PRIHATIN: Dari kiri : Kasi Pengembangan Seni Budaya TBJT, Suparman, Yoyok Bambang Priyambodo, Jarod B Darsono, dan ST Wiyono dalam diskusi ”Manajemen Sanggar Tari” di TBJT, kemarin. (istimewa )
PRIHATIN: Dari kiri : Kasi Pengembangan Seni Budaya TBJT, Suparman, Yoyok Bambang Priyambodo, Jarod B Darsono, dan ST Wiyono dalam diskusi ”Manajemen Sanggar Tari” di TBJT, kemarin. (istimewa )

SEMARANG – Nasib seniman tari di Jateng tergolong miris. Ketika pemerintah menggembar-gemborkan jargon nguri-uri budaya Jawa, para seniman justru terbengkalai. Mereka harus berjuang mati-matian demi mempertahankan sikap untuk menjaga seni yang mereka geluti. Bahkan kerap tekor agar bisa memberikan tontonan sekaligus tuntunan kepada penikmat seni tari.

Melihat fenomena itu, berbagai sanggar tari di Jateng menggelar diskusi ”Manajemen Sanggar Tari” di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), kemarin. Ajang silaturahmi itu didatangi beberapa pengasuh sanggar tari.

ST Wiyono, salah satu pemateri mengatakan, sanggar tari merupakan pilar membentuk karakter generasi muda. Karena itu, perlu adanya motivasi yang bagus yang diberikan tokoh-tokoh penari. Diperlukan juga langkah logis dalam mengatur sanggar tari agar tidak hanya menjadi sekedar sanggar tari dengan orientasi tanggapan saja.

”Forum ini akan menjadi sebuah gerakan. Tapi harus ada orang-orang dengan militansi tinggi dalam mengolahnya. Seperti pelaku atau pengasuh sanggar tari yang memiliki gairah dalam melestarikan tradisi di wilayahnya masing-masing,” jelasnya.

Dia mengaku, masih percaya kesenian merupakan salah satu aspek penting dalam mendukung kehidupan manusia. Jika anak kecil sudah dikenalkan dengan kesenian tari sejak dini, hal itu dapat membentuk karakternya secara baik.

Pengasuh Sanggar Greget Semarang, Yoyok Bambang Priyambodo menilai, diperlukan manajemen yang baik dalam mengelola sanggar tari. Itu merupakan syarat mutlak untuk mengetahui perkembangan sebuah sanggar tari. Menurutnya manajemen sanggar tari dalam kebutuhan pariwisata dapat menjadi sebuah industri yang bagus. ”Kami butuh orang yang tepat untuk mengelola sanggar tari. Dengan demikian penari dapat berlatih secara intens tanpa memikirkan tetek bengek lainnya,” ujarnya.

Meski begitu, Yoyok juga mengakui jika pariwisata belum tentu menjadi penunjang yang baik dalam kehidupan sanggar tari. Tapi hasrat dan sifat mengayomi sanggar tari ini yang akan menghasilkan generasi penerus yang mumpuni. ”Kami miskin tokoh, kami miskin generasi penerus,” imbuhnya.

Untuk itu, Penggagas Forum Silaturahmi dari Sanggar Taksu, Jarod B Darsono mengharapkan dari forum tersebut dapat menelurkan embrio forum jejaring bagi sanggar tari di Jateng. Tujuannya, agar para penari dapat menyatukan visi misi untuk lebih maju. (amh/ric/ce1)