MEMBACA bisa menambah informasi. Makin banyak yang dibaca, otomatis banyak informasi yang diserap. Sehingga, wawasan penyuka baca, bisa dipastikan lebih luas dari yang ogah-ogahan mengeja kata-kata.

Sedangkan mereka yang minim informasi, gampang dipengaruhi. “Seperti mudah percaya berita hoax. Soalnya mereka tidak punya referensi untuk mengonfirmasi informasi yang didapat,” kata Yanuar Firdaus, founder Pustaka Jalanan kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Karena itu, dia bersama empat sahabatnya yang sama-sama suka membaca, yaitu Panji Graha, Tirto Pratama, Zulfikar Ahmad, dan Tofik Royani tergugah untuk mendongrak minat baca masyarakat dengan melahirkan Pustaka Jalanan, Oktober 2016 lalu. Banyak aktivitas yang mereka lakukan. Terutama merayu masyarakat, khususnya kalangan remaja untuk mau membaca buku.

Saban Minggu, mereka menggelar buku di Car Free Day (CFD) Jalan Pahlawan Semarang. Tepatnya di depan Gedung Pramuka. Ada juga Bengkel Budaya setiap bulan yang digeber bareng Bengkel Sastra Taman Maluku di Cafe John Dijkstra, kompleks Kota Lama. “Kebetulan John Dijkstra juga satu misi sama kami. Cafe ini menyediakan banyak buku untuk dibaca. Seperti perpustakaan,” jelas pria yang akrab disapa Daus ini.

Dia menjelaskan, Pustaka Jalanan memupuk obsesi punya markas sendiri. Sebuah tempat yang nyaman untuk membaca dan menyimpan koleksi buku yang dimiliki Pustaka Jalanan. Tapi cita-cita itu, sepertinya masih lama direalisasikan. Sebab, Daus mengaku saat ini pihaknya masih dalam tahap merintis.

Koleksi buku yang mereka miliki pun masih belum tembus 200 buku. Buku-buku itu merupakan koleksi dari lima founder Pustaka Jalanan, ditambah hibah dari pihak lain. Kebanyakan koleksinya adalah buku-buku beraroma sejarah dan cerita anak-anak. “Sampai saat ini, kami masih ingin memperbanyak koleksi buku dulu. Kalau ada yang mau menghibahkan bukunya, bisa langsung mengontak kami,” tegasnya.

Sementara itu, founder Pustaka Jalanan lain, Panji menambahkan bahwa pihaknya masih sekadar memberikan wadah atau ruang baca saja. Agar masyarakat tahu seperti apa pentingnya budaya baca.

Meski begitu, dia mengakui jika memberikan ruang baca saja tidak cukup. Pasalnya, membaca butuh kesadaran. “Kalau memang tidak ada niat untuk membaca, ada ruang membaca pun ya percuma,” cetusnya.

Mengenai pemberian ruang baca, lanjutnya, pemerintah sudah menyediakannya. Bahkan lengkap dengan fasilitas-fasilitas khas pemerintahan. Termasuk perpustakaan keliling yang membawa sejumlah buku ke beberapa penjuru. “Sayang perpustakaan keliling ini belum menjangkau ke pelosok desa,” imbuhnya.

Panji pun punya tekad untuk merayu agar orang-orang suka membaca. Menurutnya, membaca itu mengenal. Membaca juga bisa membuat seseorang menjadi pintar meski tidak melalap bangku sekolah tinggi. “Membaca itu bukan hanya baca buku. Bisa baca koran, majalah, atau informasi-informasi lain yang bisa diakses lewat internet di gadget,” paparnya. (amh/ida)