Keliling Indonesia di Food Festival

2662
KULINER: Kapolres Salatiga AKBP Happy Perdana Yudianto dan Dandim 0714/Salatiga Letkol Asjur Bahasoan didampingi Pimpinan UKSW tengah menikmati sajian kuliner dalam acara Food Festival IICF UKSW 2017. (DHINAR SASONGKO/RADAR SEMARANG)
KULINER: Kapolres Salatiga AKBP Happy Perdana Yudianto dan Dandim 0714/Salatiga Letkol Asjur Bahasoan didampingi Pimpinan UKSW tengah menikmati sajian kuliner dalam acara Food Festival IICF UKSW 2017. (DHINAR SASONGKO/RADAR SEMARANG)

SALATIGA – Suasana seperti berada di kampung halaman begitu terasa saat memasuki lapangan basket Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Delapan belas daerah mengikuti acara Indonesian International Culture Festival (IICF) 2017.

Selasa (25/4) hingga Kamis (27/4) digelar Kampung Budaya, Culture Festival, serta Food Festival. Setiap kelompok etnis menampilkan kekhasan daerahnya dalam stan-stan berukuran 3×4 meter yang didirikan berjajar di pinggir lapangan.

Setiap stan dihias dengan properti yang disiapkan khusus seperti miniatur rumah adat, souvenir, dan pernak pernik. Sementara itu dalam agenda Food Festival, setiap etnis menyuguhkan makanan khas daerahnya. Setiap pengunjung diajak untuk memanjakan lidah dengan mencoba beragam kuliner khas Indonesia yang disajikan.

Dari ujung Sumatera yang diwakili oleh etnis Batak Karo, tersaji makanan khas seperti Tasak Telu yaitu olahan ayam dan daun ubi yang dimasak dengan aneka rempah serta Cipera olahan berbahan dasar jamur dan tepung jagung berbentuk bubur. Tak mau kalah, perwakilan etnis Papua yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Papua dan Papua Barat (HMPPAR) menyuguhkan Papeda yang sagunya dikirim khusus dari Papua dengan sayur kuah ikan Kaulina yang beli di Semarang. Selain Papeda, pengunjung juga dapat menikmati legitnya Kue Lontar yang dibuat dari bahan dasar susu, telur, dan minyak Pala asli Papua.

Tidak hanya perwakilan etnis dari Indonesia, tiga negara sahabat, Timor Leste, Filipina serta Meksiko turut berpartisipasi dalam event tahunan ini. Filia, mahasiswi asal Timor Leste yang saat ini tengah mengambil kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (Fiskom) UKSW menuturkan, dirinya dan rekan-rekan menyuguhkan Tukir yang hanya dapat dijumpai dalam pesta adat warga Timor Leste. Tukir merupakan makanan berbahan dasar ayam yang diolah dengan campuran rempah dan dibakar dalam bambu.

“Tukir dan nasi bakar sangat nikmat jika dimakan dengan sambal budu, hampir seperti sambal dabu-dabu milik Indonesia tapi kami tidak pakai jeruk,” imbuhnya.