Orangtualogy Ajak Anak Berkelana di Dunia Kuman

383
PENASARAN: Sejumlah anak saat ikut membuat media tumbuh kuman melalui kentang. (IST)
PENASARAN: Sejumlah anak saat ikut membuat media tumbuh kuman melalui kentang. (IST)

ANAK usia dini sangat ingin tahu tentang dunia sekitarnya. Itu juga yang dirasakan anak-anak ketika kita sebagai orang tua mengingatkan mereka untuk mandi, cuci tangan, gosok gigi, dan kegiatan bersih-bersih lainnya untuk menghindarkan mereka dari kuman.

”Kuman itu apa sih Bu?”, ”memangnya kuman jahat?” dan berbagai pertanyaan polos lainnya pun tak urung mereka lontarkan.

Hal itulah yang membuat Komunitas Orangtualogy kembali menggelar Playdate bertajuk ”Little Scientist: Berkelana di Dunia Kuman” di Taman Tirto Agung Banyumanik, Minggu (16/4).

Yang menarik, salah satu komunitas parenting di Kota Semarang ini menggaet Komunitas Gerobak Batja untuk berkolaborasi. Gerobak Batja merupakan gerakan sosial yang menyediakan perpustakaan terbuka bagi warga Semarang.

Dalam kesempatan itu Gerobak Batja mengisi sesi telling story tentang kuman sebagai pengantar yang kemudian dilanjutkan dengan sesi workshop melihat lebih dekat kuman-kuman oleh Dosen Bio Kimia UIN Walisongo, Anita Fibonacci.

Dalam workshop tersebut, fasilitator mengajarkan bagaimana cara membuat media tumbuh kuman dari bahan-bahan yang ada di dapur. Salah satunya adalah kentang yang dikupas lalu direbus untuk dijadikan kaldu kentang. Inilah yang dijadikan media tempat mengembangbiakkan kuman.

Anita Fibonacci menjelaskan bahwa Media APDA (Acidified Potato Dextrose Agar) tersebut merupakan jenis media biakan yang memiliki bentuk atau konsistensi padat. Potato extract dan  dextrose merupakan sumber nutrisi bagi biakan, sedangkan agar-agar merupakan media tempat tumbuh bagi biakan yang baik karena mengandung cukup air.

”Kita cukup mencampurkan bahan penumbuh khusus seperti agar-agar, kentang, gula, sedikit sitrun dan membiarkannya menjadi padat.  Kemudian kita tinggal mengoleskan sumber bakteri dari handphone, remot TV, kaki, uang kertas, wastafel yang ingin kita identifikasi. Setelahnya kita tinggal amati sesuatu yang tumbuh dalam media tersebut,” jelasnya.

Setelah mengupas dan memotong-motong kentang dengan bantuan orang tua masing-masing, anak-anak lalu memasukkan potongan kentang mereka untuk direbus, bersama agar-agar, gula, dan sitrun yang kemudian diberikan sampel kuman dari pinggiran wastafel dan ujung kuku yang kotor.

Anak-anak dengan rentang usia 3-7 tahun it upun merasa penasaran dan berhamburan ke depan untuk melihat seperti apa bentuk kuman di media yang sudah jadi dengan bantuan kaca pembesar. Dengan mata berbinar-binar anak-anak pun mengamati dan membedakan media yang berkuman dan tidak. Tak sedikit pula anak-anak yang bertanya kepada narasumber.

”Anak-anak terlihat sangat antusias, sepertinya saya bakal ketagihan ikutan playdate semacam ini dan gak sabar ikut acara serupa di bulan depan,” ujar Dewie Nu, salah satu member. (*/zal/ce1)

Tinggalkan Komentar: