuman keras, dan menggelar pertunjukan tari telanjang. (jks/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

Tambah Puyeng, Suami Nganggur

RADARSEMARANG.COM, LADY Sandi, 38, harus siap menanggung beban dua kali lebih besar setelah menjatuhkan talak suaminya. Bukan tanpa alasan, John Dori, 45, yang gagah...

Tiga Bersamaan

Tiga orang hebat ini punya ide yang mirip-mirip. Hafidz Ary Nurhadi di Bandung, dr Andani Eka Putra di Padang dan Fima Inabuy di Kupang,...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Dewan Tidak Kuorum, Paripurna Batal

SALATIGA – Sidang paripurna DPRD Kota Salatiga dengan agenda Penandatanganan Persetujuan bersama Terhadap Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) kota Salatiga tahun 2017 -...

Latih Pramuka Demi Mengejar Pahala

SUDAH belasan tahun, Drs Suhadi Hadi Siswoyo, warga Jalan Saptamarga III No 109 Jangli, Tembalang melatih pramuka para siswa sekolah. Meski tak mendapat honor,...

Jateng Darurat Korupsi

RADARSEMARANG.COM, SALATIGA- Calon Gubernur Jawa Tengah nomor urut 2, Sudirman Said, menyatakan Jawa Tengah dalam kondisi darurat korupai. Pasalnya, Jateng 'menyumbang' 33 kepala daerah...

Dorong Bahasa Tradisional Digunakan

SEMARANG - Pendidikan tentang bahasa Jawa atau bahasa yang berunsur kedaerahan saat ini sulit ditemui. Pasalnya pendidikan anak usia dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD)...

Pendidikan Menengah Pekalongan 11 Terbawah

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Pendidikan menengah Kabupaten Pekalongan masih menduduki peringkat ke 24 dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Sebagai upaya mendongkrak rangking tersebut, Bupati Asip Kholbihi...

Laga Penentuan PSIS, Menang Atau Tersingkir

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - PSIS akan melakoni laga kedua ajang Piala Presiden 2018 versus tuan rumah Arema FC di Stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang, Kamis malam...