Ibu, Anak dan Keponakan Tewas Ditabrak KA

Kecelakaan Maut di Perlintasan tanpa Palang Pintu

360
TRAGIS: Jenazah salah satu korban tergeletak di tengah rel KA. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TRAGIS: Jenazah salah satu korban tergeletak di tengah rel KA. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG Kecelakaan maut kembali terjadi di perlintasan kereta api (KA) tanpa palang pintu di Kelurahan Tambakrejo, Gayamsari, Semarang, Jumat (21/4) sekitar pukul 09.15. Seorang ibu, anak dan keponakannya tewas seketika setelah sepeda motor yang dikendarai ditabrak KA Kalijaga jurusan Semarang-Solo. Korban tewas diketahui bernama Maslikah, 37, anaknya Andika, 5, serta keponakannya Reyhan Zufa, 7, yang masih duduk di kelas 1 SD. Saat kejadian, Maslikah yang tercatat warga Kampung Pondokan RT 1 RW 9 Kelurahan Tambakrejo, Gayamsari ini dalam perjalanan pulang usai menjemput Andika dan Reyhan dari sekolahnya.

Menurut kesaksian Wakidan, 51, Ketua RW 4 Tambakrejo, kecelakaan maut itu terjadi bermula saat korban Maslikah usai menjemput anak dan keponakannya dari sekolah. Saat itu, ia mengendarai motor Honda Beat bernopol H 4815 AS memboncengkan Andika dan Reyhan. Sampai di perlintasan KA rel ganda (double track) tanpa palang pintu di wilayah Tambakrejo RW 4, Maslikah menghentikan motornya karena sirene berbunyi pertanda akan ada kereta api melintas.

Setelah ditunggu sejenak, lanjut Wakidan, melintas kereta api barang dari arah Stasiun Alas Tua (selatan) ke arah Stasiun Tawang (utara) di rel ganda sebelah timur. Begitu KA melintas, korban langsung melanjutkan perjalanan. Dia mengira keadaan sudah aman, sehingga langsung tancap gas menyeberangi rel KA.

Nahas dialami ketiga korban. Begitu motor sampai di tengah rel sebelah barat, dari arah Stasiun Tawang (utara) meluncur KA Kalijaga jurusan Semarang-Solo. Tanpa mampu menghindar, motor korban langsung dihantam KA hingga terseret sejauh 300 meter. Motor baru itu pun remuk redam menjadi beberapa bagian. Bahkan KA Kalijaga sempat berhenti sebentar lantaran lajunya terhalang bangkai motor tersebut. Begitu motor dipindahkan, KA langsung melanjutkan perjalanan ke arah Solo. Sedangkan ketiga korban tercecer sejauh 10-50 meter dari lokasi kejadian. Ketiganya tewas dengan tubuh luka parah.

”Korban gak melihat ada kereta api dari arah Stasiun Tawang karena pandangannya terhalang dua mobil warga yang diparkir di samping rel itu. Korban langsung nyebrang, padahal sirene peringatan kereta melintas masih berbunyi,” terangnya.

Dikatakan, saat menyeberang itu, mesin motor korban sempat mati di tengah rel. Warga yang melihat, sempat mencoba menarik mundur motor korban. Namun KA Kalijaga sudah dekat berjarak sekitar 20 meter, sehingga korban tidak bisa diselamatkan.

Wakidan menyayangkan, perlintasan rel ganda itu tidak ada palang pintunya. Padahal mobilitas warga yang melewati perlintasan KA itu cukup tinggi. Selain itu, arus lalu lintas KA yang melintas juga sangat padat. Apalagi setelah dibangun rel ganda.

”Warga kampung sini jarang lewat jalur utama palang pintu Kaligawe karena harus memutar. Selain itu, kalau Kaligawe banjir, justru banyak pengendara motor yang lewat perlintasan KA tersebut. Saya sering usul ke PT KAI dibuat palang pintu, tapi ditolak. Bilangnya itu kewenangan Pemkot Semarang,” katanya.

Ia berharap Pemkot Semarang peduli dengan perlintasan tanpa palang pintu yang ada, terutama di wilayah Tambakrejo yang sering menimbulkan korban. Pihaknya juga selalu mengusulkan di setiap Musrenbang (Musyawarah Rencana Pembangunan), namun belum sampai membuahkan hasil.

Peristiwa kecelakaan kemarin langsung menyita perhatian warga. Ratusan warga berdatangan untuk melihat kondisi korban. Tim Inafis Polrestabes Semarang dan Polsek Gayamsari yang datang di lokasi langsung melakukan olah TKP. Selanjutnya ketiga jenazah korban dievakuasi ke RSUP dr Kariadi Semarang guna divisum.

Kapolsek Gayamsari Kompol Dedi Mulyadi menyayangkan terjadinya kecelakaan tersebut. Ia mengimbau pengguna jalan untuk lebih waspada ketika melalui perlintasan tanpa palang pintu. Ia juga meminta pemangku kepentingan terkait untuk memperhatikan titik rawan kecelakaan berkaitan dengan perlintasan tanpa palang pintu di Kota Semarang.

Kapolsek juga menyoroti sejumlah mobil gadai milik warga setempat yang diparkir di lahan kosong samping rel KA. Hal itu menyebabkan pandangan mata warga saat menyeberang perlintasan KA tertutup. Hal ini juga yang diduga menjadi penyebab korban tidak mengetahui adanya kereta yang lewat.

”Pertama kesadaran warga dan kewaspadaan penting.  Selain itu, banyak mobil terparkir di sisi rel kereta yang membuat pandangan pengendara saat hendak lewat tertutup. Itu mobil-mobil sebaiknya dipindah, ini jadi pelajaran,” ujarnya. (mg30/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here