Pengguna Medsos Harus Jaga Kewarasan

282

SEMARANG – Sebagian pengguna media sosial (medsos) boleh dibilang latah. Langsung meneruskan informasi atau berita yang diterima tanpa dikonfirmasi kebenarannya. Bahkan ada yang antusias ingin segera mem-posting informasi yang barusan didapat ke grup medsos.

Fenomena itu lantas dimanfaatkan penebar hoax untuk mengumbar fitnah yang kadang menyisipkan potensi untuk memecahkan keutuhan negara hingga memecah belah. Karena itu, budayawan sekaligus ulama, KH Mustofa Bisri meminta masyarakat untuk lebih cerdas dalam menyikapi informasi yang dibaca lewat medsos.

”Pengguna media sosial harus terus menjaga kewarasan, jangan sampai orang-orang tidak waras menguasai media sosial dan seolah menjadi sumber kebenaran, padahal tak waras,” kata pria yang akrab disapa Gus Mus ini dalam Sarasehan Nasional ’Melawan Hoax, Mengembalikan Jatidiri Bangsa, di Wisma Perdamaian Semarang, Kamis (20/4).

Gus Mus yang aktif di medos, terutama Twitter, mengingatkan agar semua kalangan memegang teguh jati diri. Pasalnya, jati diri merupakan persoalan kemampuan melakukan peran dalam kehidupan bermasyarakat. ”Ya seperti ini, ulama nggak perlu memimpin demo dan gubernur ya jangan wiridan terus. Gubernur perlu kerja untuk rakyat. Antara ulama dan pemerintah ada tugas masing-masing, nggak perlu berebutan,” ujarnya.

Gus Mus berharap para pemimpin dan pemilik kekuasaan mampu mengatasi kemungkaran. Kadang harus mengulurkan tangan untuk mengatasi kemungkaran. Polisi dan pemerintah jangan mengimbau karena mereka punya daya tekan. ”Mengimbau itu kewajiban ulama,” tegasnya.

Sementara itu, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo yang juga menjadi salah satu pembicara pada sarasehan tersebut, menilai pengguna medsos di Indonesia terkenal aktif. Sayangnya, sebagian besar dari mereka tidak punya literasi yang memadai untuk mengonfirmasi dan verifikasi mengenai kebenaran sebuah informasi.

Mereka juga malas mengonfirmasi. Malah lebih senang mendramatisasi keadaan lewat meme hingga seolah menjadi kebenaran. Padahal keadaan seperti itu harus dilawan agar hoax tidak merajalela dan perlawanan yang dimaksud bukan dalam arti kekerasan, melainkan memberikan edukasi kepada pengguna media sosial hingga mau menerima kebenaran. ”Memang butuh keberanian, suka tidak suka ada tantangan, namun jangan sampai hoax merajalela,” katanya. (amh/ric/ce1)

Tinggalkan Komentar: