Sajikan Nasi Jagung Mirip di Desa

MASAKAN KLANGENAN: Sulastri sedang melayani pembeli nasi jagung dikedainya. (Ahmad zainudin/jawa pos radar kedu)
MASAKAN KLANGENAN: Sulastri sedang melayani pembeli nasi jagung dikedainya. (Ahmad zainudin/jawa pos radar kedu)

SULASTRI, pemilik Kedai Aprilia yang berlokasi di dekat jembatan Semagung, atau berhadap-hadapan dengan SMK Informatika, pantas disebut sebagai pekerja keras. Ia pernah dikenal sebagai pedagang barang antik yang sukses di era 1980-1990-an. Bahkan saking suksesnya, namanya sampai kondang sebagai kolektor barang antik asal Sirandu Wonosobo.

Namun, seiring berjalannya waktu, permintaan akan barang antik diakuinya terus meredup. Banyak pelaku usaha barang antik yang akhirnya pailit dan menutup usahanya. Namun tidak bagi Sulastri. Ia tetap bertahan sembari membaca peluang-peluang baru yang dirasa bakal menguntungkan.

Tepatnya 2016, ia membaca peluang usaha baru. “Permintaan makanan nasi selain beras makin tinggi karena alasan kesehatan,” jelasnya. Ia lantas membuka kedai Aprilia dengan menu andalan nasi jagung. Berkat kejeliannya itu, lagi-lagi ia berhasil membentuk pasar nasi jagung di Wonosobo.

Setahun berjalan, setiap hari sedikitnya 200 porsi sampai 250 porsi nasi jagung terjual di kedainya. Peminatnya cukup beragam. Mulai dari kalangan pejabat, karyawan kantor sampai warga yang menganggap nasi jagung sebagai klangenan. “Nasi jagung itu murah. Cuma proses pembuatannya sulit makanya lebih suka beli ketimbang harus buat sendiri,” katanya.

Nasi jagung, dikatakan dia, selain baik bagi pengidap diabetes juga kerap dijadikan sebagai tombo kangen bagi masyarakat desa yang sekarang sudah menetap di kota. “Makanya di kedai kami sengaja dibuat ubo rampe yang mirip sama penyajian nasi jagung di desa. Ada sayur, rese, dan sambal. Pokoknya lengkap,” katanya.

Tak bermaksud meninggalkan usaha lamanya, di setiap sudut kedai masih terpampang barang-barang antik. Sesekali ada yang laku dibeli pengunjung. Kalaupun belum laku, kata dia, barang-barang antik tetap memperindah ruangan.

Setting-an kedai kami memang dibikin hommy. Mirip di rumah berikut pernak perniknya. Makanya banyak pengunjung yang betah lama lama. Ada yang menggarap pekerjaan di sini. Ada yang sekedar ingin santai,” jelasnya. (cr2/ton)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here