SEMARANG – Dugderan sampai sekarang masih menjadi tradisi rutin tahunan menjelang Ramadan. Namun tahun ini tidak akan ada permainan anak, seperti ’tong setan’ bianglala, komedi putar, dan permainan anak lainnya.

Hal itu ditiadakan karena alasan keterbatasan lahan. Pasar rakyat ini akan digelar di kawasan Alun-alun dekat Masjid Agung Semarang atau Masjid Kauman, samping Hotel Metro, Jalan Agus Salim, hingga dekat Kantor Pos.

”Dugderan tahun 2017 ini, Pemkot Semarang tidak menyediakan lahan untuk tempat permainan anak-anak. Sebab, permainan anak-anak tersebut menyita lahan yang cukup luas,” kata Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto, Jumat (21/4).

Terlebih, kata dia, lahan sekitar Pasar Johar sejak terbakar sangat terbatas. Saat ini, persiapan Dugderan sudah dilakukan. ”Bahkan sejumlah pedagang dari berbagai daerah sudah berdatangan. Terutama para pedagang gerabah,” katanya.

Para pedagang saat ini transit di pinggir Jalan Soekarno – Hatta dekat kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). ”Kebetulan, setiap menjelang Dugderan, di sekitar kawasan MAJT juga digelar pasar malam untuk pesta rakyat,” katanya.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang Umi S Diniyah mengatakan, tradisi Dugderan di Kota Semarang telah menjadi identitas. Maka dari itu, Dugderan harus tetap dirawat agar tetap terjaga. ”Dugderan sudah melekat dengan Kota Semarang, maka pemerintah kota melalui dinas-dinas terkait agar bisa sinergi untuk meramaikan Dugderan,” katanya.

Dia mengakui keterbatasan lahan cukup menjadi kendala dalam pelaksanaan Dugderan. Namun demikian, pihaknya berharap agar hal itu bisa ditata secara rapi. ”Tradisi Dugderan agar berlangsung tertib, tertata, dan meriah. Tetapi juga agar tidak mengganggu kepentingan jalan umum,” imbuhnya. (amu/zal/ce1)