MUI Tegaskan Tak Larang KB

287

SEMARANG – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng menegaskan tidak melarang program pemerintah yakni Keluarga Berencana (KB). Sebab, program KB dianggap berkaitan dengan pembangunan kemandirian masyarakat.

Keberhasilan program KB saat ini tidak bisa lepas dari dukungan para ulama. Hal itu dikatakan Sekretaris Fatwa MUI wilayah Jateng Fadlolan Musyaffa dalam acara Forum Koordinasi Kehumasan Program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga di Aston Hotel Semarang, Kamis (20/4). ”Mengatur penundaan anak itu tidak ada pertentangan dalam agama, artinya itu boleh,” ujarnya.

Fadlolan mengatakan, KB di sini bukan kemandulan yang permanen atau menjauhi karunia Allah atas anak yang diamanahkan pada pasangan suami istri. Hal itu perlu dijelaskan kepada masyarakat, khususnya kepada para ulama yang masih menganggap KB adalah haram. ”Karena ini kan tujuannya hanya untuk mengatur jarak, tidak membatasi atau bahkan menyetop. Dan itu pun demi kesehatan sang ibu dalam mengasuh anak,” ujarnya.

Untuk persoalan pemandulan permanen, Musyafa menegaskan, para ulama sudah sepakat tak ada yang memperbolehkan. Karena hal itu termasuk mengubah ciptaan Tuhan, apalagi sampai mengubah sistem jaringan untuk kelahiran.

Sedangkan diperbolehkannya mencegah kehamilan lanjutnya, bukanlah memutus kehamilan secara permanen, melainkan mengatur angka kelahiran maupun jarak kelahiran.

Ia juga mengatakan, KB merupakan usaha untuk mengendalikan laju populasi kelahiran agar masyarakat lebih ideal dan bisa bersaing dengan bangsa-bangsa lain.

Sementara, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jateng mencatat sebanyak 6,7 juta pasangan usia subur. Namun, hanya 5,2 juta saja yang telah mengikuti program KB.

Kepala BKKBN Jateng Wagino mengatakan hingga Maret 2017 pasangan yang mengikuti program KB mencapai 7,2 persen. Sedangkan pihaknya menargetkan capaian 600 ribu peserta baru hingga akhir 2017 mendatang. ”Sejumlah 5,2 juta atau 65 persen yang mengikuti KB terhitung baik, bahkan lebih tinggi dibanding rata-rata nasional sejumlah 61 persen,” bebernya. (tsa/ric/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here