PROSESI SIRAMAN : Seorang sukerto atau peserta ruwatan menjalani prosesi siraman kembang setaman, kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PROSESI SIRAMAN : Seorang sukerto atau peserta ruwatan menjalani prosesi siraman kembang setaman, kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

DEMAK-Tradisi ruwatan masal hingga kini terus dijalankan. Kemarin, sebanyak 212 sukerto diruwat di Pendopo Notobratan, Kelurahan Kadilangu, Kecamatan Demak Kota. Ritual budaya ini cukup menarik lantaran diiringi gending Jawa serta gelaran wayang kulit dengan lakon Murwokolo yang diperankan oleh dalang Ki Kondibuwono.

Ketua Panitia, Suwadi mengatakan bahwa para sukerto yang diruwat mengenakan lembaran kain serba putih. Selain mendengarkan ki dalang, mereka juga menjalani mandi atau siraman kembang setaman. Setelah itu, kuku dan rambut dipotong sebagai simbol hilangnya aura jahat atau sengkolo. Sebelumnya, mereka juga menjalani prosesi siweran yaitu diikat tali lawe dan disebar beras kuning. Ini dilakukan agar mereka tidak diganggu betorokolo.

Mereka juga melakukan sungkem kepada orang tua dan sesepuh ahli waris Sunan Kalijaga. “Ruwatan ini adalah ritual budaya yang terus kita uri-uri sampai sekarang. Alhamdulillah, setiap tahun kita dapat menggelar dua kali ruwatan dengan ratusan peserta dari berbagai daerah,” katanya. Menurutnya, tradisi ruwatan akan terus dijalankan agar kearifan lokal tetap terjaga dengan baik. (hib/ida)