Jalan Harus Dilengkapi Drainase

2041

SEMARANG – DPRD menyorot pembangunan infrastruktru jalan di Jateng yang masih belum dilengkapi dengan drainase. Kondisi ini secara tidak langsung membuat jalan lebih cepat rusak.

Anggota Komisi D DPRD Jateng,  Muhammad Ngainirrichadl mencontohkan di kawasan Banyumanik Semarang, pembangunan jalan di Kudus, Blora dan sejumlah daerah lain. Pihaknya mengetahui setelah melakukan pengecekan langsung di lapangan. “Iya memang ada beberapa yang belum dilengkapi drainase, ini menjadi perhatian kami,” katanya.

Politisi PPP ini menambahkan, belum adanya drainase jelas menjadi persoalan serius. Karena ketika musim hujan, air tidak bisa mengalir dan akhirnya merusak konstruksi jalan tersebut. Karena air bisa lebih mudah merusak kontruksi jalan dan ini akan membuat pembangunan jalan di Jateng tidak bisa bertahan lama. “Pemprov harus memperhatikan dan segera memperbaiki, agar jalan di Jateng tidak mudah rusak,” ujarnya.

Jawa Tengah sudah memiliki Peraturan Daerah tentang Standarisasi Jalan Kolektor Primer dan Sekunder di Provinsi Jawa Tengah. Jalan harus memiliki lebar 7 meter terdiri dari jalur lalu lintas (satu arah) 2,5 meter; bahu jalan 0,5 meter; median jalan maksimal 1,5 meter serta harus ada pemisah jalur atau marka jalan. “Jalan milik pemprov yang masih di bawah 7 meter harus ditingkatkan, ini sesuai aturan yang berlaku,” tambahnya.

Dewan berharap pembangunan jalan di Jateng benar-benar sesuai aturan yang berlaku. Mengingat infrastruktur jalan berperan penting dalam meningkatkan perekonomian masyarakat Jateng. “Ketika akses bagus, maka perekonomian akan semakin baik. Dan ini bisa mengurangi angka kemiskinan di Jateng,” tambahnya.

Aktifis Lingkungan Bintari Semarang, Amalia berharap dalam pembangunan jalan pemprov harus memperhatikan lingkungan sekitar. Ia mengaku cukup prihatin dengan pelebaran jalan yang kemudian menghilangkan pohon-pohon di samping kanan-kiri. Seperti yang terjadi di kawasan Banyumanik atau sepanjang jalan pantura Semarang. “Jika semua dibabat habis, ya akan merusak lingkungan. Karena sumber resapan berkurang,” tambahnya. (fth/zal)