PERKEMBANGAN politik yang didramatisir melalui hiruk-pikuk sosial media tidak bisa dinafikan mempengaruhi pola berpikir dan cara pandang siswa terhadap rasa nasionalisme dan nilai-nilai persatuan bangsa. Ekses kegaduhan dan perseteruan elite dalam kehidupan berbangsa melalui kontestasi pemilihan kepala daerah akan terus berlangsung di tahun 2018 mendatang hingga puncaknya Pileg dan Pilpres 2019.

Debat kandidat, kampanye program, dan sosialisasi visi-misi dalam pesta demokrasi tersebut terbukti telah menimbulkan friksi tajam dan saling tuding antarpihak sebagai anti Pancasila, anti kebhinekaan, anti NKRI, kelompok radikal, aliran garis keras, pengikut fanatik buta, intoleran, dan sederet panjang predikat horor lainnya.

Peserta didik sebagai bagian entitas bangsa terlibat langsung maupun tidak langsung sebagai (calon) pemilih, juga calon kandidat pemimpin masa depan. Keterlibatan ini membawa konsekuensi pentingnya membentuk pemahaman yang utuh tentang rasa nasionalisme serta kesadaran kehidupan berbangsa dan bernegara dalam bingkai NKRI berdasarkan Pancasila yang telah final.

Kerukunan dan kebersamaan kehidupan berbangsa dalam kemajemukan suku, agama, ras, dan ormas yang selama ini sudah terpelihara dengan damai serasa perlu dirajut kembali dari ancaman keterkoyakan yang serius di depan mata.

Guru sebagai pendidik terpanggil nuraninya untuk bersikap antisipatif dan turut andil dalam tanggung jawab besar merekatkan kembali kemajemukan kehidupan berbangsa tersebut melalui interaksi intensifnya dengan para siswa di ruang-ruang kelas apapun mata pelajaran yang diampu. Setiap guru mapel wajib mengingatkan kembali kepada peserta didiknya bahwa negara kita didirikan dan dibangun oleh para founding fathers melalui permufakatan bijak yang mengedepankan kesatuan dan kepentingan bangsa di atas segala-galanya walaupun dilatarbelakangi perbedaan etnis, keyakinan, dan antar golongan.

Ajang pemilihan ketua OSIS di lingkungan sekolah bisa didesain sebagai pembelajaran demokrasi yang mengedepankan kebersamaan dan kerukunan antar siswa untuk merawat kemajemukan dan kesetiakawanan sosial. Jika selama ini proses tersebut diupayakan mengadopsi proses pemilu sebagai pembelajaran demokrasi di lingkungan sekolah dengan didahului kampanye penyampaian visi, misi, dan program calon ketua OSIS saja, maka perlu terobosan inovasi bagaimana memasukkan nilai-nilai toleransi, kebhinekaan, keberagaman, dan kemajemukan dengan mengeksplorasi pada penekanan latar belakang perbedaan para calon ketua OSIS disertai cara penyikapannya setelah ada kandidat terpilih dengan mengutamakan kepentingan bersama dan dukungan pihak yang kalah.

Di ruang sosial media, guru hendaknya menjadi yang terdepan dalam memberikan keteladanan pola berkomunikasi santun yaitu menanggapi suatu postingan secara argumentatif, rasional, dan dukungan data valid –bukan hoax, tanpa disertai caci-maki, dijauhkan dari sentimen rasis, muatan hate-speech, maupun provokasi kebencian dan permusuhan antar golongan. Dalam memproduksi maupun berbagi meme, tulisan motivasi, dan berbagai postingan pun guru sebagai perekat kemajemukan selalu mendasarkan diri pada kejernihan pola berpikir, keteduhan hati, serta asas kemanfaatan. Jangan latah ikut-ikutan menyebar berita dan isu yang sedang viral tanpa menyaring kandungan makna dan akibat penyebaran kabar tersebut yang bisa jadi sekadar informasi sampah, nir-manfaat, dan hoax.

Saat ini kemajuan teknologi telah mempermudah komunikasi antar individu/entitas, tetapi di sisi lain justru menimbulkan ekses negatif terkait rasa kecurigaan dan prasangka berlebihan, etika dan norma berinteraksi, miskomunikasi serta egosentrisme. Di era gadget android yang mutakhir sekarang ini, setiap identitas aktivitas selalu diikat dalam grup komunikasi baik via facebook, BBM, WhatsApp, maupun telegram. Guru yang tergabung dalam grup-grup identitas siswa tersebut misalnya grup rombel/kelas maupun grup kegiatan ekstrakurikuler dan lain-lain dapat memanfaatkan fungsi dan perannya sebagai sahabat siswa yang memberi arahan dan paradigma positif sehingga siswa tidak terjebak pada debat kusir perbedaan pendapat yang ujung pangkalnya hanya saling menyalahkan atau sebaliknya play victim berkaitan dukungan terhadap kandidat calon kepala daerah tertentu.

Saatnya guru tidak alergi dengan dunia politik dan sosial media yang membingkainya sebagai wahana pendidikan yang merekatkan keragaman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi siswa. Saatnya pendidikan bela negara melalui penguatan jiwa nasionalisme serta upaya merajut kemajemukan menjadi salah satu fokus mainstream pendidikan karakter dengan memanfaaatkan momentum peristiwa politik yang sedang boming akhir-akhir ini secara arif dan bijaksana. Saatnya menyambut era literasi guru peduli dan melek edukasi politik. (*/ida)