PEMERIKSAAN SAKSI: Lima saksi diperiksa dalam perkara dugaan korupsi pengadaan benih tebu di Kabupaten Pati yang digelar di Pengadilan Tipikor Semarang, kemarin. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PEMERIKSAAN SAKSI: Lima saksi diperiksa dalam perkara dugaan korupsi pengadaan benih tebu di Kabupaten Pati yang digelar di Pengadilan Tipikor Semarang, kemarin. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Lima saksi diperiksa dalam sidang perkara dugaan korupsi pengadaan benih tebu pola II tahap II di Kabupaten Pati pada Dinas Perkebunan (Dinbun) Provinsi Jateng 2013 di Pengadilan Tipikor Semarang, Selasa (25/4) petang. Dalam perkara itu, yang didudukkan sebagai terdakwa adalah Hamim Teja Permana, Direktur CV Intraco Pratama (IP), dan Andri Priyanto, panitia pelaksana.

Kelima saksi itu adalah Dr Moelyono, Kepala Seksi Lahan dan Air Sarpas Dinas Perkebunan Provinsi Jateng yang juga ketua panitia pengadaan; Abdul Ghofur, Staf Bagian Umum Dinas Perkebunan Provinsi Jateng yang juga sekretaris bagian pengadaan, dan Dr Hermono Budi Santoso, mantan Kepala Biro Pusat Penelitian Perkebunan Pabrik Gula Indonesia (P3GI) Pasuruan.  Dua saksi lainnya adalah Sutarman, Wakil Kepala Divisi Teknik PT Asuransi Mega Paratama dan Surono, Staf Kasi Perangkat Desa Bumiayu.

Dalam perkara itu, para saksi diperiksa secara bersama sesuai usulan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Jateng. Menurut JPU, keterlibatan para saksi saling berkaitan. Saat ditanya majelis hakim, para saksi juga kompak menyatakan sebelumnya pernah diperiksa sebagai saksi di penyidik Ditreskrimsus Polda Jateng. Saksi juga mengaku sudah meneliti Berita Cara Pemeriksaan (BAP) dan mengakui keterangannya, kemudian ditandatangani.

”Tidak ada BAP yang mau diralat dan diubah yang mulia,” kata kelima saksi saat ditanya majelis hakim yang dipimpin Sunarso SH.

Dalam dakwaannya, JPU Kejati Jateng, Maliki, mengungkapkan, dugaan korupsi dilakukan kedua terdakwa bersama Ir Mahfudi Husodo, pemilik CV IP, dan Ir Soesiati Rahayu MM, Kepala Seksi Teknologi Benih Bidang Produksi pada Dinbun Provinsi Jateng. Soesiati merupakan Pejabat Pembuat Komitmen (PPKom) proyek. (keduanya belum diproses hukum, Red).

JPU menguraikan, pengadaan benih tebu pada 2013 dilaksanakan berpagu Rp 17.902.400.000 dan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) Rp 13.721.600.000. Atas pengadaan itu, Mahfudi menemui Teguh Winarno Haruno, Kepala Dinbun Jateng menanyakan syarat dan prosesnya. Kemudian, Mahfudi membentuk tim pengurus yang terdiri atas kedua terdakwa dan anak buahnya.

Pemilik PT Indonesia Teknologi Multi (ITM) itu bersama timnya, dan Direktur PT Hidayah Nur Wahana (HNW), Sutrisno, meminjam sejumlah nama perusahaan untuk lelang. Lima panitia pengadaan menetapkan HPS dan proses lelang. Lelang diikuti PT HNW, PT Hidup Indah Utama,  CV Datrias Manru Sejahtera (DMS), PT Unisari Adiprima, PT Karya Mudajaya,P T Bumi Wanabakti dan PT ITM. Akhirnya, PT ITM dinyatakan sebagai pemenang lelang.

”Kemenangan itu mendapat sanggahan dari CV DMS. DMS menilai terjadi rekayasa lelang dan melapor ke Dinbun Jateng dan Kementerian. Dari investigasi, kementerian menyatakan digelar lelang ulang,” jelas Maliki.

Lelang ulang digelar dan diikuti 19 perusahaan. Empat lolos, dua di antaranya CV IP dan PT Putra Pribumi Nusantara (PPN). Keduanya diketahui kongkalikong. PT PPN yang menang, dibatalkan, dan diganti CV IP sebagai pelaksana pengadaan.

”Jadi, sebanyak 171.520 kuintal seharga satuan Rp 78,4 ribu per kuintal. Sebagai kelompok tani penerima bantuan, yakni Makmur Mandiri, Makmur Jaya, Tani Makmur dan Subur Makmur,” ungkapnya.

Dalam perkara itu, kedua terdakwa dijerat primer pasal 2 ayat 1 dan subsider pasal 3 jo pasal 8 UU No 31/1999 sebagaimana diubah UU No 20/2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi jo pasal 55 ayat 1 KUHP. (jks/aro/ce1)