Lebih Dekat dengan Produsen Bumbu Instan Mbok Jo

Lebih Praktis, Semua Orang Jadi Bisa Memasak

1563
Penerus generasi- Sriyani dan Yuhrianti menunjukan produk racikan bumbu Mbok Jo. (SUMALI IBNU CHAMID/ JAWA POS RADAR KEDU)
Penerus generasi- Sriyani dan Yuhrianti menunjukan produk racikan bumbu Mbok Jo. (SUMALI IBNU CHAMID/ JAWA POS RADAR KEDU)

Bu Pramujo atau dikenal dengan Mbok Jo, warga Dusun Pencil, Desa Medono Kecamatan Kaliwiro sudah lama dikenal sebagai peramu bumbu masakan lokal. Kini bisnis tersebut diteruskan oleh anak dan cucunya. Segmen Pasar kian luas, bahkan mampu berdayakan ibu rumah tangga. Seperti apa?

Sumali Ibnu Chamid, Wonosobo

Sriyani dan Yuhrianti kemarin tampak sibuk melayani para pembeli. Di halaman Sasana Adipura Wonosobo, mereka menjajakan ratusan cup berisi racikan bumbu dapur. Label pada cup tersebut bermerek Mbok Jo. Mbok Jo merupakan panggilan Bu Pramujo yang tak lain orang tua mereka.

Mbok Jo sudah dikenal di wilayah Wonosobo sebagai peracik bumbu dapur. Produk biasanya dipasarkan di berbagai pasar tradisional. Bahkan berkat bisnis ini, Mbok Jo mampu membesarkan anak-anaknya. Pemilihan bisnis ini, dilakukan Mbok Jo karena melihat mudahnya mengakses berbagai bahan baku bumbu di Wonosobo.

“Di Wonosobo semua bahan bumbu dapur ada dan ditanam sama petani, kecuali garam tidak ada karena pegunungan,” kata Sriyani yang akrab disapa Bunda Ani.

Sejak dulu Mbok Jo memasarkan ke pasar-pasar, namun kemasan dibungkus plastik biasa. Saat ini, oleh Ani dan Yuhrianti, racikan bumbu dapur dikemas lebih menarik. Menggunakan cup yang lebih praktis. Selain memenuhi pasar tradisional, saat ini bumbu tersebut laku di berbagai daerah.

“Pembeli kami ada yang dari Kalimantan, Pontianak, Makassar dan berbagai wilayah lain. Kami gunakan pemasaran melalui berbagai media sosial,” ujarnya.

Produknya, klaim Ani, dikemas secara alami tanpa bahan pengawet. Meski begitu, racikan barang bisa bertahan sampai 8 bulan. Produk mereka juga sudah lolos dan mendapatkan nomor Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT). “Kami juga siap memasok produk kami ke sejumlah toko oleh-oleh,” katanya.

Ani menjelaskan, produknya tergolong efektif. Karena bagi yang suka memasak tidak perlu repot. Misalnya ingin membuat tempe bacem, tempe kemul, soto, memasak ikan atau ayam, cukup campurkan bumbu sesuai takaran. Setiap cup berisi 120 gram bumbu yang cukup untuk membuat 50 mangkuk soto. Harga satu kemasan cukup Rp 5 ribu.

“Melalui bumbu ini, semua orang bisa memasak. Kami juga akan berikan resep memasak makanan rumahan pada produk kami,” katanya.

Yuhrianti menambahkan, setiap bulan rata-rata ia mampu memroduksi 2.500 cup. Usaha ini tidak hanya dikelola keluarga, namun mampu memberdayakan ibu rumah tangga di kampungnya. “Yang mengerjakan kami libatkan ibu rumah tangga juga banyak, umumnya tetangga kami,” katanya.

Tidak hanya itu, kata Yuhrianti, produknya juga mendongkrak hasil petani jadi laku dipasarkan. Karena selama ini pemasaran produk pertanian seperti jahe, kunir, bawang merah, bawang putih dan berbagai hasil pertanian sering tidak stabil. “Petani banyak yang mengantarkan hasil panennya langsung ke kami, karena harganya stabil,” jelasnya. (ali/sct/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here