2 Warga Terserang Kaki Gajah

Must Read

Virus Bersih

Semua operator cruise tahu: musuh utama bisnis mereka adalah virus atau bakteri. Karena itu aturan kebersihan di sebuah perjalanan cruise luar biasa ketatnya. Bagi yang...

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau...

WONOSOBO – Pembasmian wabah kaki gajah (filariasis) di Kabupaten Wonosobo dengan cara minum obat serentak, akan dilaksanakan bulan Juli 2017. Rencana pencegahan dan pembasmian endemik kaki gajah ini, sempat tertunda. Sebelumnya dijadwalkan pada Oktober 2016 namun mundur karena belum tersedianya obat.

Pengobatan kaki gajah serentak ini menjadi prioritas setelah sebelumnya dilakukan survei, kemudian hasilnya menunjukkan 2 warga Wonosobo dinyatakan positif filariasis secara klinis. “Dengan 2 penemuan itu kita dinyatakan endemik filariasis. Guna membasmi itu, satu satunya dengan pengobatan masal anti-filaria,” kata Sudiman, programer P2B2, Seksi P2PM Dinkes Wonosobo belum lama ini.

Seluruh masyarakat, mulai dari usia 2 tahun sampai usia 70 tahun diwajibkan mengikuti program pengobatan masal ini. Pengecualian, bagi warga yang mengidap penyakit tertentu seperti kelainan fungsi ginjal, epilepsi, jantung, sakit berat, fillaria kronis, anak dengan marasmus (gizi buruk) disarankan tidak meminum obat anti-filaria ini.

“Teknisnya di lapangan, nanti tetap dikasih, cuma ditunda sampai sembuh dulu,” katanya.

Kendati obat anti-fillaria ini tidak disarankan untuk masyarakat dengan penyakit tertentu, namun masyarakaat diimbau tak perlu khawatir. Pasalnya, sebelum hari H pelaksanaan, sudah dilakukan pendataan oleh kader dan petugas setempat. Jadi petugas telah membaca riwayat kesehatan yang akan diberi obat.

“Saya pastikan tidak akan ada kesalahan pemberian obat semacam itu. Semua kita data dengan jelas,” ucapnya.

Dikatakan, rentang waktu sebulan masa pemberian obat bisa dimanfaatkan oleh petugas untuk menunda pemberian obat anti-fillaria. Selain pengecualian kepada masyarakat dengan penyakit yang telah disebutkan, penundaan juga berlaku bagi ibu yang baru saja melahirkan.

Mengingat waktu pelaksanaan sudah dekat, ia berharap petugas kesehatan desa/kecamatan mulai menyosialisasikan kegiatan ini. Di beberapa puskesmas sudah mulai terlaksana seperti di Puskesmas 2, Kecamatan Selomerto.

“Kegiatan di puskesmas kemarin diikuti oleh kades 8 desa, ibu-bu PKK dan camat. Semoga bisa dicontoh oleh puskesmas lain,” katanya. (cr2/lis)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Virus Bersih

Semua operator cruise tahu: musuh utama bisnis mereka adalah virus atau bakteri. Karena itu aturan kebersihan di sebuah perjalanan cruise luar biasa ketatnya. Bagi yang...

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini hadir dengan keunggulan internal memori...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau SARS 18 tahun lalu. SARS: yang...

Wajah Baru Warnai Ofisial Tim PSIS

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – PSIS Semarang resmi memperkenalkan ofisial tim musim depan. Terdapat beberapa nama baru yang akan bahu-membahu membantu pelatih Dragan Djukanovic mengarsiteki Mahesa Jenar...

Lomba Cepat

Berita buruknya: korban virus Wuhan bertambah terus. Sampai kemarin sudah 106 yang meninggal. Hampir semuanya di Kota Wuhan --ibu kota Provinsi Hubei.Berita baiknya: yang...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -