Pemerintah Tak Serius Lestarikan Seni Tari

Sanggar Tari Tradisional, Bagaimana Nasibmu Kini?

1360
UNJUK KEBOLEHAN : Penyajian tari yang dibawakan para penari dari Sanggar Greget di UPGRIS, beberapa waktu lalu. (AJIE MH/JAWAPOS RADAR SEMARANG)
UNJUK KEBOLEHAN : Penyajian tari yang dibawakan para penari dari Sanggar Greget di UPGRIS, beberapa waktu lalu. (AJIE MH/JAWAPOS RADAR SEMARANG)

Geliat tari tradisional terus dihimpit arus modernitas. Eksistensinya makin meredup ditelan gemerlapnya budaya asing yang masuk tanpa penyaring. Bagaimana nasibnya kini?

SANGGAR Tari Greget, Sobokarti, Lindu Panan, Yasa Budaya, Antika Budaya, UKM Kesenian Jawa Universitas Negeri Semarang (Unnes), Kariesta, Sekar Kedaton, dan Andika Budaya terbilang masih aktif. Meski catatan Dinas kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang ada sekitar 30 nama sanggar.

Nasib kesenian tari boleh dibilang ironis dan tragis. Di satu sisi, pemerintah menggembar-gemborkan agar seluruh masyarakat nguri-uri budaya Jawa, tapi di sisi lain, justru menelantarkannya. Pemerintah dinilai kurang serius dalam memberikan wadah bagi sanggar tari untuk unjuk taji.

Pengasuh Sanggar Greget, Yoyok Bambang Priambodo membeberkan bahwa pemerintah kurang mengapresiasi kensenian. Pemerintah tidak menyediakan sarana prasarana atau ruang pertunjukan khusus bagi para seniman tari yang ingin tampil.

“Di TBRS (Taman Budaya Raden Saleh) memang gratis, tapi tetap harus keluar uang pribadi. Seperti membayar kebersihan, beli solar untuk menghidupkan listrik, dan kebutuhan lainnya,” terangnya.

Jika memang tidak bisa memberikan tempat pertunjukan, dia berharap pemerintah bisa membuat wadah bagi sanggar-sanggar tari untuk tampil. Seperti membuat jadwal atau agenda pentas secara rutin. Entah bulanan, tiga bulanan, atau minimal tahunan. Tidak perlu memberi honor bagi para penari. Mereka bisa mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan tiket.

“Tapi harus disediakan dulu wadahnya. Seperti Wayang Orang Ngesti Pandawa yang setiap pekan punya jadwal pentas di TBRS. Kalau Pemkot Solo, selalu memberikan subsidi sekitar Rp 2,5 juta setiap sanggar yang pentas,” ucapnya.

Kalau pemerintah masih peduli dengan kesenian tari tradisional, sebaiknya juga memberikan bantuan berupa pelatihan bagi sanggar-sanggar tari. Seperti pelatihan manajemen, materi tari, dan lain-lain untuk mendongkrak eksistensi sanggar tari.

Manajemen sendiri dianggap syarat mutlak untuk mengetahui perkembangan dalam sebuah sanggar. Menurutnya, manajemen sanggar tari dalam kebutuhan pariwisata dapat menjadi sebuah industri yang bagus. “Kami butuh orang yang tepat untuk mengelola sanggar tari. Dengan demikian, penari dapat berlatih tari secara intensif tanpa memikirkan tetek bengek lainnya,” ujarnya.

Bantuan berupa sarana pengembangan seni tari, menurut Yoyok, juga masih sangat diperlukan bagi sebagian sanggar tari di Semarang. Misalnya peranti untuk menari. Entah itu kostum, make up penari, dan hal lain yang menunjang kebutuhan pentas.

Yoyok juga meminta agar pemerintah menghapus peraturan tentang sanggar tari harus memiliki sejumlah syarat ketika menerima job. Selama ini, banyak sanggar yang tidak dapat tanggapan karena tidak punya syarat yang ditentukan pemerintah. Seperti Akta Notaris, NPWP, SIUP, TDP, serta rentetan syarat lain yang memang tidak dimiliki sebagian besar sanggar di Kota Semarang.

Mbok peraturan itu dihilangkan saja. Kalau dipikir, ngapain sanggar tari bikin NPWP untuk bayar pajak, wong tanggapan saja sepi, tidak bisa dijagakke. Mungkin ke depan kalau banyak sanggar yang sudah maju, syarat itu bisa diberlakukan lagi,” harapnya.

Yoyok khawatir, jika pemerintah masih apatis soal nasib sanggar seperti sekarang, tidak lama lagi tari tradisional bisa dipastikan bakal punah. Sebab, tidak ada lagi yang bisa menolong keberadaan sanggar selain kepedulian dari pemerintah.

Dilihat dari ketertarikan masyarakat untuk melihat seni tari, menurut Yoyok, sebenarnya masih bisa dibilang antusias. Contohnya, ketika acara malam HUT Kemerdekaan RI atau 17 Agustusan, masih banyak kampung yang ingin menyajikan pentas tari anak-anak. “Artinya, peluang untuk membangkitkan eksistensi seni tari masih terbuka lebar,” jelasnya.

Meski antusiasme warga masih tinggi dalam menjaga seni tari tadisional, masih banyak yang enggan menerjuninya secara total. Bahkan ada orang tua yang menghalangi anaknya ketika ingin mendalami seni tari lebih mendalam. Sebab, sudah bukan rahasia lagi, jika masa depan seniman tari banyak yang suram. “Itu karena pemerintah tidak memberikan jaminan bagi para seniman tari. Terutama soal lapangan pekerjaan. Padahal seniman tari sedang banyak dibutuhkan. Untuk guru tari di sekolah, misalnya,” paparnya.

Diakui Yoyok, memang tidak semua kepentingan eksistensi pentas tari menjadi tanggung jawab pemerintah. Masing-masing sanggar juga perlu pembenahan agar geliat seni tari tradisional terlihat gaungnya.

Dijelaskan, baru-baru ini telah lahir forum yang memayungi pemilik sanggar tari di seluruh daerah di Jateng. Forum itu mencoba mengupas masalah masing-masing sanggar untuk dicarikan solusi bersama. Selain itu, mereka juga sepakat menggelar pentas tari bersama secara rutin. Setiap daerah bakal menjadi tuan rumah. “Embrionya, pentas bersama 20 Mei mendatang di Museum Ranggawarsito Semarang,” terang Yoyok.

Dia juga berharap agar setiap sanggar melakukan inovasi gerakan tari. Membuat tarian baru untuk memperkaya tarian tradisional. Memang tidak gampang melahirkan tarian baru, butuh eksplorasi dan kejelian agar tari yang dibawakan bisa menceritakan apa yang menjadi pesan sang pembuat. Selain itu, juga butuh jam terbang yang cukup. Untuk membuat satu tarian, seniman harus mau berkorban waktu yang tidak sedikit. Karena selain memikirkan gerakan, juga harus membuat musik pengiringnya.

Meski begitu, Yoyok yakin, dari segi kompetensi, pemilik sanggar tari di Semarang mampu melakukannya. Hanya saja, mereka masih minder untuk mempublikasikannya lewat pertunjukan di depan khalayak umum. “Mereka hanya kurang pede. Pernah saya ajak untuk mementaskan karya baru mereka, tapi tidak mau. Katanya kalah menarik dari tari modern asal Jepang dan Korea yang sering diputar di layar kaca,” bebernya.

Sanggar Greget sendiri hingga saat ini sudah melahirkan ratusan tari tradisonal. Dari ratusan tari tersebut, banyak yang sudah dikenal di kancah tari tradisional. Seperti Warak Dugder, Tari BatikDenok DeblongPutri Brintik, hinggaTari Angsa. Tarian tersebut juga kerap dijadikan mahasiswa jurusan seni ketika membuat skripsi.

Yoyok juga produktif dalam melahirkan tarian kelas dewasa dengan latar belakang tradisi. Tari Srimpi, Bedoyo, dan Langen Matoyo, misalnya. Ada juga tarian anak-anak yang lebih banyak bertema binatang dan dolanan bocah. Ada semut, gajah, jalak pitoy, kitiran, sepur-seputan, othok-othok, dan masih banyak lagi. “Soalnya setiap penyajian yang kami gelar rutin setiap semester, selalu ada minimal 10-20 tarian. Jadi sampai sekarang sudah ada ratusan tarian,” terangnya.

Saat ini, Sanggar Greget punya ratusan murid tari dengan sekitar 20 orang pelatih. Jumlah itu dibagi menjadi enam kelas. Tiga kelas untuk kategori anak-anak, dan tiga kelas untuk dewasa. Untuk satu kelas, terhitung ada 50-60 murid. “Jadi kami harus menyiapkan jam latihan setiap hari. Kalau Minggu malah padat. Dari pukul 09.00-21.00,” ucapnya.

Bagi yang ingin mendalami tari tradisional di Sanggar Greget, calon murid hanya dibebani Rp 125 ribu saja. Dari ongkos itu, mereka berhak mendapatkan kaos seragam latihan, sampur, jarik, dan CD yang berisi materi tari yang bakal dipelajari.

Menurut Yoyok, untuk bisa mendalami seni tari tradsional, tidak melulu harus punya bakat. Sebab, di era modern seperti sekarang, bisa belajar menari secara otodidak lewat internet. “Jadi siapa saja bisa mempelajarinya,” terangnya.

Ditanya terkait jam terbang Sanggar Greget, Yoyok mengaku sudah cukup eksis di kancah seni. Tidak hanya di tingkat lokal atau nasional, sanggar yang berada di bilangan Pamularsih ini sudah invasi ke beberapa negara di Asia hingga Eropa. September mendatang, Sanggar Greget diundang untuk membawakan tarian Jawa di Mata Fair di Kuala Lumpur Malaysia. “Agustus jadwalnya pentas di Taiwan, dan November di Barcelona, Spanyol,” cetusnya.

Sementara itu, salah satu pelatih tari Sanggar Greget, Ashallom Daniel Doohan mengaku, punya niat mendalami seni tari tradisional. Siswa kelas XI SMA 14 Semarang kelahiran Salatiga, 31 Mei 2000 ini mengaku ingin mengangkat eksistensi seni tari tradisional hingga kancah internasional. Minimal bisa mengajak bangsa Indonesia untuk kembali lebih mencintai budaya sendiri ketimbang sibuk mengelu-elukan budaya asing.

Dia mengakui, memang berat mewujudkan obesesinya tersebut. Terlebih, penari tradisional kebanyakan cewek. “Saya kerap diejek teman-teman. Cowok kok ajar nari trasional. Kan memang tari tradisional itu identik dengan cewek,” terangnya.

Tapi itu tidak mematahkan asanya. Dia justru lebih optimistis bisa meniti karier di kancah seni tari tradisional. “Justru cowok itu saingannya sedikit di seni tari. Jadi tidak khawatir soal pekerjaan nantinya. Kalau di seni lain seperti musik, kan banyak cowoknya,” tegas Daniel yang ingin melanjutkan sekolah di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini.

Ketika dimintai tanggapan mengenai regenerasi seniman tari, dia cukup optimistis. Hanya saja, dia merasa ada perbedaan motivasi dalam mendalami seni di setiap muridnya. Terutama mereka yang diikutkan tari karena disuruh orang tua. “Kan ada anak yang memang ingin belajar tari, ada juga yang dimasukkan tari oleh orang tua untuk sekadar beraktivitas. Nah, yang dimasukkan ini agak susah. Tapi biasanya kalau sudah menemukan kenikmatan, anak-anak bisa ketagihan. Seperti saya dulu yang awalnya memang diikutkan tari oleh orang tua,” jelasnya.

Pelatih tari Sanggar Greget lain, Sangghita Anjali mengaku masih penasaran dengan tarian Jawa. Sebab, meski sudah puluhan tahun menggelutinya, dia masih belum bisa menguasai tarian-tarian alusan. “Nari Jawa alusan itu butuh rasa. Tidak bisa asal gerak. Menyamakan gerakan dengan musik saja susahnya minta ampun. Sampai sekarang, saya masih perlu banyak berlatih,” ucapnya. (amh/ida)