33 C
Semarang
Senin, 10 Agustus 2020

HPP Rendah, Petani Tolak Diserap Bulog

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

BATANG – Rendahnya Harga Pembelian Pemerintah (HPP) dibanding harga pasar membuat petani di Kabupaten Batang menolak beras hasil panennya diserap Badan Urusan Logistik (Bulog). Hal tersebut membuat pasokan beras di Gudang Bulog 606 Kandeman Batang semakin menipis.

“Kami terus terang hingga sekarang masih kesulitan dalam menyerap beras petani lokal. Bukannya tidak ada beras, namun harga belinya yang tidak sesuai, sehingga mereka memilih menjual kepada distributor beras,” jelas Kepala Gudang Bulog 606 Kandeman Batang, Sutarno, Rabu (19/4). Dia menemui para petani di Dukuh Pong Pong, Desa Siwatu, Kecamatan Wonotunggal. Kabupaten Batang.

Saat ini, HPP beras berkisar Rp 7.300 per kilogram. Sedangkan untuk gabah kering giling dihargai Rp 4.600 dan gabah kering sawah Rp 3.750 per kilogram. Namun, kata Tarno, harga di luar Bulog kini lebih mahal dari harga yang dipatok pemerintah.

Di pasaran, harga beras rata-rata dihargai Rp 8.200. Harga tersebut juga diiringi dengan harga gabah. Sehingga petani memilih harga pasar. Terlebih saat ini, musim panen sudah mulai habis dan bergeser ke persiapan musim tanam kembali.

Dengan kondisi tersebut, stok serapan 2016 hanya bisa sampai pertengahan tahun. Karena triwulan 2017, baru dapat 15 persen dari target. Padahal harus bisa mengumpulkan 12 ribu ton pada awal tahun ini.

“Kami susah berusaha maksimal dalam penyerapan beras petani. Hampir 80 persen lokasi lumbung padi sudah dirambah, namun masalah kembali pada harga. Kalau pun dipaksakan, akan terjadi hukum ada harga ada rupa (dapat kualitas jelek),” jelasnya.

Kurangnya daya serap beras petani, beruntung sedikit terbantu dengan berkurangnya jatah penerima Raskin di Kabupaten Batang. Dari sebelumnya 59.046 warga kini turun menjadi 53.141 warga penerima raskin. Sehingga jumlah beras yang dikeluarkan juga berkurang, dari sebelumnya 885.690 sekarang hanya 797.118 atau turun hampir 80 ton.

Keluhan Perum Bulog juga diamini salah satu petani, serta pemilik Rice Mill di Dukuh Pong Pong, Desa Siwatu, Kecamatan Wonotunggal, Purbo. Para petani sepertinya mengakui mengikuti harga pasar dalam menjual berasnya.

“Saat ini, harga pasaran beras sudah Rp 8.200 keatas. Kalau dibeli Bulog, tentu tidak pas harganya karena selisihnya banyak,” ujarnya.

Namun tidak menutup kemungkinan, ke depannya bisa kerjasama dengan Bulog. Dengan sistem yang tepat dan saling menguntungkan, karena biaya produksi petani juga besar, dari tanam hingga penggilingan padi. (han/ric)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Sudah Memproses 4 Perusahaan

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Sesuai UU Ketenagakerjaan, Tunjangan Hari Raya (THR) diberikan paling lambat H-7 Lebaran atau Jumat (8/6) ini. Untuk memastikan tidak ada pengusaha yang melanggar...

Antusias Ikuti Deteksi Dini Kanker

MUNGKID – Ratusan warga Magelang antusias mengikuti deteksi dini kanker leher rahim (serviks) dan kanker payudara yang diselenggarakan Rumah Sakit ‘Aisyiyah Muntilan (RSAM), Kabupaten...

Membentuk Karakter Diri Ala Gus Dur

RADARSEMARANG.COM - SEBAGAI Guru Bangsa, KH Abdurrahman Wahid  (Gus Dur) pernah berpendapat pendidikan Nasional telah mengabaikan aspek moralitas dalam penyelenggaraannya. Akibatnya adalah, lahirnya generasi...

Tumbuhkan Kesadaran Hukum Melalui Gerbang Sekolah

RADARSEMARANG.COM - HAMPIR setiap hari kita mendapat informasi mengenai pelanggaran hukum, baik di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat maupun bangsa dan negara. Pelanggaran hukum merupakan...

Desak Guru Cabul Ditahan

“Makanya kami datang kesini (Mapolrestabes) untuk mengetahui, sejauh mana penyelidikan yang dilakukan oleh petugas. Kami harapkan untuk pelaku ini segera ditahan, dan jangan dibiarkan...

Jika Aplikatif, Gubernur Siap Beli Jaring Apollo

PEKALONGAN–Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo mendorong para kreator dan inovator untuk diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Sehingga hasil kreasinya, tidak hanya menjadi prototipe untuk memenuhi perpustakan...