33 C
Semarang
Kamis, 28 Mei 2020

Babae Dijerat Pasal Berlapis

Residivis Narkoba Lapas Nusakambangan

Another

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos...

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi,...

Karya Didi Kempot: Ditulis Sekarang, Terkenal Puluhan Tahun Kemudian (5)

Manisnya karir tak didapat Didi Kempot begitu saja. Ada perjuangan berat yang dilalui. Kuncinya adalah terus berjalan di jalur...

SEMARANG – Residivis yang menjadi otak peredaran narkoba jenis sabu seberat 1 kg di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nusakambangan, Sutrisno alias Babae harus kembali duduk di kursi persidangan Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Selasa (25/4). Ia dijerat tiga pasal sekaligus oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Jateng. Yakni, pasal 114 jo pasal 132, pasal 114 dan pasal 112 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika.

Babae sendiri tercatat sebagai narapidana kasus narkotika dengan vonis hukuman 6 tahun dan 8 bulan penjara. Selain Babae, tiga kurir yang juga pengedar turut dijerat dengan pasal berlapis. Ketiganya, Sulistyo Wibowo, Fendi Suryo dan Mudikta Delina.

”Ketiga terdakwa lain (Sulistyo, Fendi dan Mudikta) kami jerat pasal 114 ayat 2 Jo pasal 132 Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika dan pasal 112 dalam undang-undang yang sama,” kata JPU Kejati Jateng, Kurnia, di hadapan majelis hakim yang dipimpin Ahmad Dimyanti.

Adapun kejadian yang dilakukan para terdakwa, lanjut JPU Kurnia, bermula saat Sutrisno bertemu Sulistyo Wibowo dan Muhdita di Lapas Nusakambangan. Setelah itu, terdakwa Sutrisno sering menghubungi terdakwa Sulistyono untuk mengambil paket sabu-sabu dari Jakarta, dan diedarkan di daerah Surakarta.

”Terdakwa Sulistyo Wibowo ini sudah berkali-kali disuruh Sutrisno mengambil sabu-sabu dari Jakarta, dan diedarkan di Surakarta. Dari kegiatan itu, Sulistyo mendapat upah antara Rp 3,5 juta hingga Rp 15 juta,” bebernya.

Setelah mendapatkan barang, Sulistyo kemudian pulang ke Surakarta menggunakan kereta api. Sesampainya di Stasiun Solo Balapan, ia ditelepon oleh Sutrisno untuk menyerahkan barang itu ke terdakwa Fendi. Selain itu, di Stasiun Solo Balapan tersebut terdakwa juga ditemui Muhdita yang tidak lain adalah pacar terdakwa.

Terakhir, Sutrisno meminta Sulistyo Wibowo mengambil sabu-sabu seberat 1 kg di Jakarta. Sulistyo dijanjikan akan diberi upah Rp 15 juta. Kemudian Sulistyo berangkat sendiri ke Jakarta untuk mengambil pesanan itu yang diketahui berasal dari jaringan internasional dengan pengirim warga Nigeria.

Dalam kasus ini, ketiga terdakwa kemudian ditangkap petugas BNNP Jateng, sementara di Lapas Nusakambangan dilakukan pemeriksaan terhadap Babae dan ditemukan handphone sebagai alat komunikasi mengendalikan peredaran narkotika oleh Sutrisno.

”Ketiganya ditangkap petugas BNNP Jateng saat bertransaksi di Stasiun Balapan. Dari tangan para terdakwa, diamankan narkotika jenis sabu seberat 1 kg,” ujarnya. (jks/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos...

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi, Jawa Pos — KATA sang kakak, ”Pas kecil...

Karya Didi Kempot: Ditulis Sekarang, Terkenal Puluhan Tahun Kemudian (5)

Manisnya karir tak didapat Didi Kempot begitu saja. Ada perjuangan berat yang dilalui. Kuncinya adalah terus berjalan di jalur yang diyakini. Tak berhenti meski...

Memungut Keteladanan sang Kakak untuk Kejar Impian Kesuksesan (4)

Mamiek Prakoso yang pintar ngomong jadi motivator bagi sang adik yang pendiam, Didi Kempot. Hubungan keduanya dekat, meski Didi sering sungkan minta sangu kepada...

Di Bus Kota Nyanyi Lagu Indonesia, di Bus AKAP Lagu Jawa (3)

Bahkan saat mulai awal mengamen di Solo pun, Didi Kempot sudah membawakan lagu ciptaan sendiri, Cidro salah satunya. Suaranya yang merdu dan karakternya yang...

More Articles Like This

Must Read

Kaderisasi Berpijak pada Pendidikan Kebangsaan

RADARSEMARANG.COM - Menurut Abdurrahman, ada tiga ruh yang membangkitkan agenda kaderisasi Ansor di masa mendatang. Pertama, dengan mengambil spirit Nahdlatul Wathan, pendidikan dan pengkaderan...

TPP Berkurang, Guru Protes

SEMARANG – Sejumlah guru SMA/SMK di Jawa Tengah mulai protes dengan adanya kebijakan pengambilalihan kewenangan dari kabupaten/kota ke Pemprov Jateng. Salah satu penyebabnya, ternyata...

18 Ribu Lubang Jalan Ditambal

SEMARANG - Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) VII Jateng telah menyelesaikan misi dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk menambal 18...

Hijaukan Lingkungan Sekolah

KENDAL - SDN 2 Patukangan, Kecamatan Kendal Kota menekankan Pembiasaan Hidup Bersih Sehat (PHBS) dan menjaga lingkungan hijau bagi  setiap anak-anak didik tak terkecuali...

Ajak Lari Bersama Sekaligus Berdonasi

Lari adalah olahraga yang murah dan menjadi pilihan banyak orang. Termasuk mereka yang tergabung dalam Komunitas Fakerunners Semarang. Komunitas ini memilih olahraga lari untuk...

Ketika Bayu Ahmad Kembangkan Bisnis Carica

Menuju sukses, tidak mudah bagi pelaku usaha. Butuh keberanian, keuletan, dan segudang inovasi produk. Itu saja tidak cukup. Itulah yang dilakoni Bayu Ahmad, owner...