TAK PERNAH KAPOK: Narapidana narkotika Lapas Nusakambangan, Babae, kembali menjalani sidang bersama tiga kurirnya di PN Semarang, kemarin. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TAK PERNAH KAPOK: Narapidana narkotika Lapas Nusakambangan, Babae, kembali menjalani sidang bersama tiga kurirnya di PN Semarang, kemarin. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Residivis yang menjadi otak peredaran narkoba jenis sabu seberat 1 kg di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nusakambangan, Sutrisno alias Babae harus kembali duduk di kursi persidangan Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Selasa (25/4). Ia dijerat tiga pasal sekaligus oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Jateng. Yakni, pasal 114 jo pasal 132, pasal 114 dan pasal 112 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika.

Babae sendiri tercatat sebagai narapidana kasus narkotika dengan vonis hukuman 6 tahun dan 8 bulan penjara. Selain Babae, tiga kurir yang juga pengedar turut dijerat dengan pasal berlapis. Ketiganya, Sulistyo Wibowo, Fendi Suryo dan Mudikta Delina.

”Ketiga terdakwa lain (Sulistyo, Fendi dan Mudikta) kami jerat pasal 114 ayat 2 Jo pasal 132 Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika dan pasal 112 dalam undang-undang yang sama,” kata JPU Kejati Jateng, Kurnia, di hadapan majelis hakim yang dipimpin Ahmad Dimyanti.

Adapun kejadian yang dilakukan para terdakwa, lanjut JPU Kurnia, bermula saat Sutrisno bertemu Sulistyo Wibowo dan Muhdita di Lapas Nusakambangan. Setelah itu, terdakwa Sutrisno sering menghubungi terdakwa Sulistyono untuk mengambil paket sabu-sabu dari Jakarta, dan diedarkan di daerah Surakarta.

”Terdakwa Sulistyo Wibowo ini sudah berkali-kali disuruh Sutrisno mengambil sabu-sabu dari Jakarta, dan diedarkan di Surakarta. Dari kegiatan itu, Sulistyo mendapat upah antara Rp 3,5 juta hingga Rp 15 juta,” bebernya.

Setelah mendapatkan barang, Sulistyo kemudian pulang ke Surakarta menggunakan kereta api. Sesampainya di Stasiun Solo Balapan, ia ditelepon oleh Sutrisno untuk menyerahkan barang itu ke terdakwa Fendi. Selain itu, di Stasiun Solo Balapan tersebut terdakwa juga ditemui Muhdita yang tidak lain adalah pacar terdakwa.

Terakhir, Sutrisno meminta Sulistyo Wibowo mengambil sabu-sabu seberat 1 kg di Jakarta. Sulistyo dijanjikan akan diberi upah Rp 15 juta. Kemudian Sulistyo berangkat sendiri ke Jakarta untuk mengambil pesanan itu yang diketahui berasal dari jaringan internasional dengan pengirim warga Nigeria.

Dalam kasus ini, ketiga terdakwa kemudian ditangkap petugas BNNP Jateng, sementara di Lapas Nusakambangan dilakukan pemeriksaan terhadap Babae dan ditemukan handphone sebagai alat komunikasi mengendalikan peredaran narkotika oleh Sutrisno.

”Ketiganya ditangkap petugas BNNP Jateng saat bertransaksi di Stasiun Balapan. Dari tangan para terdakwa, diamankan narkotika jenis sabu seberat 1 kg,” ujarnya. (jks/aro/ce1)