33 C
Semarang
Sabtu, 4 Juli 2020

Guru Perekat Kemajemukan

Wachid Nugroho, M.Pd

Another

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya...

PERKEMBANGAN politik yang didramatisir melalui hiruk-pikuk sosial media tidak bisa dinafikan mempengaruhi pola berpikir dan cara pandang siswa terhadap rasa nasionalisme dan nilai-nilai persatuan bangsa. Ekses kegaduhan dan perseteruan elite dalam kehidupan berbangsa melalui kontestasi pemilihan kepala daerah akan terus berlangsung di tahun 2018 mendatang hingga puncaknya Pileg dan Pilpres 2019.

Debat kandidat, kampanye program, dan sosialisasi visi-misi dalam pesta demokrasi tersebut terbukti telah menimbulkan friksi tajam dan saling tuding antarpihak sebagai anti Pancasila, anti kebhinekaan, anti NKRI, kelompok radikal, aliran garis keras, pengikut fanatik buta, intoleran, dan sederet panjang predikat horor lainnya.

Peserta didik sebagai bagian entitas bangsa terlibat langsung maupun tidak langsung sebagai (calon) pemilih, juga calon kandidat pemimpin masa depan. Keterlibatan ini membawa konsekuensi pentingnya membentuk pemahaman yang utuh tentang rasa nasionalisme serta kesadaran kehidupan berbangsa dan bernegara dalam bingkai NKRI berdasarkan Pancasila yang telah final.

Kerukunan dan kebersamaan kehidupan berbangsa dalam kemajemukan suku, agama, ras, dan ormas yang selama ini sudah terpelihara dengan damai serasa perlu dirajut kembali dari ancaman keterkoyakan yang serius di depan mata.

Guru sebagai pendidik terpanggil nuraninya untuk bersikap antisipatif dan turut andil dalam tanggung jawab besar merekatkan kembali kemajemukan kehidupan berbangsa tersebut melalui interaksi intensifnya dengan para siswa di ruang-ruang kelas apapun mata pelajaran yang diampu. Setiap guru mapel wajib mengingatkan kembali kepada peserta didiknya bahwa negara kita didirikan dan dibangun oleh para founding fathers melalui permufakatan bijak yang mengedepankan kesatuan dan kepentingan bangsa di atas segala-galanya walaupun dilatarbelakangi perbedaan etnis, keyakinan, dan antar golongan.

Ajang pemilihan ketua OSIS di lingkungan sekolah bisa didesain sebagai pembelajaran demokrasi yang mengedepankan kebersamaan dan kerukunan antar siswa untuk merawat kemajemukan dan kesetiakawanan sosial. Jika selama ini proses tersebut diupayakan mengadopsi proses pemilu sebagai pembelajaran demokrasi di lingkungan sekolah dengan didahului kampanye penyampaian visi, misi, dan program calon ketua OSIS saja, maka perlu terobosan inovasi bagaimana memasukkan nilai-nilai toleransi, kebhinekaan, keberagaman, dan kemajemukan dengan mengeksplorasi pada penekanan latar belakang perbedaan para calon ketua OSIS disertai cara penyikapannya setelah ada kandidat terpilih dengan mengutamakan kepentingan bersama dan dukungan pihak yang kalah.

Di ruang sosial media, guru hendaknya menjadi yang terdepan dalam memberikan keteladanan pola berkomunikasi santun yaitu menanggapi suatu postingan secara argumentatif, rasional, dan dukungan data valid –bukan hoax, tanpa disertai caci-maki, dijauhkan dari sentimen rasis, muatan hate-speech, maupun provokasi kebencian dan permusuhan antar golongan. Dalam memproduksi maupun berbagi meme, tulisan motivasi, dan berbagai postingan pun guru sebagai perekat kemajemukan selalu mendasarkan diri pada kejernihan pola berpikir, keteduhan hati, serta asas kemanfaatan. Jangan latah ikut-ikutan menyebar berita dan isu yang sedang viral tanpa menyaring kandungan makna dan akibat penyebaran kabar tersebut yang bisa jadi sekadar informasi sampah, nir-manfaat, dan hoax.

Saat ini kemajuan teknologi telah mempermudah komunikasi antar individu/entitas, tetapi di sisi lain justru menimbulkan ekses negatif terkait rasa kecurigaan dan prasangka berlebihan, etika dan norma berinteraksi, miskomunikasi serta egosentrisme. Di era gadget android yang mutakhir sekarang ini, setiap identitas aktivitas selalu diikat dalam grup komunikasi baik via facebook, BBM, WhatsApp, maupun telegram. Guru yang tergabung dalam grup-grup identitas siswa tersebut misalnya grup rombel/kelas maupun grup kegiatan ekstrakurikuler dan lain-lain dapat memanfaatkan fungsi dan perannya sebagai sahabat siswa yang memberi arahan dan paradigma positif sehingga siswa tidak terjebak pada debat kusir perbedaan pendapat yang ujung pangkalnya hanya saling menyalahkan atau sebaliknya play victim berkaitan dukungan terhadap kandidat calon kepala daerah tertentu.

Saatnya guru tidak alergi dengan dunia politik dan sosial media yang membingkainya sebagai wahana pendidikan yang merekatkan keragaman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi siswa. Saatnya pendidikan bela negara melalui penguatan jiwa nasionalisme serta upaya merajut kemajemukan menjadi salah satu fokus mainstream pendidikan karakter dengan memanfaaatkan momentum peristiwa politik yang sedang boming akhir-akhir ini secara arif dan bijaksana. Saatnya menyambut era literasi guru peduli dan melek edukasi politik. (*/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

Tambah Puyeng, Suami Nganggur

RADARSEMARANG.COM, LADY Sandi, 38, harus siap menanggung beban dua kali lebih besar setelah menjatuhkan talak suaminya. Bukan tanpa alasan, John Dori, 45, yang gagah...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Belum Punya IMB, Diler Disegel

MAGELANG – Aktivitas pembangunan diler Astra Motor di Kedungsari, Magelang Utara terpaksa dihentikan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Magelang, Sabtu (17/6) lalu....

Dugaan Kampanye di Rekening Telepon

SALATIGA - Tim kampanye pasangan calon Agus Rudianto-Dance Ishak Palit (Rudi-Dance) kembali melaporkan dugaan pelanggaran kampanye terselubung ke Panwas Kota Salatiga, Senin (30/1). Kampanye...

Bunuh Korban dalam 45 Adegan

BATANG - Satreskrim Polres Batang menggelar rekonstruksi kasus pembunuhan yang menimpa Tumina, 47, warga Desa Pranten, Kecamatan Bawang, yang terjadi pada 10 Desember 2016...

Tanggul Jebol, 8 Desa di Sayung Kebanjiran

RADARSEMARANG.COM, DEMAK - Banjir di wilayah Kecamatan Sayung hingga kemarin masih merendam rumah warga. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Demak tercatat ada...

Relokasi Harus Segera Dilakukan

BANJARNEGARA – Warga Dusun Bulukuning Desa Kaliajir Kecamatan Purwanegara, mulai bernafas laga. Harapan relokasi ke tempat yang lebih aman segera terwujud. Penjabat (Pj) Bupati Banjarnegara...

Bambang Semakin Perkasa

“Kita masih menunggu rekomendasi dari DPP, dipasangkan dengan siapapun, saya siap.” Bambang Sukarno RADARSEMARANG.COM, TEMANGGUNG – Bambang Sukarno semakin perkasa. Setidaknya, itulah gambaran yang terjadi saat ini,...