Melongok Peringatan Hari Kartini di Pemkot Semarang

Wawali Jadi Pembina, Litani Jadi Komandan Upacara

294
EMANSIPASI WANITA: Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu saat menjadi pembina upacara Hari Kartini di Balai Kota. (kanan) Wawali membubuhkan tanda tangan usai menjadi talk show Semarak Kartini 2017 di Upgris. (ABDUL MUGHIS/ADENNYAR WYCAKSONO / JAWA POS RADAR SEMARANG)
EMANSIPASI WANITA: Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu saat menjadi pembina upacara Hari Kartini di Balai Kota. (kanan) Wawali membubuhkan tanda tangan usai menjadi talk show Semarak Kartini 2017 di Upgris. (ABDUL MUGHIS/ADENNYAR WYCAKSONO / JAWA POS RADAR SEMARANG)

Peringatan Hari Kartini selalu identik dengan busana tradisional. Hampir semua pegawai instansi negeri maupun swasta, termasuk siswa dan guru sehari kemarin mengenakan baju adat. Tak terkecuali jajaran Pemkot Semarang.

ABDUL MUGHIS

SAAT ini, tak sedikit kaum hawa yang menduduki jabatan penting di lingkungan Pemkot Semarang. Hal ini menjadi bukti bahwa peran emansipasi wanita cukup kuat dalam roda pemerintahan Wali Kota Hendrar Prihadi dan Wawali Hevearita Gunaryanti Rahayu. Tercatat ada delapan wanita memimpin Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Pemkot Semarang.

Sebut saja Susi Herawati (Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang), Ayu Entys Wahyu Lestari Endah (Asisten Administrasi Ekonomi Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretaris Daerah Kota Semarang), dan Agustin Lusin Dwimawati (Asisten Administrasi Umum Sekretaris Daerah Kota Semarang).

Selain itu, Litani Setyawati (Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Semarang), Masdiana Safitri (Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang), Wahyu Permata Rusdiana (Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang), Nurjanah (Kepala Dinas Perindustrian Kota Semarang), dan Sri Martini (Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kota Semarang). Jabatan Wakil Wali Kota Semarang juga dijabat seorang wanita, yakni Hevearita Gunaryanti Rahayu.

Jumat (21/4) kemarin, para pejabat wanita eselon 2 atau kepala dinas ini sengaja mendapat peran menjadi petugas upacara peringatan Hari Kartini ke-138 pada 21 April 2017 di halaman Balai Kota Semarang.  Para pejabat wanita itu menjadi petugas upacara dengan mengenakan kebaya, termasuk para peserta upacara. Sementara seluruh pejabat dan pegawai laki-laki hanya sebagai peserta di barisan bagian belakang.  Wawali menjadi pembina upacara. Sedangkan komandan upacara, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM, Litani Setiawati.

”Peringatan Hari Kartini kali ini memiliki makna mendalam. Karena tidak sebatas seremonial semata, tetapi banyak perempuan hebat yang saat ini berperan dalam pemerintahan,” kata Mbak Ita—sapaan wawali.

Tentu hal ini menjadi bukti bahwa emansipasi wanita di Kota Semarang cukup kuat. ”Saya mengucapkan selamat Hari Kartini bagi wanita-wanita hebat di Kota Semarang. Saya sendiri perempuan pertama yang jadi Wakil Wali Kota Semarang, tentunya memaknainya bagaimana bisa mendampingi perempuan-perempuan di Semarang untuk menjadi perempuan yang hebat,” ujarnya.

Meski begitu, kata Ita, banyaknya peran dan ruang yang melibatkan kaum hawa agar tidak kemudian lupa kodratnya sebagai ibu rumah tangga. ”Tapi juga punya sumbangsih bagi bangsa dan negara. Saat ini, saya melihat perempuan khususnya di Kota Semarang semakin memiliki banyak peran. Saya ingin mengiringi dan mendampingi perempuan-perempuan tersebut untuk menjadi perempuan yang hebat dalam berbagai program. Tapi tidak melupakan kodratnya,” ungkap dia.

Litani Setiawati mengatakan, peringatan Hari Kartini sudah semestinya menjadi perenungan sekaligus sebagai penggerak perempuan untuk mampu berkarya tanpa melupakan kodratnya. ”Jika tidak ada gerakan Kartini, mungkin banyak perempuan termasuk saya tidak bisa menjadi seorang pejabat seperti sekarang.  Jadi, semua menaruh rasa hormat dan berterima kasih,” katanya.

Sementara saat menjadi pembicara di talk show Semarak Kartini 2017 di Balairung Universitas PGRI Semarang, Mbak Ita meminta agar para mahasiswi bisa terus berjuang agar  sejajar dengan laki-laki secara fungsional, dengan memberikan kontribusi positif.

Menurut Mbak Ita, wanita harus bisa berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Artinya, wanita harus bisa diandalkan bekerja di beberapa bidang strategis dan mampu bersaing  dengan laki-laki. ”Ini sebagai pembuktian jika wanita bukan sekadar konco wingking saja, tentunya diilhami dari perjuangan RA. Kartini,” ujarnya. (*/dilengkapi adennyar wycaksono/aro/ce1)

Tinggalkan Komentar: