964 Kios dan Los Pasar Mangkrak

660
BENAHI KIOS: Jelang ditempati pada 25 Januari mendatang, sejumlah pekerja tengah membangun kios dan lapak di Pasar Rejomulyo Baru, kemarin. (Adityo.dwi@radarsemarang.com)
BENAHI KIOS: Jelang ditempati pada 25 Januari mendatang, sejumlah pekerja tengah membangun kios dan lapak di Pasar Rejomulyo Baru, kemarin. (Adityo.dwi@radarsemarang.com)

SEMARANG – Sebanyak 964 kios dan los di sejumlah pasar tradisional di Kota Semarang tidak berpenghuni. Kios dan los itu mangkrak serta telah disegel dan diambilalih oleh Dinas Perdagangan Kota Semarang dalam dua bulan terakhir.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto, mengatakan, semula total yang mangkrak mencapai 1.024 kios dan los. Itu diketahui setelah pihaknya melakukan penertiban di 16 pasar tradisional. Namun 60 pemilik kios dan los di antaranya sudah mengurus administrasi dengan melakukan pembayaran retribusi. Mereka menyatakan siap untuk kembali menempati. ”Sisanya 964 buah kios dan los pasar belum ada niat dari penghuni lama untuk melakukan pembayaran retribusi,” kata Fajar Purwoto, kemarin.

Kios dan los tersebut dalam kondisi ditinggalkan oleh pedagang. Saat ini, status kios dan los tersebut diambilalih oleh Dinas Perdagangan Kota Semarang, untuk selanjutnya dibuka kesempatan bagi pedagang baru yang bersedia menempatinya untuk berdagang. ”Baru-baru ini penyegelan dilakukan di tiga pasar, yakni 19 kios dan 49 los di Pasar Udan Riris Tlogosari, sebanyak 4 kios dan 16 los di Pasar Penggaron, serta 2 kios dan 6 los di Pasar Bangetayu,” beber Fajar.

Pihaknya masih memberikan kesempatan bagi penghuni lama yang memiliki niat untuk berdagang.  Fajar mempersilakan pemilik lama jika ingin menempati kios dan los agar melakukan pengurusan administrasi di Dinas Perdagangan Kota Semarang. Termasuk melakukan pembayaran tunggakan retribusi selama ini. ”Rata-rata kios yang kami segel sudah dalam kondisi kosong karena ditelantarkan oleh penghuninya. Bahkan ada yang sudah kosong sejak dua tahun lalu,” katanya.

Pengurusan administrasi bagi pemilik kios lama ini diberi waktu hingga Mei mendatang. Jika sampai batas waktu yang ditentukan tidak ada kejelasan, pihaknya akan memberikan kepada pedagang baru yang bersedia untuk berjualan. Kios-kios tersebut juga akan diberikan secara gratis.

”Kami membuka kesempatan bagi masyarakat Kota Semarang yang ingin berjualan dan membuka usaha di pasar tradisional. Kami akan berikan kepada masyarakat secara gratis tanpa ada biaya apa pun,” ujarnya.

Masyarakat yang ingin berjualan hanya diminta membawa persyaratan seperti fotokopi KTP, KK dan jenis usahanya. ”Jika memang mereka serius. Nanti akan kami berikan kios. Kami berharap, setiap pasar tradisional harus semakin ramai dan hidup,” harapnya.

Salah satu pedagang Pasar Yaik, Thohari, mengakui, fenomena kios kosong banyak terjadi di pasar-pasar tradisional di Kota Semarang. Tetapi, menurutnya, pedagang meninggalkan kios ada sebab-sebabnya. ”Ini sebenarnya fenomena yang harus bisa dibaca oleh Dinas Perdagangan. Jangan asal menyegel. Kenapa pedagang meninggalkan kios? Ini artinya ada sistem perekonomian yang kurang tepat. Bisa saja adanya perubahan sistem, mengakibatkan pedagang bangkrut. Kalau memang demikian, seharusnya Dinas Perdagangan mencarikan solusi untuk menyelamatkan pedagang agar tidak bangkrut,” katanya.

Banyak contoh, katanya, di tempat relokasi Pasar Johar di kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) misalnya, saat ini banyak temannya sesama pedagang gulung tikar. Penyebabnya, fasilitas tempat relokasi tersebut tidak mendukung untuk berdagang. ”Misalnya sepi, karena tidak di-setting dengan dilengkapi terminal angkutan. Ini lambat laun mengakibatkan pedagang bangkrut. Bahkan teman saya ada yang sampai dagangannya ludes hanya untuk makan, mobil habis untuk makan, dan dia sekarang bekerja menjadi Go-Jek,” ujarnya.

Dia meminta, permasalahan kios mangkrak itu harus diurai secara bijak. Pedagang sebenarnya butuh pertolongan dan solusi terbaik dari pemerintah. Hal itu agar perekonomian lancar. ”Bukan malah mendapat ancaman akan disegel,” katanya. (amu/aro/ce1)