Uji Kelayakan Tol Semarang-Solo Molor Lagi

1384
MOLOR : Beberapa alat berat masih sibuk memindahkan tanah di Bukit Polisiri tol Semarang–Solo, ruas Bawen – Salatiga, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MOLOR : Beberapa alat berat masih sibuk memindahkan tanah di Bukit Polisiri tol Semarang–Solo, ruas Bawen – Salatiga, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

UNGARAN–Uji kelayakan tol Semarang-Solo ruas Bawen–Salatiga kembali molor. Sebelumnya, dijadwalkan Mei, namun karena hingga saat ini masih proses penyelesaian konstruksi, sehingga uji kelayakan mundur dan dijadwal ulang bulan Juni mendatang.

“Kami menargetkan kontruksi selesai akhir Mei dan setelah itu baru uji kelayakan jalan dilakukan Juni,” ujar Direktur Operasi dan Teknik PT Trans Marga Jateng (TMJ), Ali Zainal Abidin, Rabu (26/4) kemarin.

Saat ini, proses pengerjaan tol tersebut sudah mencapai 98 persen. Ruas Bawen–Salatiga memiliki panjang 17,6 kilometer. Proses pengerjaan ruas tersebut memang terkendala lamanya proses pengerukan tanah. Lantaran terdapat perbukitan yang tingginya terlalu menanjak. Sehingga perlu dilakukan pengerukan lagi, agar jalan lebih datar dan tidak terlalu menanjak. “Terutama di Bukit Polosiri, Bawen. Kami berharap penuruan tanah 15 meter ke bawah ini segera selesai,” katanya.

Ditargetkan, dalam sehari puluhan alat berat yang sudah diterjunkan tersebut dapat memindahkan tanah sebanyak 10 ribu meter kubik. Diakuinya, kondisi cuaca memang masih menghantui proses pengerjaan tol di ruas tersebut. Cuaca ekstrim menyebabkan proses pengerukan bukit menjadi terhambat. Padahal, pihak TMJ sendiri sudah menambah jumlah SDM (Sumber Daya Manusia) untuk mempercepat proses pengerukan tanah. “Kami targetkan, sebelum arus mudik sudah bisa digunakan. Kami berharap sudah berfungsi secara operasional, tidak sekadar fungsional,” tuturnya.

Hal lain, pembangunanya yang sedang diupayakan selesai yaitu pengerjaan sejumlah rest area di ruas Semarang–Salatiga. Hal itu untuk melengkapi kebutuhan para pemudik saat Lebaran 2017 yang menggunakan akses jalan tol Semarang–Solo. Pihak TMJ meletakkan rest area tersebut pada kilometer 39 dan 32. Saat memasuki arus mudik Lebaran nanti, pihak TMJ memberlakukan kendaraan golongan satu non bus dan kendaraan kecil yang diperbolehkan melintas tol.

Hal itu lantaran posisi exit tol Tingkir – Salatiga kondisi jalannya cenderung masih menyempit. Dimana exit tol itu menjadi palangpintu kendaraan dari arah Semarang menuju Solo. “Jika kendaraan golongan dua dan tiga atau kendaraan besar diperbolehkan untuk melintas, bisa terjadi kemacetan panjang sehingga kami lakukan pembatasan,” ujarnya.

Jalan Raya Tingkir yang langsung menjadi akses pintu keluar tol Semarang – Salatiga, hanya memiliki lebar enam meter dan jaraknya menuju ke jalan raya Semarang-Solo sekitar empat kilometer. (ewb/ida)