UNGARAN–Sebulan jelang puasa, harga bahan pangan di pasar tradisional Kabupaten Semarang terpantau mulai naik. Seperti halnya di Pasar Bandarjo Ungaran.

“Untuk harga cabai dan bumbu pawon lain, memang sudah mulai naik sejak tujuh sampai empat hari lalu,” tutur salahsatu pedagang Pasar Bandarjo, Kastri, 45, Kamis (27/4) kemarin.

Selain itu, kenaikan juga masih terlihat di beberapa jenis cabai. Harga cabai merah keriting misalnya, naik sekitar Rp 4.000 per kilogram. Dari Rp 21.000 per kilogram menjadi Rp 25.000 per kilogram.

Sedangkan cabai rawit merah atau cabai setan dan cabai merah besar naik Rp 5.000 per kilogram. Masing-masing dari Rp 55.000 per kilogram menjadi Rp 60.000 per kilogram dan Rp 30.000 per kilogram menjadi Rp 35.000 per kilogram.

Kenaikan harga juga terjadi pada bawang putih. Dari harga pada hari biasa yaitu Rp 57 ribu per kilogram menjadi Rp 65 ribu per kilogram. “Sudah naik dari kulakannya, kami hanya menyesuaikan saja. Dan memang di masa sebelum puasa seperti ini harga sudah biasa naik sedikit,” ujarnya.

Saat dihubungi, Kabid Perdangan Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Semarang, Imum mengatakan kenaikan harga bahan pangan jelang puasa merupakan hal wajar. “Karena ada sentimen pasar yang dipicu peningkatan kegiatan masyarakat seperti pernikahan maupun tradisi jelang puasa. Itu membuat permintaan meningkat,” ujarnya.

Hasil survei harga bahan pangan Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan memperlihatkan kenaikan harga sudah mulai terasa sejak awal bulan April ini. Komoditas utama seperti gula pasir naik di kisaran Rp 750 per kilogram, daging ayam ras naik Rp 2.500 per kilogram. Sementara itu, pada sayuran, kenaikan terjadi di bawang putih dan tomat, naik Rp 5.000 dan Rp 3.000 tiap kilogramnya.

“Kenaikan tersebut biasanya terjadi di komoditas lain seperti beras, minyak goreng maupun daging. Namun komoditas-komoditas itu saat ini masih terpantau normal,” tuturnya.

Dikatakan Imum, pihaknya telah melakukan langkah untuk mengantisipasi lonjakan tidak wajar. “Kami selalu berkoordinasi dengan dinas terkait, utamanya Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, untuk ketersediaan stok,” ujarnya.

Langkah lain dengan selalu menyosialisasikan harga bahan pangan di tingkat petani atau produsen. “Kami juga terus berupaya memutus rantai distribusi yang panjang. Kami usahakan antara petani hingga pedagang bisa konek langsung. Maksimal hanya satu tingkatan distribusi. Salah satu cara yakni dengan selalu menyosialisasikan harga di tingkat petani,” ujarnya. (ewb/ida)