Sehari, Cetak Upal Rp 20 Juta

Lolos saat Dicek Sinar Ultraviolet

344
MIRIP UANG ASLI: Tersangka Wiharto saat praktik mencetak uang palsu. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MIRIP UANG ASLI: Tersangka Wiharto saat praktik mencetak uang palsu. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Sindikat pengedar dan pencetak uang palsu (upal) berhasil digulung aparat Polrestabes Semarang. Mereka beranggotakan 4 orang yang melakukan pencetakan upal di sebuah rumah kontrakan di Karangroto, Genuk. Tak tanggung-tanggung, dalam sehari mereka mampu mencetak upal hingga Rp 20 juta menggunakan alat cetak sablon.

Keempat tersangka adalah Wiharto, 50, dan Bahri, 38, keduanya warga Mranggen, Demak. Dua tersangka ini berperan sebagai pencetak upal. Tersangka lainnya, Bernard Ronaldo Ramuri, 31, warga Jalan Sapta Marga IV, Krapyak, Semarang Barat, dan Elfi Suryani, 40, warga Tingkir, Salatiga. Dua tersangka ini merupakan pasangan kekasih yang berperan sebagai pengedar upal.

Mereka ditangkap di tempat terpisah dalam waktu yang berbeda. Tersangka Bernard dan Elfi dicokok petugas saat hendak mengedarkan upal di Pasar Bulu, Semarang Barat, Minggu (16/4) sekitar pukul 10.00 lalu.

Hasil pengembangan keduanya, polisi berhasil menangkap tersangka Wiharto dan Bahri saat keduanya sedang mencetak upal di sebuah rumah kontrakan di daerah Karangroto, Genuk, Senin (17/4) sekitar pukul 13.00.

Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Abiyoso Seno Aji, menjelaskan, saat ditangkap di Pasar Bulu, dari tangan tersangka Bernard dan Elfi disita  12 lembar upal pecahan Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu baru. Saat diperiksa polisi, keduanya mengaku sebagai kurir yang bertugas membelanjakan upal tersebut. Keduanya sengaja berbelanja di toko-toko kecil, dengan nilai di bawah Rp 50 ribu. Harapannya, setiap belanja, mereka mendapatkan kembalian uang asli.

”Saat kami interogasi, keduanya mengaku upal tersebut dibuat oleh rekannya yang mengontrak rumah di daerah Karangroto, Genuk. Tanpa membuang waktu, jajaran saya langsung melakukan penggerebekan di rumah tersebut hingga berhasil meringkus tersangka Wiharto dan Bahri yang sedang mencetak uang palsu,” bebernya.

Abiyoso mengatakan, uang palsu pecahaan Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu yang dibuat mirip dengan aslinya. Secara kasat mata, orang sulit membedakannya. Hebatnya lagi, lembaran kertas upal itu juga mampu menyala saat terkena sinar sensor ultraviolet (UV).

”Upal buatannya juga dilengkapi benang pengaman. Bisa diterawang dan menyala saat dicek dengan sinar ultraviolet. Jadi, sulit membedakan kalau tidak teliti sekali,” terangnya.

Dikatakan, upal yang dilengkapi dengan benang pengaman itu mempunyai tesktur sedikit kasar mirip aslinya. Selain itu, warna uang tidak mudah pudar dan luntur saat terkena air. Menurutnya, pembuatan upal yang dilakukan komplotan ini sangat rapi. ”Upal ini mendekati sempurna,” ujarnya.

Tersangka Wiharto mengaku, praktik pembuatan upal tersebut sudah dilakukannya selama dua tahun terakhir. Ia melakukannya setelah keluar menjalani hukuman penjara dalam kasus yang sama. Dalam sehari, ia mengaku mampu mencetak upal hingga puluhan juta rupiah.

”Dalam sehari saya bisa mencetak hingga Rp 20 juta uang palsu. Dulunya saya biasa nyablon kaus. Saya belajar otodidak,” katanya.

Setelah mencetak upal, tersangka merekrut Ronald dan Elfi untuk memasarkan uang tersebut. Modusnya, keduanya membelanjakan di toko-toko kecil maupun di pasar tradisional. ”Dibelanjakan di toko-toko kecil tidak lebih dari Rp 30 ribu. Hasil dari kembalian kita kumpulkan kemudian dibagi,” ungkapnya.

Selain itu, pelaku juga menjual uang palsu tersebut kepada orang-orang dengan harga yang sangat menggiurkan. Penjualan upal hasil karyanya dijual dengan perbandingan Rp 1,2 juta uang asli ditukar uang palsu Rp 5 juta dengan berbagai pecahan. Namun demikian, pelaku enggan menjelaskan nama pembeli tersebut. ”Pecahan uangnya ada yang Rp 50 ribu atau Rp 100 ribu. Ada uang keluaran baru dan ada uang keluaran lama,” katanya.

Tersangka Bernard dan Elfi mengaku menyesal dengan perbuatannya. Keduanya kini hanya bisa pasrah. Padahal dalam waktu dekat, keduanya akan menuju ke pelaminan. ”Rencana akhir bulan ini nikah, tapi malah ditangkap polisi,” ujar Bernard pasrah.

Kasat Reskrim Polrestabes Semarang AKBP Wiyono Eko Prasetyo mengatakan, hingga saat ini pihaknya masih melakukan pengembangan kasus peredaran upal tersebut. Diduga masih ada pihak lain yang terlibat. Para tersangka sendiri akan dijerat pasal 244 KUHP tentang uang palsu dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

Adapun barang bukti yang diamankan di antaranya, upal senilai Rp 600 juta. Rinciannya, Rp 200 juta upal yang sudah dipotong, dan Rp 400 juta upal dalam bentuk lembaran. Selain itu, polisi menyita uang asli hasil penjualan upal sebesar Rp 7.720.000, dan peralatan cetak upal, yakni dua alat sablon, printer, 7 scanner, satu buah laptop dan puluhan tinta berwarna dan belasan lampu ultraviolet (UV). Barang bukti tersebut disita dari rumah kontrakan tersangka Wiharto dan Bahri. (mha/aro/ce1)

Tinggalkan Komentar: