WONOSOBO – Pembasmian wabah kaki gajah (filariasis) di Kabupaten Wonosobo dengan cara minum obat serentak, akan dilaksanakan bulan Juli 2017. Rencana pencegahan dan pembasmian endemik kaki gajah ini, sempat tertunda. Sebelumnya dijadwalkan pada Oktober 2016 namun mundur karena belum tersedianya obat.

Pengobatan kaki gajah serentak ini menjadi prioritas setelah sebelumnya dilakukan survei, kemudian hasilnya menunjukkan 2 warga Wonosobo dinyatakan positif filariasis secara klinis. “Dengan 2 penemuan itu kita dinyatakan endemik filariasis. Guna membasmi itu, satu satunya dengan pengobatan masal anti-filaria,” kata Sudiman, programer P2B2, Seksi P2PM Dinkes Wonosobo belum lama ini.

Seluruh masyarakat, mulai dari usia 2 tahun sampai usia 70 tahun diwajibkan mengikuti program pengobatan masal ini. Pengecualian, bagi warga yang mengidap penyakit tertentu seperti kelainan fungsi ginjal, epilepsi, jantung, sakit berat, fillaria kronis, anak dengan marasmus (gizi buruk) disarankan tidak meminum obat anti-filaria ini.

“Teknisnya di lapangan, nanti tetap dikasih, cuma ditunda sampai sembuh dulu,” katanya.

Kendati obat anti-fillaria ini tidak disarankan untuk masyarakat dengan penyakit tertentu, namun masyarakaat diimbau tak perlu khawatir. Pasalnya, sebelum hari H pelaksanaan, sudah dilakukan pendataan oleh kader dan petugas setempat. Jadi petugas telah membaca riwayat kesehatan yang akan diberi obat.

“Saya pastikan tidak akan ada kesalahan pemberian obat semacam itu. Semua kita data dengan jelas,” ucapnya.

Dikatakan, rentang waktu sebulan masa pemberian obat bisa dimanfaatkan oleh petugas untuk menunda pemberian obat anti-fillaria. Selain pengecualian kepada masyarakat dengan penyakit yang telah disebutkan, penundaan juga berlaku bagi ibu yang baru saja melahirkan.

Mengingat waktu pelaksanaan sudah dekat, ia berharap petugas kesehatan desa/kecamatan mulai menyosialisasikan kegiatan ini. Di beberapa puskesmas sudah mulai terlaksana seperti di Puskesmas 2, Kecamatan Selomerto.

“Kegiatan di puskesmas kemarin diikuti oleh kades 8 desa, ibu-bu PKK dan camat. Semoga bisa dicontoh oleh puskesmas lain,” katanya. (cr2/lis)