PERBANYAK KOLEKSI : Kepala Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah, M Masrofi menunjukkan kartu anggota perpustakaan Provinsi Jateng. (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PERBANYAK KOLEKSI : Kepala Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah, M Masrofi menunjukkan kartu anggota perpustakaan Provinsi Jateng. (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SECARA keseluruhan, minat baca masyarakat Indonesia, masih kalah dengan negara lain. Berdasarkan hasil survei lembaga independen, Indonesia menduduki peringkat ke 61 dari 65 negera. “Minat baca kita masih rendah. Indonesia masih kalah dengan negara Vietnam dan Thailand,” kata Kepala Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah M Masrofi kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Jawa Tengah, imbuhnya, memiliki perpustakaan wilayah milik Pemprov Jateng dengan koleksi ratusan ribu buku. Meliputi buku pendidikan, agama, praktik, termasuk buku anak anak. “Perpustakaan buku yang ada di Jalan Sriwijaya, ada sekitar 300 ribuan koleksi buku. Masyarakat Jawa Tengah dan Kota Semarang bisa meminjam dan membaca di perpustakaan,” terangnya.

Sedangkan jumlah pengunjung di perpustakaan, diakuinya, selalu meningkat dari tahun ke tahun. Tercatat, di tahun 2014 terdapat 14.313 ribu, tahun 2015 meningkat menjadi 16.717 orang, dan tahun 2016 sebanyak 17.366 ribu orang. Sampai dengan tahun 2017 mulai Januari sampai akhir Pebruari, ada tambahan keanggotaan baru sebanyak 1.889 ribu.

“Kalau melihat data, animo masyarakat yang meminjam buku sangat tinggi. Kami berharap tahun demi tahun akan terus meningkat. Itu belum dihitung dengan jumlah pengunjung website, yang akhir tahun 2016 sebanyak 537.582 pengunjung,” katanya.

Menanggapi maraknya gerobak maupun warung perpustakaan atau pojok baca, Masrofi menyambut positif. Bahkan, pihaknya turut mendorong agar sampai ke desa-desa hingga tingkat RT dan RW. Tentu saja, tetap dalam pembinaannya selaku petugas perpustakaan. “Kami juga memberikan bantuan buku dan rak buku melalui APBD Jateng maupun pembantuan dari pemerintah pusat. Kami mendorong supaya di desa-desa ada buku bacaan,” terangnya.

Bahkan, melalui Dinas Pendidikan atau Dinas Kearsipan dan Perpustakaan kabupaten/kota, disediakan jam khusus bagi sekolah agar siswa-siswinya masuk ke perpustakaan untuk membaca. “Harus mendorong anak didik gemar membaca sejak dini. Mungkin pas hari Jumat atau Sabtu, diberikan waktu satu sampai dua jam untuk membaca di perpustakaan,” jelasnya.

Terkait peminjam buku pada perpustakaan desa atau pojok baca yang mengalami penurunan, pihaknya siap memberikan bantuan peminjaman bukusampai batas waktu yang ditentukan. “Ssetelah dipinjam, tetap harus dikembalikan, terus dipinjam lagi. Sebab, kalau memberikan bantuan pembelian buku, ada keterbatasan anggaran. Makanya, cara membantunya begitu sehingga buku perpustakaan bisa bergulir ke daerah lain,” terangnya.

Selain itu, pihaknya telah memiliki enam mobil perpustakaan keliling yang telah dioperasikan setiap hari dan Sabtu Minggu buka. Bahkan, sudah ada langganan, seperti di Semarang Barat dan Semarang Utara. “Masyarakat bisa mendaftar menjadi anggota dan pinjam buku di mobil keliling. Di wilayah kota atau kabupaten juga sama,” terangnya.

Sementara itu, di tengah gempuran teknologi informasi, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Jateng juga berusaha melakukan inovasi yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Yakni, dengan meluncurkan perpustakaan digital yang memudahkan masyarakat atau pengunjung dalam meminjam buku di perpustakaan. “Perpustakaan digital ini masih terbatas. Namun demikian, tidak semua buku yang ada di perpustakaan di-upload dengan alasan buku yang ada masih dilindungi oleh hak cipta ataupun penerbit,” katanya.

Saat ini, jelasnya, yang sudah di-upload ke e book adalah buku-buku yang memiliki sejarah di Jawa Tengah. “Perpustakaan Digital ini, baru akan kami launching setelah Lebaran. Kami sudah bekerjasama dengan penerbit agar semua buku yang up to date dimasukan ke dalam digital,” terangnya.

Harapannya, masyarakat yang menggunakan gadget atau handphone bisa tetap mengakses melalui teknologi tersebut. Sehingga jauh lebih mudah dalam membaca buku. “Nantinya ada dua versi, buku yang cetak disimpan di perpustakaan dan satunya buku elektronik. Mungkin 200 buku akan masuk di perpustakaan digital,” katanya.

Selain itu, di dalam perpustakaan digital tersebut akan dibuatkan web agar masyarakat yang memiliki buku bisa meng-upload koleksi buku di web tersebut. Sehingga memudahkan masyarakat lain mengaksesnya. “Jadi disitu sudah ada petunjuknya. Tidak hanya perpustakaan daerah saja yang bisa muncul, tapi perpustakaan pribadi bisa juga masuk kesitu,” pungkasnya. (mha/ida)