Anggap Perkara Direkayasa

MENGHARUKAN: Erlina Iswahyuni terus menangis di pelukan keluarganya, saat menjalani sidang di PN Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MENGHARUKAN: Erlina Iswahyuni terus menangis di pelukan keluarganya, saat menjalani sidang di PN Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Terdakwa Erlina Iswahyuni terus menangis di pelukan kerabat dekatnya, usai menjalani sidang beragendakan dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Semarang sekaligus eksepsi (keberatan) dari tujuh tim kuasa hukumnya di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Kamis (20/4).

Erlina dijebloskan ke penjara atas kasus dugaan penggelapan uang PT Majati Furniture, dengan kerugian sekitar Rp 23,5 juta. Namun demikian, dalam perkara itu juga diduga ada kesalahan prosedur dalam penangkapan maupun penahanan yang dilakukan Polsek Genuk Semarang dan Kejari Kota Semarang.

Selama proses sidang berlangsung Erlina yang merupakan warga Jalan Pucang Adi IV, Kelurahan Batursari, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, tersebut tampak terlihat tegar, namun begitu usai sidang air matanya terus bercucuran, terdakwa yang mengenakan jilbab dan baju putih serta celana hitam, secara spontan langsung memeluk seorang wanita mengenakan kaus bergaris yang terlihat seperti kerabat dekatnya.

Aksi pelukan tersebut berlangsung sekitar 10 menit, hingga akhirnya jaksa menggiring kembali ke ruang tahanan PN Semarang. Akan tetapi cucuran air mata terus berderai sampai memasuki ruang tahanan yang terletak di dekat masjid PN Semarang.

Dalam persidangan tersebut, JPU Kejari Kota Semarang, Yossi Budi mendakwa Erlina Iswahyuni dengan Pasal 372 KUHP tentang pengelapan. Namun dalam eksepsinya (keberatan) yang dibacakan ketua tim kuasa hukum Erlina, Theodorus Yosep Parera mengurai 4 sub bagian, yang dijadikan dasar bahwa prosedur yang digunakan penyidik dan penuntut umum dalam menjerat terdakwa kurang tepat. Bahkan condong perkaran direkayasa.

Dia menyebutkan, jika kliennya ditangkap kali pertama pada 30 November 2016 lalu, dengan tuduhan melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud Pasal 374 KUHP dan kemudian diperiksa sebagai tersangka pada 1 Desember 2016.

Namun setelah itu, lanjut Yosep, kliennya justru disuruh pulang. Tiba-tiba ditangkap dan ditahan pada 2 Desember 2016 lalu. Pihaknya sempat mendatangi penyidik kepolisian untuk menanyakan alat bukti penetapan kliennya sebagai tersangka dan ditahan, namun penyidik tidak dapat menunjukkan alat bukti yang sah.

Yosep juga mengatakan, pada 6 April 2017 kliennya kembali ditangkap berdasarkan surat keterangan penyidik kepolisian dan langsung diserahkan kepada penuntut umum Kejari Kota Semarang, untuk selanjutnya dilakukan penahanan lagi.

”Padahal terdakwa belum pernah dipanggil maupun diperiksa sebagai tersangka dalam kasus dugaan penggelapan yang dilaporkan manajemen PT Majati Furniture,” kata Yosep di hadapan majelis hakim yang dipimpin, Siyoto. Pihaknya juga meminta penangguhan penahanan.

Mendengar dakwaan dan eksepsi tersebut, ketua majelis hakim, Siyoto menyatakan penangguhan penahanan tersebut belum bisa diputuskan. Majelis memastikan nantinya akan menimbang-nimbang, apakah dikabulkan, nanti akan dibahas lebih dulu bersama majelis anggota. ”Sementara terdakwa biar tetap di dalam tahanan, semog‎a tetap dalam keadaan sehat selalu. Sidang ditunda Senin mendatang (2 minggu lagi),” kata hakim Siyoto menutup sidang. (jks/zal/ce1)

2 KOMENTAR

  1. Luar biasa sekali prosedur hukum indonesia ini. Tanpa penetapan dan penyidikan sebagai tersangka langsung d perkarakan ke pengadilan.
    Mkin perlu penyekolahan terhadap aparat penyidik.

  2. Ada apa ini dengan oknum penyidik kepolisian dan kapolseknya?dan ada apa jg dengan jaksa penuntut umum,kasipidum dan kajari semarang?tolong bapak Kapolri dan bapak Jaksa Agung menindak oknum2nya yg seperti ini agar tidak merusak image dan nama baik institusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here