Heru Susilarto, Salah Satu Empu Keris Terbaik Asal Muntilan
Heru Susilarto, Salah Satu Empu Keris Terbaik Asal Muntilan

BUKAN KLENIK : Heru Susilarto menunjukkan salah satu keris buatannya.(MUKHTAR LUTFI/JAWA POS RADAR KEDU)

Salah satu perajin keris terbaik di Indonesia ternyata berasal dari Kabupaten Magelang. Tepatnya di Dusun Nglawisan Desa Tamanagung Kecamatan Muntilan. Heru Susilarto namanya.

Siapa dia?

MUKHTAR LUTFI, Mungkid

Sejumlah bagian rumah itu tampak berantakan. Besi-besi berserakan. Beberapa serbuk besi juga dibiarkan tercecer di tanah.

Bunyi bising dari sebuah gerindra terdengar hingga depan rumah. Siang itu, Heru Susilarto, tampak sedang sibuk menyelesaikan pekerjannya.

Sesekali, keningnya mengkerut. Tangannya membenarkan kacamata yang melorot. Pria 54 tahun ini juga berkali-kali mengamati dengan begitu seksama setiap detail keris yang sedang dia ciptakan. “Setiap detailnya harus sempurna,” katanya lirih.

Ya, pria asal Dusun Nglawisan Desa Tamanagung Kecamatan Muntilan ini memang seorang pembuat keris. Kalau zaman dahulu disebut empu.

Padahal, dia tidak lahir dari darah seorang empu. Awalnya, Heru hanya seorang kolektor keris. Dia menyukai warisan budaya asli Indonesia itu sejak 1993 silam.

Perlahan, dia mencoba ingin membuat kerisnya sendiri. Dia terus belajar dan berani mencoba. Hasilnya, kini karya-karyanya memiliki nilai jual cukup tinggi di kalangan pencinta keris di Indonesia. “Dasarnya saya memang senang dengan kesenian dan produk-produk kesenian, salah satunya keris. Namun tidak menyangka saya malah bisa berkembang dengan sendirinya menjadi pengrajin keris,” terang Heru.

Beberapa keris yang dibuat oleh Heru memiliki pamor Mataram. Ciri khasnya memiliki luk atau bagian melengkung. Jumlah luk keris selalu ganjil. “Sedangkan pamor sendiri adalah bagian motif yang ada pada badan keris, dan itu juga bisa menggambarkan dari mana keris itu berasal,” jelasnya.

Untuk membuat keris, dia memakai bahan baku besi, baja, dan nikel. Hasil karya ini sudah tembus hingga pasaran nasional. Harganya pun tergolong mahal.

Beberapa keris buatanya pernah terjual dengan harga Rp 7 juta. Bahkan, ada yang terjual hingga Rp 75 juta. Berbagai pameran keris pun telah ia ikuti. Dia juga mendapatkan peringkat 10 besar pande keris se-Indonesia.

Namun, dia sangat menyayangkan perkembangan keris saat ini mulai berbelok arah. Banyak orang yang mengaitkan keris dengan hal mistis dan klenik. “Persepsi sekarang apabila sudah ada benda yang bernama keris, pasti konotasi utamanya adalah dukun, sakti dan hal-hal mistis.” Padahal, keris merupakan salah satu warisan budaya luhur Indonesia yang harus dilestarikan. “Padahal kalau mau ditelisik, keris sendiri itu adalah senjata yang digunakan pada zaman dahulu dan tidak lebih,” tegas dia.

Keris sebenarnya sudah tidak digunakan kembali sejak bubuk mesiu ditemukan. Tak ada kesan sakti dan lain sebagainya pada keris di masa itu. “Kenapa masyarakat sekarang malah menganggap keris sebagai sesuatu yang berbau klenik, sebenarnya salah kaprah itu dikarenakan culture saja yang sudah terpatri dari generasi ke generasi,” ungkap Heru.

Dia juga menyayangkan keberadaan anak muda zaman sekarang yang kurang memperhatikan produk seni dan peninggalan budaya satu ini. Padahal ini sangat penting, jangan sampai diklaim oleh negara lain lagi.

“Saya berharap kepada generasi muda di Indonesia khususnya, untuk jangan takut dengan culture yang telah ada selama ini. Yang jelas keris itu hanya senjata nenek moyang kita zaman dulu yang selayaknya kita lestarikan karena memiliki nilai seni yang sangat tinggi,” jelasnya. (*/ton)