HPP Rendah, Petani Tolak Diserap Bulog

1795
KESULITAN SERAP BERAS : Kepala Gudang Bulog 606 Kandeman Batang saat mengecek gabah hasil panen petani Wonotunggal di salah satu Ricemill, bersama anggota Sergap Beras dari Kodim Batang. (Lutfi Hanafi /Jawa Pos Radar Semarang)
KESULITAN SERAP BERAS : Kepala Gudang Bulog 606 Kandeman Batang saat mengecek gabah hasil panen petani Wonotunggal di salah satu Ricemill, bersama anggota Sergap Beras dari Kodim Batang. (Lutfi Hanafi /Jawa Pos Radar Semarang)

BATANG – Rendahnya Harga Pembelian Pemerintah (HPP) dibanding harga pasar membuat petani di Kabupaten Batang menolak beras hasil panennya diserap Badan Urusan Logistik (Bulog). Hal tersebut membuat pasokan beras di Gudang Bulog 606 Kandeman Batang semakin menipis.

“Kami terus terang hingga sekarang masih kesulitan dalam menyerap beras petani lokal. Bukannya tidak ada beras, namun harga belinya yang tidak sesuai, sehingga mereka memilih menjual kepada distributor beras,” jelas Kepala Gudang Bulog 606 Kandeman Batang, Sutarno, Rabu (19/4). Dia menemui para petani di Dukuh Pong Pong, Desa Siwatu, Kecamatan Wonotunggal. Kabupaten Batang.

Saat ini, HPP beras berkisar Rp 7.300 per kilogram. Sedangkan untuk gabah kering giling dihargai Rp 4.600 dan gabah kering sawah Rp 3.750 per kilogram. Namun, kata Tarno, harga di luar Bulog kini lebih mahal dari harga yang dipatok pemerintah.

Di pasaran, harga beras rata-rata dihargai Rp 8.200. Harga tersebut juga diiringi dengan harga gabah. Sehingga petani memilih harga pasar. Terlebih saat ini, musim panen sudah mulai habis dan bergeser ke persiapan musim tanam kembali.

Dengan kondisi tersebut, stok serapan 2016 hanya bisa sampai pertengahan tahun. Karena triwulan 2017, baru dapat 15 persen dari target. Padahal harus bisa mengumpulkan 12 ribu ton pada awal tahun ini.

“Kami susah berusaha maksimal dalam penyerapan beras petani. Hampir 80 persen lokasi lumbung padi sudah dirambah, namun masalah kembali pada harga. Kalau pun dipaksakan, akan terjadi hukum ada harga ada rupa (dapat kualitas jelek),” jelasnya.

Kurangnya daya serap beras petani, beruntung sedikit terbantu dengan berkurangnya jatah penerima Raskin di Kabupaten Batang. Dari sebelumnya 59.046 warga kini turun menjadi 53.141 warga penerima raskin. Sehingga jumlah beras yang dikeluarkan juga berkurang, dari sebelumnya 885.690 sekarang hanya 797.118 atau turun hampir 80 ton.

Keluhan Perum Bulog juga diamini salah satu petani, serta pemilik Rice Mill di Dukuh Pong Pong, Desa Siwatu, Kecamatan Wonotunggal, Purbo. Para petani sepertinya mengakui mengikuti harga pasar dalam menjual berasnya.

“Saat ini, harga pasaran beras sudah Rp 8.200 keatas. Kalau dibeli Bulog, tentu tidak pas harganya karena selisihnya banyak,” ujarnya.

Namun tidak menutup kemungkinan, ke depannya bisa kerjasama dengan Bulog. Dengan sistem yang tepat dan saling menguntungkan, karena biaya produksi petani juga besar, dari tanam hingga penggilingan padi. (han/ric)

Tinggalkan Komentar: