Komunitas Sinema Demak menjadi satu-satunya komunitas film yang ada di Kabupaten Demak. Bukan sekadar memutar film, tetapi visi misi komunitas ini adalah menyampaikan pesan-pesan sosial. Seperti apa?

AHMAD ABDUL WAHAB, Demak

MINIMNYA ruang apresiasi terhadap sinema alternatif bagi komunitas pecinta film pendek, dokumenter maupun film panjang yang tidak mampu menembus ruang komersial menjadi keprihatinan bagi sejumlah pemuda pecinta film di Kabupaten Demak. Hal itu pula yang mendorong mereka mendirikan Komunitas Sinema Demak pada 28 Mei 2016.

Semula, komunitas ini hanya beranggotakan dua orang saja. Yakni, Ahmad Nadhif dan temanya, Labib Sabihuddin. Setelah berjalannya waktu, sekarang anggota satu-satunya komunitas di Demak itu sudah mencapai 25 orang.

Bertempatkan di Srawung Kopi, Jalan Sunan Kalijaga Nomor 18, Kadilangu, Demak, komunitas ini rutin menggelar pemutaran film tiap sebulan sekali. Yang diangkat, biasanya film-film alternatif karya terbaik dari Komunitas Sinema Demak sendiri maupun komunitas film lainnya.

Ahmad Nadhif mengatakan bahwa melalui pemutaran film yang rutin tersebut, maka karya-karya film yang tidak mampu menembus ruang komersial dapat diapresiasi oleh semua kalangan. “Kehadiran ruang alternatif seperti ini menjadi sangat penting bagi masyarakat yang menginginkan tontonan yang beragam,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (22/4) kemarin.

Menurutnya, pemahaman masyarakat terhadap dunia perfilman khususnya di Demak, sangat minim. Mayoritas beranggapan jika film hanya identik dengan sinetron dan bioskop saja. Padahal di luar itu, banyak sekali ragam bentuk dari film itu sendiri. “Terpenting, film-film tersebut berlatar belakang dengan kondisi sosial saat ini,” ujarnya.

Beragam manfaat yang dapat diambil, selain bisa langsung bertemu dengan film maker-nya, setelah penayangan akan ada diskusi mendalam terkait pesan apa yang dapat diambil setelah menikmati sajian film yang ditayangkan. Sebab, hal itu yang tidak didapatkan dari tempat pertunjukan seperti di bioskop. “Jadi pemahaman masyarakat masih sebatas menikmati saja,” bebernya.

Pemuda kelahiran 8 November 1991 silam tersebut, menambahkan, bahwa ada banyak PR yang harus dilakukan bersama Komunitas Sinema Demak ke depan. Salah satunya mengedukasi masyarakat melalui film-film alternatif. Hal itu dilakukan dengan menyasar masyarakat desa, dengan mengangkat film yang mengandung isi dan pesan-pesan tertentu sesuai dengan apa yang dihadapi oleh masyarakat. “Seperti persoalan sampah, korupsi hingga hal-hal yang terkait dengan keberagaman agama,” imbuhnya.

Selain itu, dalam waktu dekat ini, komunitas tersebut akan menggelar pemutaran film dan diskusi dengan menggandeng Forum Pemerhati Lingkungan dan Kebudayaan Demak (FPLKD). “Acara ini sebagai bentuk sifat kritis masyarakat Demak akan kelangsungan Kota Wali yang sebentar lagi menjadi kota industri,” ungkapnya.

Sementara itu, Anis Machfudoh, salah satu anggota, mengaku tertarik bergabung dengan Komunitas Sinema Demak lantaran melihat adanya kesamaan hobi. Di sisi lain, memang perkembangan dunia perfilman di Demak sendiri jauh tertinggal dari kota-kota yang ada di sekitarnya. “Masih banyak yang harus dilakukan ke depannya. Sedangkan saat ini, masih sebatas pengenalan,” katanya.

Tak hanya itu, mahasiswa jurusan antropologi Universitas Gajah Mada (UGM) ini menambahkan bahwa dengan adanya komunitas yang berlatarkan nama daerah, menjadi kepuasan tersendiri. “Rasanya bangga sekali. Apalagi jika memiliki banyak kesempatan bisa berkumpul bareng komunitas-komunitas lintas kota,” ungkapnya.

Namun demikian, dia berharap, agar eksistensi Sinema Demak mendapatkan sambutan positif dari pemerintah setempat. Sebab, saat ini pemutaran film hanya dilakukan di tempat-tempat tertentu saja. Padahal untuk menjangkau masyarakat luas dibutuhkan ruang terbuka. “Pernah mencoba memanfaatkan ruang terbuka seperti Alun-Alun Demak, tetapi berujung kegagalan dan urung terlaksana,” ujarnya.

Untuk mengakali hal itu, rencananya akan dilakukan keliling desa dengan memutar film menggunakan layar tancap. “Meskipun ini kami lakukan secara swadaya anggota,” tuturnya penuh semangat. (*/ida)