TERABAIKAN : Situs Batu Bale, potensi wisata yang kini hanya dijadikan tempat bermain anak-anak dan aksi corat-coret. (AHMAD ABDUL WAHAB/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TERABAIKAN : Situs Batu Bale, potensi wisata yang kini hanya dijadikan tempat bermain anak-anak dan aksi corat-coret. (AHMAD ABDUL WAHAB/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Demak melalui dinas terkait, seharusnya dapat menggarap dan mengelola situs Situs Batu Bale, yang tak jauh dari Kota Semarang. Sehingga bisa mendatangkan banyak wisatawan. Seperti apa kondisinya sekarang?

AHMAD ABDUL WAHAB, Demak

SITUS Batu Bale merupakan salah satu potensi wisata di Desa Batursari, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak. Situs ini dianggap sebagai peninggalan purbakala zaman megalitikum, oleh karenanya diakui sebagai cagar budaya oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah.

Situs Batu Bale terdiri atas susunan beberapa batu besar yang dinaungi oleh pohon besar, sehingga terkesan memiliki aura mistis. Namun sayang, terkait dengan penamaan situs tersebut, tak banyak data yang bisa didapat.

Menurut pengakuan warga sekitar, Bale sendiri diartikan sebagai rumah, tetapi kebanyakan sepakat Bale mempunyai arti tempat tidur, karena bentuknya yang menyerupai ranjang tempat tidur.

Salah satu warga, Imam Baihaqi, mengatakan, dulu banyak wisatawan yang berduyun-duyun datang yang didorong rasa keingintahuan dan penasaran mereka. Tetapi, saat ini sudah jarang pengunjung yang datang, lantaran tidak adanya fasilitas yang mendukung di lokasi tersebut. Sementara itu, lokasi situs yang berada di tengah area pertanian warga juga turut menyamarkan pengunjung yang hendak datang. “Sekarang hanya anak-anak kecil yang datang. Itupun hanya untuk bermain dan mencorat-coret batu,” katanya.

Dia berharap, situs tersebut bisa mendapat perhatian dan penanganan yang lebih serius dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Demak melalui dinas terkait, salah satunya dengan membuatkan taman di sekitar situs tersebut .“Agar semakin ramai, apalagi letaknya di kawasan perumahan,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Batursari, Sutikno, mengatakan bahwa pihaknya saat ini belum mengalokasikan dana untuk sarana dan prasarana situs yang ada di desanya tersebut. Meski demikian, komunikasi dengan Balai Pelestarian Purbakala Jawa Tengah sering dilakukan. “Anggaran desa sangat terbatas, tetapi kami komunikasikan dengan dinas terkait agar ke depan bisa lebih baik lagi,” paparnya. (*/ida)