Lapak Dagangan Bermunculan, Pengunjung Asyik Berfoto

Ketika Jalan Anyar jadi Primadona Pelancong

1118
WISATA BARU : Sejumlah wisatawan berada di jalan lingkar luar Kertek. Sayang, cuaca mendung membuat mereka gagal melihat sunset di lokasi ini.
WISATA BARU : Sejumlah wisatawan berada di jalan lingkar luar Kertek. Sayang, cuaca mendung membuat mereka gagal melihat sunset di lokasi ini.

Salah satu kebutuhan untuk memenuhi tuntutan bermedia sosial adalah berswafoto. Maka, kadang berwisata tak lagi penting untuk dinikmati. Terpenting, lebih dulu foto-foto narsis untuk diunggah di media sosial. Di Wonosobo, jalan anyar beton yang baru dibangun pun, jadi jujukan warga sekadar untuk memenuhi kebutuhan medsos. Seperti apa?

ZAIN ZAINUDIN, Kertek

JALAN lingkar luar Kertek, yakni jalan penghubung Desa Candiyasan-Desa Keseneng, memberi berkah tersendiri bagi warga sekitar. Sebab, betonisasi jalan sepanjang 900 meter itu, mendadak jadi wisata terkenal yang digandrungi ratusan pengunjung saat sore hari.

Melihat peluang itu, ibu-ibu warga sekitar (Dukuh Kaliurip, Damarkasihan, Kertek), membuka lapak dagangan. Alhasil, pundit-pundi rupiah terus mengalir dampak hadirnya wisata. Sedikitnya, ada 15 lapak yang berderet di samping kiri kanan beton seanjang 900 meter. Jualannya beragam. Semua lapak dagangan terpantau laris manis.

Informasi yang dihimpun koran ini, muncul silang pendapat mengenai wisata ungulan di jalan anyar itu. Ada yang berpendapat, sunset yang jadi unggulan. Ada juga suasana sejuk yang ditawarkan ke pengunjung.

Lepas dari pendapat para pemuda sekitar, jalan beton warna putih yang membentang berliku, menjadi pemandangan yang khas. Terlebih, di sekitar kiri beton, tampak hamparan hijau teh tambi, sehingga bagus untuk berswa foto. “Viewnya yang bagus. Disukai muda-mudi yang datang kesini,” ucap Jalil, pemuda setempat.

Soal suguhan sunset, kadang muncul sesekali. Hanya saja, karena cuaca sore kerap mendung, sunset sangat jarang terlihat. “Sudah 3 kali ke sini, cuma nggak pernah dapat sunset,” kata Yunita, 19, pengunjung dari Sapuran.

Seorang penjual jajanan, Aprilia, 34, menyebut, setiap sore sedikitnya 700 sampai 800 pengunjung berwisata ke tempat itu. Pada hari libur atau akhir pekan, pengunjung wisata jalan anyar Blembem membeludak, bisa mencapai 1.000-1.500 orang. “Kalau pas ramai sampai kewalahan melayani pembeli.”

Pengunjung tidak ditarik tiket untuk menikmati suasana sore di objek wisata tersebut. Untuk menuju lokasi, rata-rata pengunjung melintasi pertigaan pasar kentang, Binangun Wringinanom, karena jalannya bagus. (*/isk)